Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Surat Pembaca

Tahu Tempe Langka, Apa Solusinya?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 11 Januari 2021 09:21 9:21 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 11 Januari 2021 09:21
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | BEBERAPA  waktu belakangan, dikarenakan harga kedelai yang makin mahal, maka perajin tahu tempe pun mogok massal.

Betapa tidak, harga kedelai yang awalnya Rp. 6.500 hingga Rp. 7.000 per kilogram memanjat naik hingga Rp. 9.200 bahkan Rp. 10.000 per kilogram. Dikabarkan bahwa kenaikan harga ini karena naiknya permintaan kedelai dari Amerika ke China yang awalnya 7.5 juta ton menjadi 9.2 juta ton.

Maka jadi lah kelangkaan kedelai di pasar Indonesia dan menaikkan harga hingga 50 persen.

Ketika kedelai langka dan naik harga maka akan berimbas pada produk berikutnya terutama tahu dan tempe. Tahu dan tempe yang menjadi sumber protein masyarakat yang murah.

Jika harga tahu tempe naik bahkan langka dipasaran maka para ibu tidak bisa lagi menyajikan makanan sumber protein ini di meja makan. Bagaimana nasib kecukupan gizi pada anak dan keluarga di Indonesia. Sementara protein adalah zat pengatur, zat pembangun dan zat pelindung tubuh. Tanpa protein manusia akan mengalami malnutrisi, rendahnya tingkat kecerdasan dan mudahnya terserang penyakit akibat imun badan yang berkurang.

Baca Juga

22 Tahun Wahdah Eksis jadi Ormas
Harga Telur Melambung Tinggi, Bagaimana Islam Mengatasi?
Lemahnya Agama, Penyebab Munculnya Pergaulan Bebas
Uang Kripto sebagai ‘People Money’
Hari HAM Sedunia, Muslim Thailand Selatan Masih dalam Tekanan dan Diskriminasi

Maka sebagai seorang ibu pun perlu untuk mencermati kebijakan publik yang tengah terjadi.

Jika diperhatikan kenaikan harga kedelai yang fluktuatif disebabkan oleh kesediaan nya di pasaran. Kesediaannya di pasaran dipengaruhi oleh jumlah pasokan dari negara lain ke pada kita. Bisa diartikan kita sudah sangat tergantung pada barang impor. Ketika barang impor tak masuk kita kelabakan.

Padahal sebagai negara yang menyandang predikat sebagai negara agraris, Indonesia tak sepatutnya mengalami persoalan pangan. Potensi alamnya yang begitu subur, lahan yang amat luas, sumber daya manusia yang banyak, seharusnya cukup untuk menjadikan Indonesia memiliki ketahanan pangan yang tinggi.

Sayangnya yang terjadi malah sebaliknya. Bukan karena faktor alam. Namun karena faktor di luar itu, kebijakan pangan yang diambil semakin kental dengan corak korporatokrasi. Keberpihakan kepada pemodal yang mencengkram pangan. Sehingga memperlemah ketahanan pangan yang berimbas pada akhirnya pada rentannya krisis pangan.

Corak ini bisa kita lihat salah satunya pada prubahan undang-undang nomor 18/2012 pasal 1 angka 7 yang menyatakan ” ketersediaan pangan adalah kondisi tersedianya pangan dari hasil produksi dalam negeri dan cadangan pangan nasional, serta impor apabila kedua sumber utama tidak dapat memenuhi kebutuhan”.

Namun dalam undang-undang cipta kerja, pernyataan tersebut diubah menjadi ” ketersediaan pangan adalah kondisi tersedianya pangan dari hasil produksi dalam negeri, cadangan pangan nasional dan impor pangan”.

Terlihat jelas semakin tahun, kebijakan yang membuat krisis pangan terjadi semakin banyak. Berarti political will untuk melepaskan Indonesia dari jerat impor bisa dibilang tidak ada.

Islam, menggariskan prinsip-prinsip dasar ekonomi menyangkut masalah kepemilikan, pengelolaan, distribusi yang bertumpu pada prinsip keadilan yang hakiki yang berbeda dengan sistem kapitalisme yang mengagungkan prinsip kebebasan tanpa batas.

Islam sangat mementingkan prinsip kemandirian politik yang mencegah dan mengharamkan intervensi asing. Sehingga ketika kita mandiri, tak tergantung pada negara lain, kita pun bisa menentukan nasib bangsa kita sendiri. Nasib makanan rakyat kita, nasib pakaian, perumahan, pendidikan, kesehatan bahkan keamanan warga kita sendiri.

Maka dengan penerapan syariah secara kaffah itu akan terjadi.*

 

Syam Arham

Aktivis Muslimah Peduli Ummat | Aceh Barat

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:kedelaiTahutempe
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 2.571 Personel SAR Gabungan Diterjunkan, Puing Pesawat, Pakaian dan Potongan Tubuh Manusia Ditemukan
Tulisan selanjutnya Perbatasan Darat Qatar-Saudi Telah Dibuka Kembali setelah Krisis Teluk Mereda

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar

Berita
14 Juli 2026 17:00
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Surat Pembaca

Racun LGBT Makin Meluas, Jaga Ketahanan Keluarga Indonesia

28 Mei 2022 12:30
cerita
Surat Pembaca

Pentingnya Memilih Cerita Sebagai Hiburan

26 November 2021 13:37
Surat Pembaca

Tanggapan atas Pernyataan Bahwa Semua Agama itu Benar

22 September 2021 15:00
Surat Pembaca

Nasyid untuk Wahdah Islamiyah

8 September 2021 07:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?