Kekeringan dan Polusi yang Mengintai Mlingotini
BANYAK pemandangan indah, dari danau yang tenang hingga rawa-rawa mangrove. Di samping itu, juga terdapat pepohonan yang subur dan perkebunan kecil, di mana terdapat pohon jagung, ketela, jambu mete, dan mangga. Pemandangan seperti ini sudah sejak lama berkontribusi di desa kecil Mlingotini, Tanzania.
Dalam 10 tahun, rumah-rumah di Mlingotini akan dirubuhkan, bersamaan dengan 4 desa lainnya yang berada pantai ini, yang berjarak 30 mil dari Dar es Salaam. Hal ini untuk memberi ruang bagi pelabuhan senilai USD 10 juta yang akan dibangun oleh China, dan sebuah kawasan ekonomi khusus yang pembangunannya disokong oleh dana dari Kesultanan Oman.
Wilayah selatan dari Bagamoyo, yang dulu terkenal sebagai tempat perdagangan budak terbesar, telah ditetapkan sebagai situs kebudayaan dunia pada 12 tahun silam. China melihat kota ini sebagai Shenzhen yang baru. Sebelum Deng Xiaoping menganggap Shenzen sebagai kawasan ekonomi khusus milik China pada 1979, Shenzen adalah kota kecil berisi nelayan. Saat ini, Shenzen merupakan pusat kemajuan teknologi dan salah satu kota terbesar di dunia.
Jika semua berjalan seperti yang telah direncanakan, maka Bagamoyo akan menjadi pelabuhan terbesar di Afrika, dan hal itu sepertinya akan menjadi kenyataan. Setelah tertunda beberapa tahun, Pemerintah Tanzania menyatakan bahwa saat ini sudah memasuki tahap terakhir pembicaraan dengan perusahaan China National Holding International.
Danau yang disebutkan sebelumnya juga akan digusur agar dapat memberikan akses bagi kapal-kapal kargo berukuran besar, yang akan berjejer hingga bermil-mil menuju laut. Dan dalam rencana awal untuk kawasan ekonomi khusus, terdapat pabrik-pabrik dalam kawasan industri tertutup dan bangunan apartemen untuk mengakomodasi populasi sekitar 75 ribu orang di masa mendatang.
Baca: China Janjikan Investasi $14 Miliar untuk Afrika Selatan
Ada juga pembicaraan terkait pembangunan bandara internasional. Banyak penduduk telah menerima biaya kompensasi untuk penggusuran rumah-rumah mereka.
Pembangunan Ini Mungkin Bermanfaat
“Perbandingannya dengan Pelabuhan Shenzhen sepertinya masuk akal,” kata ahli Afrika-China dari New South Economics, Laurent Johnson. “Apakah pengunjung Pelabuhan Shenzhen pada 1980-an berpikir, ‘Apa yang akan dicapai oleh pelabuhan yang sedang tidur ini?’ Bagamoyo bisa menjadi gerbang perindustrian, tidak hanya bagi Tanzania, yang memiliki banyak masyarakat berusia muda, namun juga bagi negara-negara Afrika yang terkurung oleh daratan. Ada beberapa kemiripan,” tandas Johnson.
Perubahan Pantai Bagamoyo yang telah diusulkan ini adalah sebuah perpanjangan tidak resmi di wilayah timur Afrika, sebagai bagian awal dari Kawasan dan Jalur Belt and Road Initiative (Inisiatif Sabuk dan Jalan) dirintis Presiden Xi Jinping, atau dinamakan sebagai jalan ‘Harare’. Jalan Harare adalah salah satu rangkaian panjang dari pembangunan terbaru China di Afrika.
Dan menjelang Pertemuan China-Afrika bulan mendatang, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, mengajak pemimpin di Afrika untuk ikut andil dalam pembangunan negara yang cepat.
9 tahun telah berlalu pasca China mengalahkan Amerika sebagai mitra dagang Afrika yang terbesar. Meskipun hanya Kenya dan Etiopia yang menandatangani perjanjian dalam Forum Kawasan dan Jalur (Belt and Road Forum/BARF) di Beijing tahun lalu, China sudah sibuk bekerja di Afrika.
Pembangunan utama dari Belt and Road ini adalah rel kereta sepanjang 290 mil yang membentang dari ibu kota Kenya, Nairobi, menuju kota Mombasa.
Perluasan jaringan tersebut telah direncanakan hingga ke Sudan Selatan, Uganda, Rwanda, dan Burundi. Semua pembangunan ini adalah pembangunan infrastruktur terbesar mereka sejak kemerdekaannya.
