RAMADHAN tahun 1438 H menjadi bulan puasa yang begitu menantang bagi bujang yang satu ini, Muhammad Yusri Romadhon Al-Zamy.
Azzam, sapaannya, yang sekarang baru berusia 20 tahun, pada bulan Ramadhan tahun lalu berkesempatan mencicipi ibadah Ramadhan di Jepang.
Ia diundang ke negeri Sakura itu untuk menjadi imam shalat selama Ramadhan atas sponsor Masjid Otsuka, Tokyo. Tapi ia ditempatkan di Masjid Hitachi.
“Yang paling berkesan di Jepang (saat) puasa… ‘Rasa puasa’ Indonesia dan ‘rasa puasa’ di Jepang, itu yang beda,” tutur pria asal Jember, Jawa Timur, ini saat bercerita kepada hidayatullah.com di sela-sela beriktikaf Ramadhan 1439 H, Juni 2018, di Masjid Ar-Riyadh, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.
Baca: Tantangan Komplit Ramadhan di Mesir: Puasa, Panas, Ujian
Di Indonesia, suasana Ramadhan benar-benar hidup. “Di Jepang sepi,” imbuhnya membandingkan.
Namanya negara minoritas Muslim, ia memaklumi keadaan. Misalnya, betapa sedikitnya jamaah shalat wajib maupun shalat tarawih di tempatnya jadi imam. Sebenarnya banyak umat Islam di Jepang, khususnya di Tokyo. “Tapi (tinggalnya) jauh dari masjid.”
Shalat tarawih di Masjid Hitachi diikuti paling banyak 10-15 orang tiap malamnya. Sedangkan saat shalat wajib rawatib lima hari sekali, “(Ada) 5 orang sudah untung,” ucap Azzam yang datang ke Jepang beberapa waktu sebelum Ramadhan 1438 H.
Bahkan, kalau pada waktu subuh ada 1 orang saja yang menjadi makmumnya, “Sudah luar biasa,” tutur santri penghafal 30 juz al-Qur’an ini.
Menurut Azzam, kondisi “sepinya Ramadhan” di tempat tersebut disebabkan beberapa faktor. Antara lain, misalnya, karena mahasiswa atau pekerja Muslim di sana saat bulan Ramadhan masih bergelut dengan aktivitas atau pekerjaan mereka.
Sebenarnya di Indonesia juga seperti itu. Bedanya, di Indonesia umat Islam bebas melaksanakan ibadahnya, termasuk shalat. Bahkan aturan-aturan perkantoran kerap dibuat dengan atas pertimbangan bulan Ramadhan. Seperti jam kepulangan karyawan yang dipercepat agar bisa buka puasa bersama di rumah.
Sedangkan di Jepang, datangnya bulan Ramadhan menurutnya tiada pengaruhnya apa-apa. Para pekerja tetap harus bekerja selayaknya di luar bulan Ramadhan.
“Enggak ada keringanan dari negara Jepang (terhadap kaum Muslimin terkait Ramadhan),” tuturnya. Bahkan banyak umat Islam di sana yang tidak ikut shalat Idul Fitri karena bersamaan jam kerja atau kuliahnya.
Tantangan lain yang ia rasakan saat berpuasa di Jepang adalah rasa bosan. Puasa di sana berlangsung selama sekitar 17 jam. Hari-harinya pun banyak diisi oleh “kekosongan” kegiatan.
Selama sebulan itu, ia lebih banyak berada di masjid saja. Dari habis subuh sampai zuhur ia tidak “ngapa-ngapain”. Bahkan lebih banyak beristirahat atau melakukan kegiatan pribadi lain di dalam ruangan.
Sebenarnya, Azzam mengaku lebih senang jika waktu kosong tersebut diisi dengan kegiatan-kegiatan keislaman yang melibatkan banyak orang, seperti mengajar mengaji, dan sebagainya.
Itulah mengapa, ia pun meminta dipindahkan ke masjid lain dimana ia bisa melakukan kegiatan-kegiatan lebih banyak lagi.
Baca: Kursi Kosong di Meja Iftar: Duka Warga Gaza di Bulan Ramadhan [1]
Selain persoalan itu, puasanya pada Ramadhan tahun 2017 itu juga diuji oleh suasana tidak Islami di Jepang. Kondisi imannya pun, “Ibarat (sepeda) motor bensinnya nol terus,” tuturnya di depan jamaah Masjid Ar-Riyadh, 2 Syawal 1439 H, Sabtu (16/06/2018).
Di sisi lain, tuturnya, mayoritas masyarakat Jepang bersikap acuh terhadap kegiatan keagamaan. Kehidupan mereka cenderung bebas dibanding masyarakat Indonesia.
Di Jepang, ungkapnya, seseorang yang berusia di atas 17 tahun, “mau telanjang terserah. Ana (saya) pakai jubah ke supermarket mereka biasa aja, acuh,” aku bujang penghobi futsal ini.* Bersambung
Baca: Berburu Lailatul Qadar, 400 Ribu Muslim Serbu Masjid Al-Aqsha