Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Refleksi Tradisi Idul Fitri: Antara Doa dan Permintaan Maaf

Ahmad
Terakhir diupdate: 3 April 2025 14:21 2:21 pm
Ahmad
Dipublikasikan 3 April 2025 14:16
Bagikan
pintu rezeki
[Ilustrasi].
Bagikan

Idul Fitri disertai ucapan permintaan maaf, meski hal ini  bisa dilakukan kapan saja, terutama ketika terjadi kesalahpahaman atau konflik

Oleh: Dr. Kholid A.Harras

Hidayatullah.com | IDUL Fitri adalah momen yang sangat dinantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, Idul Fitri menjadi hari kemenangan yang dirayakan dengan penuh suka cita.

Namun, ada beberapa aspek tradisi Idul Fitri di Indonesia yang menarik untuk direnungkan, terutama terkait dengan makna doa dan permintaan maaf.

Doa dan Harapan di Hari Kemenangan

Baca Juga

Hubungan Agama dan Sains
Al-Qur’an, Ulama, dan Lembaga Pendidikan Islam: Kompas Peradaban di Tengah Disrupsi Zaman
Amerika dan Perang Salib Baru?
Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran

Secara teologis, Idul Fitri adalah waktu untuk saling mendoakan agar ibadah Ramadan yang telah dijalani diterima oleh Allah SWT.

Ucapan “minal aidin wal faizin” yang sering terdengar, memiliki arti “semoga kita termasuk orang-orang yang kembali (ke fitrah) dan orang-orang yang menang”. Ini mencerminkan harapan agar setiap Muslim yang telah berpuasa dapat meraih kemenangan spiritual dan kembali ke fitrah, yaitu keadaan suci seperti saat dilahirkan.

Namun, tidak ada jaminan bahwa setiap ibadah puasa yang dilakukan akan diterima oleh Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadist yang artinya; “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Bukhari)

Hadist ini menekankan pentingnya niat dan kualitas ibadah puasa, bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga. Oleh karena itu, doa dan harapan agar ibadah diterima menjadi sangat penting dalam tradisi Idul Fitri.

Permintaan Maaf: Lahir dan Batin

Di Indonesia, tradisi meminta maaf lahir dan batin menjadi salah satu ciri khas perayaan Idul Fitri. Ucapan “mohon maaf lahir dan batin” sering kali diucapkan sambil bersalaman dengan keluarga, teman, dan tetangga.

Namun, secara semantik, pengertian “maaf lahir dan batin” bisa jadi membingungkan. Lahir berarti tampak atau di luar, sedangkan batin berarti tidak tampak atau di dalam.

Permintaan maaf ini seharusnya mencakup kesalahan yang terlihat maupun yang tidak terlihat, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.

Permintaan maaf ini mencerminkan kesadaran bahwa manusia tidak luput dari kesalahan (error) dan kekhilafan (mistake). Dengan meminta maaf, kita mengakui kelemahan dan ketidaksempurnaan kita sebagai manusia, serta berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan sesama.

Namun, perlu diingat bahwa permintaan maaf bisa dilakukan kapan saja, terutama ketika terjadi kesalahpahaman. Oleh karena itu, yang seharusnya lebih diprioritaskan dan dipahami saat Idul Fitri adalah saling mendoakan agar ibadah Ramadan diterima oleh Allah, karena inilah esensi dari hari kemenangan tersebut.

Tradisi di Zaman Rasulullah

Dalam literatur Islam, tidak ditemukan dalil atau hadist yang secara khusus menganjurkan tradisi bermaaf-maafan saat Idul Fitri.

Menurut sejumlah hadist, saat hari Idul Fitri atau usai Ramadan, Rasulullah ﷺ dan para sahabat ketika bertemu saling mendoakan dengan ucapan “taqabbalallahu minna wa minkum” (semoga Allah menerima amalan kami dan kalian)

Pada  masyarakat Timur Tengah saat ini, tradisi saling bermaafan saat Idul Fitri juga tidak umum dilakukan. Perayaan Idul Fitri di negara-negara seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab lebih fokus pada salat Id, berbagi hidangan, dan saling mendoakan.

Permintaan maaf biasanya dilakukan kapan saja, terutama ketika terjadi kesalahpahaman atau konflik, bukan khusus pada hari raya.

Kesimpulan

Tradisi Idul Fitri di Indonesia, dengan segala keunikannya, mengajarkan kita tentang pentingnya doa dan harapan agar ibadah kita diterima oleh Allah, serta kesadaran akan pentingnya meminta maaf atas segala kesalahan.

Meskipun ada perbedaan dalam penekanan antara doa dan permintaan maaf, keduanya memiliki makna yang mendalam dalam memperkuat hubungan spiritual dan sosial kita. Semoga kita semua dapat meraih kemenangan sejati dan kembali ke fitrah yang suci.*

Penulis dosen FPBS UPI

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:hari rayaIdul fitrimohon maafpermintaan maaf
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Warga Suriah Hadang Invasi ‘Israel’ ke Daraa, Sebabkan Pertempuran Sengit
Tulisan selanjutnya Rencana Perombakan Pengelolaan Tanah Wakaf Islam di India Picu Kontroversi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura

Berita
15 Juli 2026 20:18
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Opini

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

25 Juni 2026 17:06
Artikel

Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial

16 Juni 2026 16:34
Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

3 Juni 2026 05:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?