Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Karya Jamsyid Giatsuddin Al-Kasyi dalam Dunia Matematika

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 Oktober 2022 15:19 3:19 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 Oktober 2022 20:00
Bagikan
Jamsyid Giatsuddin Al-Kasyi
Bagikan

Hasil karya yang bisa kita nikmati sampai sekarang dari buah tangan Jamsyid Giatsuddin Al-Kasyi ialah cara penulisan angka perpuluhan (dengan menggunakan tanda nol).

Hidayatullah.com | DINASTI Abbasiyah, merupakan masa jayanya ilmu pengetahuan. Kejayaan pada masa itu adalah banyaknya tokoh ilmuwan muslim bermunculan, salah satunya ilmuwan muslim Jamsyid Giatsuddin Al-Kasyi.

Jamsyid Giatsuddin Al-Kasyi merupakan salah satu dari beberapa ilmuwan muslim yang terkenal pada masa abbasiyah, beliau merupakan seorang ilmuwan yang menjadi pelopor peletak dasar aritmatika atau ilmu hitung.

Al-Kasyi atau Al-Qasyani ialah panggilan atau sapaan untuk seorang ahli dalam bidang matematik yang sangat masyhur pada zamannya atau masanya lebih tepatnya pada masa dinasti abbasiyah, orang tersebut ialah Jamsyid Giatsuddin Al-Kasyi.

Jamsyid lahir tahun 1380 pada akhir abad ke-14 M di kota Kashan yang berada di Iraq Tengah. Pada waktu itu Kashan sedang dikuasai oleh Tamerlane atau bisa disebut dengan Timur.

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

Pada tahun 1405 Timur meninggal dan digantikan oleh putranya yaitu Shah Rokh, sehingga situasi pada saat itu mengalami perubahan dan menjadi lebih baik dari sebelumnya. (Wahyu Murtiningsih 2010:129)

Pada waktu itu, ilmu sains sangat digemari banyak orang, hal ini menjadi daya tarik bagi Shah Rokh dan juga istrinya yaitu seorang putri Turki bernama Goharshad. Akhirnya mereka berdua pun mengeluarkan kebijakan untuk mendorong istana mereka agar mempelajari dan memperdalam keilmuan mereka dalam bidang apapun.

Dengan kebijakan yang telah dibuat membuat era kekuasaan Shah Rokh menjadi salah satu era dimana banyak bermunculan prestasi ilmiah. Momentum seperti inilah yang cocok bagi Al Kasyi untuk mengembangkan potensi dirinya atau karirnya sebagai salah satu matematikawan terbesar di seluruh penjuru dunia.

Setelah delapan tahun masa kepemimpinannya, Ulugh Begh putra dari Shah Rokh mendirikan atau membangun sebuah institusi pada tahun 1409 yang kelak menjadi universitas terkemuka di Samarkand. Karena keberadaan institut ini di tengah tengah kota atau di ibukota kerajaan Ulugh Beg maka banyak para siswa dari seluruh Timur Tengah dan sekitarnya berbondong bondong untuk masuk ke institut ini.

Ulugh Beg juga ikut andil bagian dengan mengumpulkan banyak ilmuwan dan matematikawan dari Timur Tengah. Kesempatan ini pula tidak akan disia siakan oleh Al Kasyi, di istana Ulugh Beg beliau menyumbang sebagian besar pengetahuannya kepada ummatnya pada tahun 1414, menciptakan karya terbaiknya.

Al Kasyi juga sedang berproses membuat bukunya yang berjudul “Risalah Al Watar Wal Jaib” artinya “Risalan Tentang Akord dan Sinus” dan salah satu karyanya yang terkenal yaitu Maktubu Miftahil Hisab. Kemungkinan Al Kasyj meninggal pada tanggal 22 Juni 1429 di Samarkhan (Uzbekistan).

Ada beberapa teori konspirasi atas kematian sang matematikawan. Salah satunya muncul dari beberapa sarjana, mereka yakin bahwa Ulugh Beg telah memesan pembunuhannya, karena beliau melawan para teolog islam. (Wikipedia, “Jamsyid Giatsuddin Al-Kasyi”.

Jasa-Jasa Al-Kasyi

Al-Kasyì menjadi seorang ilmuwan yang paling berpengaruh pada masa itu. Karena penemuan beliau dianggap sebagai penemuan ilmiah yang sangat penting di bidang matematika. Al-Kasyi sendiri disebut sebagai ilmuwan peletak dasar aritmatika atau ilmu hitung yang dilakukan atas dasar slide. (Rahma Indina Harbani, 5 Ilmuwan Muslim Masa Abbasiyah, Ada Peletak Dasar Matematika).

Dalam keberhasilannya menciptakan pecahan desimal beliau menggunakan angka nol dalam proses perhitungannya. Al-Kasyi juga merupakan ilmuwan pertama yang menggunakan angka nol.

