Oleh: AlwiAlatas
SAAT menjelaskan tentang alas an munculnya Islam di Jazirah Arab ada beberapa penceramah yang mengaitkannya dengan keadaan jahiliyah di masyarakat Arab pada masa itu.
MengapaNabi Muhammad saw lahir dari tengah bangsa Arab dan memulai dakwahnya kepada mereka? Karena bangsa Arab inilah masyarakat yang paling jahil, yang paling rusak, pada masa itu. Begitu kurang lebih yang dikatakan sebagian penceramah tadi.
Hal ini menimbulkan beberapa pertanyaan. Apakah benar bangsa Arab pada masa itu merupakan masyarakat yang paling jahil, dalam artian paling rusak dan paling tidak bermoral?
Kalau masyarakat Arab pada masa itu merupakan masyarakat yang paling rusak, bagaimana mereka dalam waktu yang sangat singkat bias menjadi masyarakat terbaik seperti yang digambarkan al-Qur’an: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia …” (QS 3: 110).
Sebuah masyarakat yang sudah sangat rusak tentunya sangat sulit untuk berubah, apalagi dalam waktu yang singkat. Selain itu, rasanya mustahil suatu masyarakat bias muncul menjadi masyarakat terbaik kalau mereka tidak memiliki kualitas-kualitas positif yang memungkinkan mereka untuk muncul dan memimpin peradaban.
Dengan begitu, tidak tepat untuk mengatakan bahwa masyarakat Arab tempat munculnya Nabi Muhammad adalah masyarakat yang paling jahil dan paling tidak bermoral. Dan tidak tepat juga kalau kita mengatakan bahwa yang menjadi alas an diutusnyaNabi saw di Jazirah Arab adalah karena adanya kejahilan di tengah mereka. Semestinya yang menjadi alas an adalah karena adanya kualitas-kualitas positif yang memungkinkan mereka muncul sebagai pemimpin peradaban.
Bangsa Arab pada masa itu memang jatuh dalam kejahiliyahan yang parah.Tauhid dan nilai-nilai ketuhanan telah rusak, digantikan oleh sistem penyembahan berhala. Kondisi social buruk, dan konflik antar kabilah merupakan hal yang sangat biasa terjadi, bahkan untuk alasan-alasan yang sepele.
Moralitas mereka bermasalah. Sistem pernikahan mereka bercampur-aduk dengan hal-hal yang terlarang.
Kaum perempuan mereka kurang dihargai dan kadang dibunuh saat masih bayi.
Mereka memang jatuh dalam kerusakan moral. Namun, mereka bukan satu-satunya yang mengalami hal itu. Sebenarnya, pada masa itu seluruh dunia jatuh dalam kejahiliyahan yang sama. Kondisi jahiliyah yang mengacu pada keadaan pra-Nubuwwah sebenarnya tidak khusus untuk penduduk Jazirah Arab saja. Seluruh dunia ketika itu juga jatuh dalam kejahiliyahan.
Joseph McCabe dalam bukunya The Splendour of the Moorish Spain, misalnya, mengakui ”Bahwa orang-orang Arab [Muslim, pen.] memasuki arena pada periode paling penuh keputusasaan yang pernah dirasakan dunia sejak fajar peradabannya, yaitu pada paruh pertama abad ke tujuh. Sekiranya ada seorang pemikir filsafat di mana pun di bumi ini pada awal abad tersebut, ia tentu akan mengumumkan bahwa kisah perjalanan panjang upaya manusia untuk menciptakan peradaban telah berakhir dengan kegagalan.” Jadi kemunduran dan keputusasaan peradaban itu bersifat umum bagi seluruh peradaban di dunia. Dalam kondisi seperti inilah Rasulullah saw. diutus ke tengah masyarakat Makkah untuk menjadi rahmat bagi seluruh ummat di dunia.
Keadaan jahiliyah yang mendunia ini digambarkan dengan sangat baik oleh Abul Hasan Ali al-Hasani al-Nadwi dalam bukunya Kerugian Apa yang Diderita Dunia Akibat Kemerosotan Kaum Muslimin? (Madza Khasirul Alam bi inkhitatil Muslimin?).
Berdasarkan apa yang beliau gambarkan itu terlihat jelas bahwa kemunculan Nabi saw. memang menjadi rahmat bagi alam semesta, karena pengaruhnya telah mengangkat dunia dari keterpurukan sejarah dan peradaban. Dan ketika kaum Muslimin mengalami kemunduran pada masa yang belakangan, dunia pun sebenarnya ikut mengalami penderitaan, walaupun penderitaan ini tersembunyi di balik topeng kemajuan dan modernisme.
Saat membuka tulisannya, al-Nadwi berkata, ”Tidak ada perbedaan pendapat, bahwa abad keenam dan ketujuh masehi adalah abad-abad yang paling mengalami kemerosotan dalam sejarah…. Tambah hari tambah cepat menukik dengan hebatnya. Manusia pada abad-abad tersebut seolah-olah sudah lupa sama sekali kepada Penciptanya, sehingga lupa pula kepada dirinya sendiri dan kepada hari-depannya. Kearifan menjadi lenyap dan bersamaan dengan itu hilang pula kesanggupannya membedakan yang baik dari yang buruk, dan yang bajik dari yang jahat. Apa yang diserukan oleh para Nabi telah lama pudar, dan pelita-pelita yang dinyalakan oleh mereka telah lama padam ditiup angin ribut yang datang sesudah mereka. Kalau masih ada yang tinggal menyala, cahayanya sangat kecil dan remang-remang, tidak dapat menerangi hati, apalagi menerangi rumah-rumah atau menerangi negeri.”
Seluruh masyarakat dan peradaban ketika itu jatuh dalam kejahiliyahan. Jika masyarakat Arab pada masa pra-Nubuwah menjadi penyembah berhala, maka seluruh dunia pada masa itu juga menyembah berhala. Bangsa China memberhalakan ”nabi” dan filsufnya. Bangsa India menyembah tuhan-tuhan yang sangat banyak jumlahnya, bahkan ada sebagian masyarakatnya yang menyembah kemaluan dewanya. Bangsa Persia menyembah api. Dan bangsa Romawi yang ketika itu sudah menganut Kristen menuhankan Yesus dan memasukkan patung-patungnya ke dalam gereja.*/bersambung ke artikel berikutnya
Penulis adalah penulis buku “Nuruddin Zanki dan Perang Salib” kolumnis hidayatullah.com, kini sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia