Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Syiar Ramadhan

Ramadhan di Makkah: Hari-hari al-Qur’an

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 Agustus 2010 17:17
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Tahun ini, usia saya sudah hampir 51 tahun. Tidak terasa, saya sudah berada Tanah Haram, sekitar 33 tahun lamanya. Pertama kali menginjakkan kaki di Makkah, tujuan saya ada mengaji. Saya akhirnya kuliah di Umul Qura’ di jurusan Ushuluddin.

Namun karena semenjak kuliah saya sudah berurusan dengan jamaah haji dan umrah, akhirnya lambat laun saya menjadi mutawwif (pembimbing umrah dan haji) dan menghandle jamaah.  Kini, saya, istri, anak-anak, dan orangtua, sudah tinggal di sini.

Ramadhan di bumi kelahiran Nabi Muhammad ini sudah saya rasakan lebih dari seperempat abad lamanya. Meski demikian, suasana ibadahnya kayaknya hampir sama saja. Tetap indah dan tak pernah membosankan. Bahkan dari tahun ke tahun, suasana kemudahan semakin banyak.

Suasana orang yang ingin beribadah di Haram hampir sama dengan jamaah Haji. Ini terjadi karena banyak orang melakukan umrah, sebagaimana  ada targhib (janji) dari Rasulullah.  Akibatnya, jamaah membludak dan hotel ikut jadi mahal. Wajar saja, ini karena permintaan lebih banyak dari persediaan kamar. Banyak orang mampu ingin menikmati suasana indah Ramadhan di Masjidil Haram.

Hanya saja, di bulan Ramadhan, suasanya jauh lebih teratur, sebab manusianya jauh lebih ngerti agama. Agak berbeda sekali dengan musim haji yang boleh dikatakan lebih kacau balau.

Baca Juga

Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Di Pasar Amal Kiswa Warga Saudi Dapat Baju Lebaran Gratis
PM Malaysia Resmikan Program Ramadhan Saudi
Pemuda Madinatul Iman Tebar Guru Mengaji dan Parfum “GSM” di Balikpapan
Dua Remaja Suku Togutil Memeluk Islam karena Ingin Ikut Puasa Ramadhan

Sekedar contoh, di Bulan Ramadhan, tidak ada perempuan berdiri satu saf dengan laki-laki. Sebaliknya di haji itu menjadi pemandangan biasa. Sebab umumnya, kalau haji yang datang banyak orang kampung dan sebagian besar belum pernah kenal teknologi tinggi. Seperti naik lift yang dikhususkan wanita. Selain itu, tingkat bekal ilmu syar’inya belum memadai. Sedang bulan Ramadhaan sebaliknya.

Saat Ramadhan Masjidil Haram jauh lebih bersih, tapi tidak saat di musim haji. Susana seperti ini bukan hanya ada di Masjidil Haram saja, namun hampir terjadi di kota Makkah secara umum.

Selama lebih dari 30 tahun, baru sekali saya Ramadhan di Indonesia.  Tapi di Indonesia sangat keterlaluan. Di Jakarta,  misalnya, siangnya tidak terlihat suasana shaum Ramadhan sama sekali. Banyak  orang makan dan minum minum. Warung juga buka seperti biasa di mana-mana.  Pokoknya tidak ada suasana yang mendukung ibadah. Hanya malamnya saja yang kelihatan karena masjid-masjid menyelenggarakan tarawih.

Pernah menjelang buka saya singgah di salah satu mushollah. Mengagetkan, orangnya cuma satu. Dia yang adzan, dia yang iqomah dan dia pula yang menjadi imam. Sungguh memprihatinkan.

Saya sempat mampir ke masjid Ma’had Alhikmah di Jalan Bangka, Kemang. Di situ tarawihnya hampir satu juz. Atau di masjid jamaah Tablig di Hayam Wuruk, Alhamdulillah, imamnya huffaz dan bagus.

Di Indonesia, jika Ramadhan, mall dan TV sangat ramai, masjid malah sepi, apalagi jika menjelang i’tikaf. Di Makkah sebaliknya. Untuk mencari stasiun TV luar harus menggunakan parabola.

“Banjir” Infaq dan al-Qur’an

Ramadhan di Makkah tidak ada dukanya. Hampir semua saya rasakan sebagai suka. Dari semua sisinya, baik urusan dunia dan akhirat.

Ini terjadi karena nuansa Ramadan di Makkah memang sangat kental nuansa ibadahnya. Apalagi kalau berada di sekitar Masjidil Haram. Tak ada yang kita saksikan kecuali semua orang berlomba-lomba beribadah dan bersedekah.

