Sambungan dari tulisan pertama
Hidayatullah.com– Satu Bulan Khusus untuk Ibadah
Ini cerita menarik lainnya tentang Ramadhan di kota tempat tinggal saya, Sidney, Australia. Salah satu Toko Man’ush (pizza) langganan kami di Greenacre, tutup selama bulan Ramadhan. Masya Allah, saya benar-benar salut dengan pemilik toko ini.
Walaupun tokonya tutup, pemiliknya harus tetap membayar sewa toko yang tidak murah. Harga sewa toko di daerah ini sekitar 403.16 Australia Dollar (AUD) atau sekitar Rp 4 juta per minggunya. Berarti selama sebulan Ramadhan ia membayar sewa lebih dari Rp 16 juta.
Alasannya luar biasa, sang pemilik toko yang juga penganut Islam itu ingin fokus ibadah selama Ramadhan. Mereka tidak ingin waktu yang hanya satu bulan ini tersia-siakan. Secara duniawi mungkin terlihat “rugi”, tapi bagi mereka keutamaan Ramadhan tidak bisa dinilai dengan materi.
Bukan tahun ini saja toko tersebut tutup. Mereka istiqamah melakukannya setiap Ramadhan datang. Padahal toko ini berada di kawasan minoritas Muslim, yang tidak mengharuskannya tutup selama Ramadhan.
Sebenarnya sih mereka memang tidak rugi. Jika dihitung, cukup rasanya 11 bulan untuk dunia (dengan membuka toko) dan 1 bulan untuk Allah dengan beribadah Ramadhan. Selama 11 bulan itu pun, toko ini selalu ramai. Sebelum jam 2 siang, dagangannya sudah habis terjual.

Bukan toko pizza itu saja yang membuat Greenacre menjadi terlihat begitu menarik hati kaum Muslimin setempat. Di wilayah ini juga terdapat sekolah Muslim, Al-Noori Muslim School yang menampung hampir 1.000 pelajar Muslim dari jenjang TK-SMA.
Masih di area yang berdekatan, terdapat Al-Hafidz Qur’an Institute. Institut penghafal al-Qur’an ini memiliki ratusan murid yang berasal dari Arab, Pakistan, Bangladesh, Indonesia, serta beberapa negara lain.
Lakemba, Miniatur Kota Muslim
Salah satu daerah di Sidney yang sangat kental dengan suasana Islami adalah Lakemba. Daerah ini menjadi sasaran para warga Muslim untuk berbelanja. Apalagi ketika hari Jumat dan akhir pekan, dapat dipastikan daerah ini menjadi sangat ramai dengan hilir mudik manusia.
Lakemba sangat berkesan, dimanapun kita berjalan. Baik di pusat perbelanjaannya maupun di wilayah sekitarnya, akan senantiasa kita temui kaum Muslimin dan Muslimah berjalan dengan aman dan tenang.
Atribut keislaman terlihat jelas di sini. Tampak sebagian ibu-ibu yang memakai jilbab panjang dan bahkan bercadar. Di sini juga lah, kaum Muslimin diterima dengan baik. Mayoritas penduduk Muslim Sidney bermukim di sini.
Di Lakemba terdapat pusat kebutuhan kaum Muslimin, dari makanan, daging, buku-buku Islami sampai pakaian. Bahkan Lakemba tetap ramai ketika menjelang malam, karena khusus di bulan Ramadhan, diadakan festival Bazar Ramadhan.
Pemerintah daerah tersebut memberikan jam izin kepada toko untuk membuka dagangannya sampai pukul 03.00 pagi. Hal itu membuat Bazar Ramadhan bertambah semarak, karena pemerintah daerahnya juga memberikan dukungan bagi kaum Muslimin setempat.
Vendor-vendor makanan tersaji di pinggir jalan Lakemba. Mulai dari makanan Timur Tengah, India, dan beberapa negara lainnya.
Hari Jumat menjadi magnet tersendiri di Lakemba. Yah, karena hari itulah kaum Muslimin memadati kota ini untuk melaksanakan shalat Jumat di Masjid Ali bin Abi Thalib.
Lakemba menjadi macet dan padat, penuh dengan jamaah. Apalagi ketika selesai shalat Jumat, semakin ramai jamaah yang berbelanja di pusat kota. Saya pun terkadang harus menunggu hingga mereka bubar, supaya tidak bercampur baur dengan jamaah pria.
Alhamdulillah, Ramadhan di Sidney begitu berkesan. Meskipun kadang ketika musim panas, kita agak payah berpuasa karena siang lebih panjang daripada malamnya. Semoga Allah Subhanahu Wata’ala menerima ibadah kita di bulan Ramadhan 1437 ini.* Ummu Raihanah, sebagaimana diceritakan kepada Febryan Wardana untuk hidayatullah.com