Hidayatullah.com—Lebih dari 200 ISIS tewas di arah barat daya Tal Afar, yang ditangani oleh Pasukan Anti Terorisme Angkatan Darat, Komando Operasi Gabungan (JOC) mengumumkan.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Ahad, JOC mengatakan 217 anggota ISIS dan delapan penembak jitu (sniper) terluka, dua puluh satu kendaraan hancur, kutip iraqinews.com, Senin (27/08/2017).
105 bahan peledak dan lima belas bom rumah dijinakkan. Beberapa senjata, perangkat telekomunikasi dan kendaraan disita.
Sebelumnya pada hari itu, media militer mengatakan tentara pemerintah dan pasukan paramiliter sekutu telah merebut kembali kendali penuh atas kota tersebut dalam serangan tujuh hari setelah PM Iraq Haidar al-Abadi mengumumkan dalam sebuah pidato di televisi pada tanggal 20 Agustus awal operasi gabungan untuk mengambil alih Kota Tal Afar, yang sebelumnya dikuasai ISIS sejak tahun 2014, ketika kelompok ini pertama kali muncul untuk memproklamasikan ‘kekhalifahan’, Daulah Islamiyah fi Iraq wa Syam (DAESH).
Baca: Iraq: Kami Tidak Butuh Pasukan Asing Untuk Perangi ISIS
Brig. Jend. Yehia Rasool, jurubicara JOC, mengatakan dalam sambutannya pekan lalu, sampai dengan tahun 2000 kelompok ini diyakini berada di Tal Afar.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan lebih dari 30.000 orang mengungsi karena operasi ini.
Setelah Tal Afar, daerah kantong terakhir kelompok tersebut berada di Provinsi Nineveh. Beberapa tempat tinggal yang tersisa adalah Kirkuk, Anbar dan Shalahuddin, dimana pemerintah Iraq diharapkan melakukan serangan pembebasan.
Pada Ahad, pemerintah Iraq meluncurkan operasi gabungan untuk merebut Kota Tal Afar, yang melibatkan pasukan angkatan darat, unit polisi federal, pasukan kontra-terorisme, dan Pasukan Mobilisasi Populer/ (PMFs) atau Hashd al-Shaabi yang dipersenjatai pemerintah. Hashd al-Shaabi adalah pasukan sipil Syiah yang bergabung dengan tentara Iraq tahun lalu dan ikut mendung rezim Bashar al Assad mengirim pasukan Syiah ke Suriah.
Ditanya tentang keterlibatan Prancis dalam operasi militer merebut Tal Afar, al-Jaafari berkata: “Prancis menyediakan logistik dan dukungan angkatan udara dalam memerangi Daesh.
“Kami meminta kerja sama antara Iraq dengan Prancis, dan negara-negara lain, untuk menghalangi organisasi Daesh melarikan diri dan tidak membiarkan mereka melakukan operasi militer di negara lain,” tambahnya sebagaimana dikutip Anadolu.
Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly memberikan selamat kepada pemerintahan Iraq untuk “komitmen mereka berperang melawan Daesh,” dan memuji “kemenangan besar mereka di Mosul.”*