Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Analisis

Dunia Arab dan Kanada Bertindak terhadap Ekspatriat India yang lancarkan Islamofobia

Nashirul Haq
Terakhir diupdate: 12 Mei 2020 10:55 10:55 am
Nashirul Haq
Dipublikasikan 12 Mei 2020 10:42
Bagikan
Pemuda Muslim Abdul Samad diserang gerombolan tak dikenal di India saay ia keluar untuk membeli obat. Ia secara brutal dipukuli di luar sebuah toko kimia di Aligarh dengan alasan bahwa ia "pembawa virus corona". Muslim India jadi sasaran saat pandemi
Bagikan

Oleh: Saif Ullah Khan

 

Hidayatullah.com | SELAMA  beberapa tahun terakhir, Islamofobia dan kebencian terhadap Muslim telah tumbuh pada tingkat yang tidak pernah terjadi sebelumnya di India tanpa konsekuensi apapun. Dan seperti kebanyakan warga negara India, kefanatikan ini juga terjadi di luar negara itu.

Sementara kefanatikan di India menikmati kebebasannya dengan dukungan langsung dan tidak langsung dari para anggota Partai Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa dan bahkan pemerintah Narendra Modi, situasi bagi warga negara India yang fanatik, seperti di Teluk dan sekarang Kanada, telah direspon dengan hal yang berbeda.

Setelah beberapa insiden ekspatriat India di Negara Teluk yang dikecam karena pernyataan Islamofobia mereka di media sosial dan dipecat oleh majikan mereka, kini giliran Kanada yang melawan kebencian semacam itu.

Baca Juga

Bagaimana Pakta Pertahanan Mekkah Bisa Mengubah Peta Ekonomi Timur Tengah?
Menguak Penyebab Kerusuhan Hindu dan Muslim di Nepal
Mimpi Buruk Israel: Turki Bangkit Jadi Kekuatan Baru Timur Tengah
Strategi Ibrahim Traoré: Tinggalkan Penjajah Prancis, Dekati Rusia
“Gubernur Konten”,  Antara Pencitraan, dan Polarisasi Digital

Ravi Hooda, seorang agen real estat yang tinggal di Ontaria, mengomentari ciutan wali kota Brampton yang memberikan pengecualian dalam peraturan kebisingan publik untuk memperbolehkan adzan atau panggilan sholat.

“Apa berikutnya? Jalur terpisah untuk penunggang unta & kambing, memperbolehkan penyembelihan hewan di rumah atas nama pengorbanan, peraturan yang memperbolehkan semua perempuan menutupi diri mereka dari kepala sampai kaki untuk menenangkan orang bodoh demi mendapat suara,” tulisnya.

Dia mungkin tidak mengetahui bahwa pengecualian itu sebelumnya hanya terbatas pada suara lonceng gereja dan sekarang diperluas untuk semua agama. Mungkin dia juga lupa bahwa dia berada di Kanada, bukan di India, di mana pernyataan semacam itu menarik ribuan like dan retweet. Namun, dia segera mendapat pelajaran.

Hodda, yang kemudian menghapus tweetnya, mendapat kecaman dari beberapa pengguna Twitter, termasuk Anti-Hate Network Kanada, untuk komentar jahatnya. Perusahaan real estat yang memperkerjakannya berhenti menggunakan jasanya. Dia juga diberhentikan dari Dewan Sekolah oleh Macville Public School.

Hal ini mengikuti tren terbaru di negara Teluk di mana beberapa ekspatriat India telah dipecat karena memposting pernyataan Islamofobia yang menarget Muslim untuk penyebaran Covid-19.

Sementara Kanada memenangkan pujian untuk tindakan cepatnya terhadap Islamofobia, banyak hal di India yang tidak begitu bagus menanggapi penyebar kebencian – meskipun beberapa negara Teluk bersikap vokal tentang hal itu dan meminta pemerintah Modi untuk mengambil tindakan.

Jika berhasil di India, berarti berhasil di tempat lain

Selama beberapa tahun terakhir, kebencian dan polarisasi komunal, terutama yang ditargetkan kepada komunitas Muslim, telah muncul sebagai formula pemenang berbiaya rendah untuk kelas politik India. Dengan jurang ketidakamanan dan perpecahan komunal yang telah ada, dibutuhkan tidak lebih dari percikan kecil untuk membakar tumpukan kayu kebencian komunal.

Media sosial India, terutama sejak menjelang Pemiu Lok Sabha (DPR) 2014, telah menyaksikan peningkatan konsisten dalam kebencian terhadap Muslim, menyalahkan mereka untuk hampir semua kejahatan yang menimpa negara.

Keakuratan faktual, dan sejarah, para penyebar kebencian mungkin seburuk logika mereka, namun mereka semua berhasil mencapai hasil yang diinginkan – kekerasan terhadap Muslim.