Selama Ramadhan, tak akan kita saksikan satu orangpun tidak berpuasa, layaknya di Indonesia. Selain itu, Ramadhan di sini, ibarat bulan infak. Hampir semua orang kita saksikan begitu semangat berinfak.

Setiap hari, semua orang –tak peduli orang Asli Arab atau pendatang– membagi-bagi uang, makanan untuk iftar (buka puasa) dan lain-lain.

Seandainya ada orang datang ke Tanah Haram di Bulan Ramadhan tanpa uang sepeser pun, dipastikan ia tidak akan kelaparan dan pasti kenyang. Orang membagi iftar ada di mana-mana. Termasuk bekal sahur. Ibaratnya, hanya dengan bekal badan saja, orang sudah dijamin kenyang. Bahkan kalau berani, malah bisa pulang bisa membawa 1 kwintal kurma terbagus.

Sekedar catatan, di bulan Ramadhan, semua kurma yang terbaik di Saudi akan dikeluarkan. Dari yang harganya cuma 5 real (sekitarRp. 45 ribu) per kilo sampai yang harga 100 real (hampir 300 ribu) per kilo.

Keindahan yang tidak ada di tempat lain adalah semangat beribadah di masjid-masjid, khususnya di Masjidil Haram. Meski demikian,  hampir di semua masjid, walau masjid kecil sekalipun, semua penuh orang untuk dzikir, baca al-Quran atau shalat.

Satu lagi yang juga tak kalah indah di Makkah, para huffaz (penghafal al-Quran), betul-betul memanfaatkan Ramadhan untuk memuraja’ah (melancarkan) hafalannya.  

Hampir semua imam tarawih di masjid kecil sekalipun, termasuk para imam  baru, sengaja diterjunkan oleh guru-guru mereka untuk memurajaah hafalannya. Ibaratnya, mereka ‘turun-gunung’ ke masjid-masjid kecil atau mushollah.

Huffaz yang saya maksud di sini adalah anak-anak yang baru belasan tahun. Usianya setingkat SMP atau SMU. Meski demikian, mereka adalah anak-anak yang sudah khatam hafalannya. Subhanallah, rata-rata di semua masjid, anak-anak muda yang ditugaskan menjadi imam tarawih itu memiliki suara yang luar biasa bagus, tartil dan lancar hafalannya. Sungguh luar biasa indah!

Pemandangan ini, bukan sebuah pemandangan aneh. Bahkan pernah, di sebuah masjid kecil di Tanah Haram, yang menjadi imam anak berusia 6 tahun. Tapi jangan keliru, ia memiliki suara luar biasa bagus. Memang belum baligh, namun mereka sudah mumayyiz (yang telah mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk).

Sementara itu, di Masjidil Haram, banyak orang  menanti para huffaz, yang umumnya imam senior menjadi imam secara bergantian, sampai selesai satu juz.

Meski di Masjidil Haram shalatnya tarawihnya 23 rakaat (20+3), rata-rata jamaah menikmati dan sangat merindukan. Bacaan 1 juz yang membutuhkan waktu sekitar dua jam tak membuat orang bosan atau beranjak.

Ini karena orang begitu menikmati beribadah. Bacaan yang indah dan mengasyikkan ikut membawa suasana jamaah bersemangat. Tak sedikit jamaah menangis karena mereka menghayati makna bacaan imam. Ada juga yang ikut menangis karena di samping kiri dan kanan mereka sudah menangis,.

Dengan kata lain, bulan Ramadhan di Tanah Haram itu seperti bulan al-Quran. Bulan Ramadhan, adalah hari-harinya demo keindahan al-Quran.

[Diceritakan oleh Amiruddin Abdullah Rasul dari Tanah Haram/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Maqashid As Shalah, Dikaji pada Ramadhan Masa Malik Al Asyraf
Tulisan selanjutnya Sarkozy Didoakan terkena Serangan Jantung

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Berita
2 Juni 2026 21:41
Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Terbaru

  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Mungkin Anda Juga Suka

Syiar Ramadhan

Digimoz Gelar Pesantren Kilat Digital Ramadhan

25 April 2021 10:13
Syiar Ramadhan

Dayah Darul Quran Aceh Gelar Mukhayyam Ramadhan

22 April 2021 09:18
Syiar Ramadhan

Islamic Medical Servis dan Baznas DKI Jakarta Launching Program Hapus

20 April 2021 23:29
Syiar Ramadhan

Ketika Ulama “Mengintip” Layar TV

20 April 2021 09:59
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?