“AGAR kalian bertakwa.” Itulah visi dari ibadah puasa, sebagaimana tertuang dalam surat al-Baqarah, ayat 183, yang berbunyi;
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah Ayat 183)
Pertanyaannya, siapakah orang bertakwa itu? Pada catatan singkat kali ini, penulis akan mengupas kriteria orang bertakwa, merujuk pada surat Ali Imran ayat 134. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
“(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”
Ayat di atas sejatinya tidak bisa dipisahkan dengan ayat sebelumnya. Pada ayat 133, Allah menyeru kepada segenap manusia, agar berburu mencari ampunan Allah. Bagi mereka ini, dijanjikan surga, yang luasnya laksana langit dan bumi, yang diperuntukkan bagi orang-orang bertakwa.
Barulah, pada ayat yang akan dikupas ini, Allah menjelaskan ciri-ciri orang yang dimaksud (bertakwa).
Yang pertama; mereka yang gemar berinfak dalam segala kondisi. Baik itu dalam kondisi lapang, maupun sempit. Dalam keadaan lapar maupun kenyang. Sungguh ini adalah amalan yang tidak mudah dilakukan. Kalau sekadar ucapan gampang. Tapi ketika sampai ke tahapan praktik, bukan orang sembarangan yang bisa melakukannya.
Naluri kemanusiaan, enggan untuk berbagi. Ingin memiliki lebih banyak dan lebih banyak lagi. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwa seandainya manusia diberi satu lembah emas, maka ia akan meminta yang kedua. Begitu seterusnya. Tidak akan pernah puas, hingga ruh tercerabut dari badan.
Dalam hal ini, kita bisa berkaca dengan apa yang dialami Qarun. Hartawan yang hidup di zaman Fir’aun itu, memiliki harta yang melimpah ruah. Namun, karena dominasi hawa nafsunya, menjalankan kewajiban memberikan hak orang miskin ia enggan.
Inilah cermin bahwa berinfak itu tidak mudah. Namun, di sinilah letak ujian ketakwaan itu. Harus ada yang siap dikorbankan. Dalam konteks ini, tentu saja harta yang dimiliki. Orang yang mampu menjalankannya, maka beruntung. Masuklah dalam kategori orang bertakwa, sebagaimana ayat di atas. Tapi kalau sebaliknya, maka merugilah.
“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, “Yaa Robbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh.” (al-Munafiqun: 10)
Bulan Ramadhan ini seharusnya bisa menjadi wasilah kita untuk melatih diri untuk mudah berbagi. Menginfakkan apa yang dimiliki. Sebab di bulan inilah, spiritualitas seseorang melonjak tinggi, dibanding 11 bulan lainnya.
Ciri yang kedua; mampu menahan amarah. Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda “Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat. Tetapi orang kuat adalah orang yang mampu menahan nafsu saat marah” (Muttafaq alaih).
Mengendalikan emosi itu tidaklah mudah. Apalagi kalau bawaannya tempramen. Terlepas dari ada yang menghukumi lemahnya riwayat. Ketika selesai perang badar yang dahsyat itu, dikisahkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengatakan kepada para Sahabat, bahwa mereka baru saja melalui jihad ‘kecil.’ Ada lagi jihad yang lebih besar; jihad melawan nafsu sendiri.
Menahan amarah adalah inti dari kesabaran dan kemuliaan serta unsur terpenting dalam hidup. Disebutkan dalam syair : Bila kamu sedang marah maka bersifat berwiba dan menahan amarah. Cukuplah kemuliaan didapat dengan bersabar sejenak, ridha Tuhan didapat dan derajat diangkat.
Puasa Ramadhan adalah cara yang paling efektif untuk menahan amarah. Karena sejatinya, berpuasa itu bukan hanya menahan haus dan lapar semata. Akan tetapi, kita diperintahkan untuk menahan segala hal yang bisa membatalkan puasa, termasuk di dalamnya menahan amarah.
Rasulullah bersabda “Janganlah kamu saling mencaci saat kamu berpuasa bila ada yang mencacimu, maka katakanlah: sesungguhnya Aku sedang berpuasa, jika kamu berdiri maka duduklah” (HR. Ibnu Huzaimah).
Masuk ke ciri orang bertakwa yang ketiga; memaafkan kesalahan orang lain. Dalam mengarungi kehidupan yang fana ini, mustahil kalau ada orang yang tidak pernah bersalah. Tak terkecuali para Sahabat pun yang sudah dijamin masuk surga. Juga pernah melakukan kesalahan. Orang yang paling mulia adalah ia yang mampu mengakui kesalahannya dan senantiasa memaafkan kesalahan orang lain.
Kisah perjalanan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah teladan sempurna bagi kita, tentang bagaimana beliau senantiasa memaafkan orang lain. Ketika dicaci, bahkan dilempari kotoran manusia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah memaafkan, sebelum mereka meminta maaf. Bahkan dengan lapang dada, mengunjungi tatkala si pengganggu itu sakit.
Sama dengan dua karakter sebelumnya, ini pun bukan perkara ringan. Memaafkan orang yang telah menyakiti diri. Hanya mereka yang memiliki keimanan kuat dan kelapangan jiwa/hati, yang siap melakukannya. Adapun mereka yang berjiwa sempit, sukar sekali menerima maaf orang lain.
Maka penting juga kita terus mendawamkan doa yang dimunajatkan oleh Nabi Musa, sebelum menghadap Fir’aun yang durjana; “Rabbisyrahli shadri wa yassirli amri wahlul uqdatam millisani yafqahu qauli (Ya Rabbku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku)” (Thaha: 25-28).
Sungguh mulia sifat pemaaf ini. Dalam bulan suci Ramadhan kita pun dilatih untuk menjadi insan pemaaf. Semoga kita bisa mengamalkan sifat yang mulai ini. Mulai dari diri kita sendiri, keluarga, tetangga bahkan sampai pada seluruh umat manusia di dunia.
Jika kita melaksanakan puasa dengan sebenar-benarnya maka sifat-sifat positif di atas akan ada pada diri kita.
Semoga kita benar-benar bisa menjalankan ibadah puasa dengan baik, dan semoga seluruh amal ibadah kita diterima dan dilipatgandakan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Aamiin allahuma aamiin.* (Awan Al-Fatih/Anggota PENA Jatim)