Perhelatan Paralimpiade 2020 menjadi ajang bagi Muslim untuk unjuk gigi, dari 180 atlet Muslim, 154 diantaranya meraih medali
Hidayatullah.com — Pada Paralimpiade 2020 yang baru-baru ini digelar di Tokyo, sekitar 1.668 medali diperebutkan dalam kompetisi internasional itu. Diperkirakan 180 atlet Muslim – 135 muslim dan 45 muslimah – memenangkan 154 medali, yang merupakan 9,2% dari pemenang keseluruhan Paralimpiade Tokyo.
Dari semua negara mayoritas Muslim, negara Iran memiliki jumlah medali tertinggi dengan 24 medali. Sembilan dari penghargaan – tiga emas dan enam perak – disumbang dari cabang lempar lembing dan tolak peluru. Cabang powerlifting ikut menyumbang lima medali.
Pemanah Iran, Zahra Nemati, mencetak 10 sempurna dalam Paralimpiade itu sehingga memenangkan emas individu ketiganya secara berturut-turut. Dia menjadi pemanah kedua dalam sejarah, setelah Paola Fantato dari Italia, yang memenangkan medali emas di tiga edisi Paralimpiade yang berbeda.
Nemati terus mencetak sejarah sejak menjadi wanita pertama dari Iran yang memenangkan medali emas di Paralimpiade pada 2012.
Diantara negara Muslim, Azerbaijan menjadi negara dengan jumlah medali emas terbanyak, 14 medali. Negara ini mengumpulkan total 19 medali, mengalahkan peraihan medali pada Paralimpiade London 2012 dengan 4 medali emas dan 12 medali.
Sementara Abdulrahman Abdulqadir Fiqi dari Qatar menjadi satu-satunya peraih medali negaranya, memenangkan medali perunggu pada cabang tolak peluru putra.
Sedangkan Aljazair menjadi negara Afrika paling sukses di Paralimpiade, setelah meraih 12 medali (10 dari cabang atletik, 1 dari cabang judo dan powerlifting).
Di tim Inggris Raya, Ayaz Bhuta menjadi satu-satunya Muslim yang meraih medali. Ia memimpin timnya mengalahkan juara cabang rugby kursi roda tiga kali, Amerika Serikat.*