Baca: Afrika Gunakan Yuan sebagai Cadangan Devisa, Pengaruh Cengkraman Chin?
Investasi China di Seluruh Penjuru Afrika
Sementara itu, Ethiopia terkurung daratan akan mendapatkan rel kereta sepanjang 470 mil dari ibukota Addis Ababa ke pelabuhan di negara tetangga, Djibouti. Pembangunan senilai dua setengah triliun Euro ini dibiayai oleh bank-bank China dan dibangun oleh perusahaan-perusahaan China, dan telah dimulai pada bulan Januari.
Rangkaian rel ringan yang ada di Addis Ababa juga dibiayai dan dibangun oleh China, dan dioperasikan oleh Shenzhen Metro Group. Dan di Djibouti, sebagai ganti dari investasi besar-besaran China, pinjaman istimewa dari China, sistem saluran pipa, dan sebuah bandara, akan mendapatkan pangkalan militer laut lepas dari China.
Saat wilayah timur Afrika sudah menjadi fokus utama dalam semboyan “One Belt One Road” di benua tersebut, pembangunan-pembangunan infrastruktur China sudah membentang jauh hingga ke Angola dan Nigeria, yaitu pelabuhan-pelabuhan yang dirancang sepanjang pantai dari Dakar hingga ke Libreville dan Lagos.
Beijing juga mengisyaratkan dukungannya untuk jaringan kereta cepat Afrika yang diusulkan oleh Uni Afrika.
Lalu muncul pertanyaan, ‘Di mana China akan menghentikan pembangunan di Afrika?’ Pada kesempatan ini, Profesor Steve Tsang, Direktur dari Institut Soas China, mengatakan bahwa jawabannya tidak terlalu jelas, seraya menambahkan, “Jika Anda menyukai pembangunan Belt and Road, maka Belt and Road akan ada. Anda bisa memasukkan apa pun ke dalamnya, itulah cara menghasilkan dukungan untuk pembangunan Anda.”
Pelabuhan baru Bagamoyo dapat dilihat sebagai kebangkitan dari apa yang disebut oleh Tsang sebagai proyek besar pertama milik China di Afrika. Proyek tersebut adalah rel kereta Tazara dari pertambangan batu bara Zambia hingga ke Dar es Salaam.
Proyek Tazara, yang berasal dari tahun 1960-an, saat itu Presiden Mao Zedong memenangkan hubungan persahabatan di Afrika dengan mendukung gerakan anti penjajahan, salah satunya adalah Julius Nyerere di Tanzania. Kemudian pada 1976 rel kereta sepanjang 1.100 mil diresmikan dengan sangat meriah. Ini merupakan pembangunan infrastruktur pertama yang dipahami sebagai pembangunan pertama dalam skala benua Afrika.
Baca: Home Stay: ‘Deradikalisasi dan Indoktrinasi’ ala Komunis China pada Keluarga Muslim
Rumah Sakit, Tempat Bermain Anak, dan Sekolah
Meskipun China USD 95.5 triliun di Afrika antara 2000 sampai 2015, para peneliti dari China Africa Research Initiative menemukan bahwa sebagian besar dari dana pinjaman dihabiskan untuk memecahkan masalah kesenjangan infrastruktur di Afrika.
Sekitar 40% dari dana pinjaman China digunakan untuk pembangunan-pembangunan sumber tenaga, dan 30% lainnya dihabiskan untuk memodernisasi infrastruktur transportasi. Pinjaman-pinjaman itu berada pada tingkat bunga yang rendah dan jangka pembayaran yang panjang.
Masyarakat Afrika melihat hal ini dengan optimis. Hampir dua pertiga dari masyarakat Tanzania memandang orang-orang China sebagai sesuatu yang menguntungkan, dibanding pandangan mereka yang sama terhadap orang-orang Eropa dan Amerika.
Saat Bagamoyo bersiap untuk perubahan besar dari kota yang tidur menjadi pelabuhan raksasa, para penghuni kota sepertinya menyambut baik hal itu. Mulai dari supir taksi di kota dengan pakaian jubah kanzu mereka hingga ke manager restoran yang muda dan modis, mereka semua yakin akan mendapat keuntungan dari lebih banyak aktivitas bisnis, perkantoran, pekerjaan, dan uang yang akan datang.
Recana awal dari pembangunan ini juga termasuk pembicaraan terkait pembangunan sekolah, pusat kesehatan, tempat bermain anak, dan kabel jaringan fiber optik.*
Artikel diambil dari arabstoday.net, diterjemahkan Ja’far Auzan Muzakki