Al-Kasyi juga ahli dalam bidang astronomi. Beliau juga berhasil membuat suatu alat yang fungsinya bisa untuk menentukan letak bintang, mengetahui bagaimana gerhana terjadi, mengetahui jarak suatu benda dari bumi dan lain sebagainya yang berhubungan langsung dengan astronomi.

Penggambaran peredaran bulan dan juga bintang mercury pertama kali dikemukakan oleh Jamsyid Giatsuddin Al-Kasyi dalam salah satu bukunya yang berjudul “Thabaq Al-Manathiq”. 

Pada suatu moment Al-Kasyi sangat berterima kasih kepada sang sultan Timurid dan juga Ulugh Beg sang ahli matematika dan astronom, yang telah mengundang atau mengajak Al-Kasyi untuk datang dan bekerja di observatoriumnya dan universitasnya yang pada waktu itu terkenal dengan ajaran  teologinya. 

Al-Kasyi berhasil membuat tabel sinus yang berjumlah empat digit sexagesimal, akurasi atau ketepatan untuk setiap derajat dan juga perbedaan menitnya. Beliau pun membuat tabel yang memiliki keterkaitan dengan perubahan antara sistem koordinat pada bola langit, misalnya transformasi dari sistem koordinat ekliptika ke sistem koordinat ekuator. (O’Connor, John J.; Robertson, Edmund F., “Ghiyath al-Din Jamshid Mas’ud al-Kashi”, MacTutor History of Mathematics archive, University of St Andrews).

Hasil karya yang bisa kita nikmati sampai sekarang dari buah tangan Jamsyid Giatsuddin Al-Kasyi ialah cara penulisan angka perpuluhan (dengan menggunakan tanda nol). Angka yang kita kenali pada saat ini seperti halnya pecahan dan juga puluhan merupakan buatan dari sarjana sarjana muslim yang dipakai juga oleh dunia barat sejak saat abad 17 M.

Kasr dalam aritmatika muslim yang awalnya berbahasa Arab kini diterjemahkan kedalam bahasa Latin menjadi fraktio lalu berubah lagi kedalam istilah Inggris yaitu fraction. Cara penulisan angka pecahan tidak hanya dilakukan oleh ilmuwan muslim saja, akan tetapi para ilmuwan dari baratpun ikut dalam hal penulisan ini beberapa dari mereka antara lain: Nacci dan Abraham Benezra (sarjana yahudi) dan dari kaum muslim yaitu Al-Hasan Abu Kamal (Abad ke-11 M).

Cara penulisan angka pecahan contohnya seperti 2/3, 7/8, 28/9 dan lain sebagainya, seperti saat ini, adalah salah satu karya dari sarjana sarjana muslim yang sekarang kita warisi. Ada juga peran seorang sarjana Barat bernama Vieta yang lebih dikenal dengan sebutan Bapak Angka Perpuluhan (Bapak Desimal) karena penulisan sejarah matematika disebarkan di Eropa pada tahun 1579 M abad 17-18 saja.

Pecahan desimal merupakan praktik komputasi umum yang bisa diteliti atau ditinjau kembali pada pamflet Flemish De Thiende, awal diterbitkan pada tahun 1585 di Leyden, diterjemahkan juga kedalam bahasa Prancis, La Disme, oleh matematikawan Flemish Simon Stevin kisaran pada waktu 1548-1620, lalu  ia berpindah tempat di Belanda Utara.

Tak bisa disangkal bahwa pecahan desimal juga digunakan oleh orang orang China berabad-abad sebelum Stevin dan astronom Persia Al-Kasyi dengan mudahnya menggunakan pecahan desimal dan seksagesimal yang juga terdapat pada bukunya “Kunci untuk aritmatika” (Samarkand, awal abad kelima belas).

Artikel ini, hanya membahas salah satu ilmuwan matematika yaitu Jamsyid Giatsuddin Al-Kasyi. Faktanya, masih banyak para ilmuwan muslim yang ahli di bidang matematika dan tidak kalah banyak juga ilmuwan muslim yang ahli di bidang lain misalnya di bidang fisika, kimia, biologi, kedokteran, filsafat, dan lain sebagainya.

Untuk umat muslim di penjuru dunia, mari kita jadikan sejarah dari Al-Kasyi dan ilmuwan muslim lainnya sebagai salah satu inspirasi dan motivasi bahwasanya kita sebagai seorang muslim bisa juga menjadi ilmuwan penemu konsep, terutama konsep matematika seperti para ilmuwan terdahulu.*/Mahmud Allam, mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ilmuwan Muslimjamsyid Giatsuddin Al-Kasyimatematika
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Warga Iran Diimbau Tidak Mengunjungi Ukraina
Tulisan selanjutnya Mayoritas Warga Jakarta Puas Kinerja Anies Baswedan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kecam Serangan Bandara King Khalid Saudi, Dewan Dakwah: Tidak Dapat Dibenarkan

Berita
12 Oktober 2026 23:35
Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
Tiga Pria Mengaku Merencakan Serangan Terhadap Masjid Maryam di Galway
Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?