Hidayatullah.com–Dengan dalih memburu teroris, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menambah pasukan. Namun di sisi lain, mengakui sedang mengincar kekayaan mineral Afganistan yang nilainya mencapai triliunan dolar AS.
Donald Trump hari Senin mengizinkan penambahan pasukan Amerika Serikat di Afghanistan dalam strategi barunya yang ia sebut menangani permasalahan di kawasan.
Dalam pidato di sebuah pangkalan militer dekat Washington, Trump mengatakan pendekatan baru ini bertujuan untuk mencegah Afghanistan dijadikan termpat berlindung apa yang ia istilahkan ‘militan Islamis’ yang ingin menyerang Amerika.
Dalam pidato yang tidak terperinci itu, Trump tidak menjelaskan berapa pasukan yang akan ditambahkan, tidak memberikan linimasa yang menunjukkan akhir keberadaan pasukan AS di Afghanistan dan malah mendorong Pakistan, India dan negara-negara Pakta Pertahanan Atlantik Utara alias NATO untuk meningkatkan komitmen.
Baca: Pasca 2014 Ribuan Tentara Amerika Tetap Bercokol di Afghanistan
Sejumlah pejabat mengatakan Trump telah menandatangani rencana Menteri Pertahanan James Mattis untuk mengirim 4.000 lebih pasukan untuk memperkuat 8.400 tentara yang sudah berada di Afghanistan, tulis CNN.
Namun di saat yang sama, Amerika mengakui sedang berupaya mengeruk kekayaan alam Afghanistan, berupa tambang mineral.
Duta Besar Afghanistan untuk AS Hamdullah Mohib sebagaimana dikutip Reuters, Senin (21/08/2017), mengatakan, Donald Trump tertarik dengan potensi ekonomi Afghanistan.
Menurut studi Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) kekayaan mineral Afghanistan berpotensi mencapai nilai hingga 1 triliun dolar AS.
“Perkiraan kami 1 triliun dolar AS untuk tembaga, bijih besi, logam, alumunium, emas, perak, seng, merkuri, dan litium. Ini baru,” kata Mohib seperti dikutip Reuters Juni lalu.
Baca: Amerika Mengincar Kandungan Alam Berharga di Afghanistan
Kajian USGS selama satu dekade lalu juga mengidentifikasikan adanya cadangan sumber daya mineral yang kemudian diperkirakan bernilai 1 triliun dolar.
Selain sumber daya emas, perak dan platinum, Afghanistan juga memiliki cadangan bijih besi, uranium, zinc, tantalum, bauksit, batubara dan gas alam serta tembaga dalam jumlah yang signifikan. Terutama untuk tembaga, dimana keberadaan cadangan di Afghanistan menjadi penting karena langkanya penemuan cadangan baru di tambang-tambang seluruh dunia.
Sebagaimana diketahui, Perang Afghanistan yang dicetuskan AS tahun 2001 dan digembar-gemborkan sebagai perang balasan karena serangan 9/11 dinilai hanya agenda geopolitik sekaligus ekonomi di Afghanistan yang membutuhkan kehadiran permanen pasukan AS.
Prof Michel Chossudovsky, peneliti dan profesor emeritus di jurusan ekononomi di Universitas Ottawa dalam bukunya America’s “War on Terrorism” mengatakan, kebijakan memerangi Afghanistan hanya sebuah “Perang Sumber Daya” yang didorong oleh keuntungan.
Argumen hukum yang digunakan oleh Washington dan NATO untuk menyerang dan menduduki Afghanistan di bawah “doktrin keamanan kolektif” adalah serangan 11 September 2001 merupakan “serangan bersenjata” yang tidak dideklarasikan “dari luar negeri” oleh sebuah kekuatan asing yang tidak disebutkan namanya, yaitu Afghanistan.
Namun faktanya menunjukkan, tidak ada pesawat tempur Afghanistan di langit New York pada pagi hari tanggal 11 September 2001.
Fakta lain, Afghanistan memiliki cadangan mineral dan gas yang luas, dengan produksi lebih dari 90 persen pasokan opium dunia yang digunakan untuk memproduksi heroin kelas 4.
Kehadiran Pangkalan militer AS di Afghanistan dinilai bermaksud melindungi perdagangan narkotika miliaran dolar. Di mana, perdagangan heroin –yang dipicu pada awal perang Soviet-Afghanistan pada tahun 1979– dilindungi oleh CIA dan menghasilkan pendapatan tunai di pasar Barat yang melebihi $ 200 miliar dolar setahun.*