Jika ini berhasil di negara asal, jika tidak ada dampak di sini, mengapa tidak menirunya di tempat lain – atau begitulah menurut keyakinan mereka. Kefanatikan ini begitu dinormalisasi sehingga banyak warga negara India yang bekerja dan tinggal di Negara Teluk, wilayah yang mayoritas penduduknya Muslim, tidak melihat masalah dalam menyebarkan perkataan jahat ini.

Tetapi tidak seperti kesempatan sebelumnya ketika Negara Teluk mengambil sikap biasa-biasa saja terkait kebencian terhadap Muslim di India, dunia Arab saat ini lebih vokal dan proaktif. Fakta bahwa kebencian ini dimuntahkan oleh diaspora India yang bekerja di negara-negara ini juga berdampak di negara asal. Ini mungkin bukan pertanda baik bagi ekonomi India, karena para ekspatriat dari kawasan itu mengirim sejumlah besar remitansi (adalah transfer uang yang dilakukan pekerja asing ke penerima di negara asalnya). India memegang posisi teratas sebagai penerima remitansi internasional untuk beberapa tahun saat ini, dengan negara-negara Teluk saja menyumbang lebih dari 50 persen dari jumlah total.

“CoronaJihad, CAA, dan NRC”

Mayoritas kebencian warga India terhadap Muslim beresiko tidak hanya menghancurkan tatanan sosial yang membuat negara itu bersatu dalam dunia yang sangat terpolarisasi, namun juga manfaat ekonomi yang membantu sebagian besar warga negara migrannya.

Tetapi jika beberapa bulan terakhir telah menunjukkan sesuatu, bahkan darurat kesehatan nasional tidak efektif dalam membatasi Islamofobia; sebaliknya, itu dapat menjadi alat utama untuk menyulut Islamofobia.

Antara 28 Maret dan 3 April, hastag ‘CoronaJihad’ muncul tiga ratus ribu kali di Twitter dan hampir 300 juta orang dilaporkan terekspos oleh kebencian ini.

Pertemuan Jamaah Tabligh di Delhi dan framing buruk komunitas Muslim sebagai penjahat hanyalah bab lain dari buku pegangan India tentang cara menarget minoritas.

Mungkin tidak ingin mengacaukan hubungan dengan dunia Arab, yang baru-baru ini menganugerahkannya beberapa penghargaan, Perdana Menteri Modi membayarnya dengan pernyataan yang tertunda dan menyerukan persatuan dalam memerangi pandemi virus corona.

Namun, secara keseluruhan, tidak ada seorang pun di pemerintahannya yang melawan ketika umat Muslim diserang dengan kejam atau ketika insiden boikot sosial dan ekonomi oleh umat Hindu mulai terhadap mereka dilaporkan dari seluruh India.

Tetapi komunitas internasional menunjukkan bahwa mereka tidak buta terhadap kebencian, bahkan jika ia menghadapi masalah tersendiri dalam memerangi pandemi.

Dalam sebuah laporan tahunan, Komisi AS untuk Kebebasan Beragama Internasional (USCIRF) memasukkan India di antara “negara-negara yang menjadi perhatian khusus” yang akan dikenakan sanksi jika mereka tidak memperbaiki catatan mereka.

“Pada 2019, kondisi kebebasan beragama di India mengalami penurunan drastis, dengan minoritas agama di bawah serangan yang meningkat,” kata laporan itu.

Dengan Kanada sekarang bergabung dengan liga, ada harapan bahwa tindakan negara-negara lain akan mengguncang hati nurani kita.*

Artikel ini dimuat di https://theprint.in

Redaktur: Nashirul Haq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:BJPIndiaislamofobiaMuslimPartai Bharatiya Janatavirus corona
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Onani, Batalkan Puasa? Inilah Pernyataan Madzhab Empat dan Dalilnya
Tulisan selanjutnya Staf Gedung Putih Diperintahkan Pakai Masker

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika

Berita
31 Agustus 2026 19:36
10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
Presiden Iran: Jangan Biarkan Wilayah Negara Muslim Dipakai Menyerang Sesama
Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk

Terbaru

  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal

Mungkin Anda Juga Suka

Kampanye Digital Masif dari Arab Diluncurkan untuk Menjatuhkan Sinwar dan Hamas
Analisis

Kampanye Digital Masif dari Arab Diluncurkan untuk Menjatuhkan Sinwar dan Hamas

19 Oktober 2024 15:22
Analisis

NAS Daily Terima Penghargaan dari Lobi ‘Israel’

2 April 2024 21:00
Mundurnya 'Israel' dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?
Analisis

Mundurnya ‘Israel’ dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?

5 Januari 2024 07:00
Analisis

Analisa Mantan Intel AS: Hamas Memenangkan Perang di Gaza

24 November 2023 13:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?