Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Analisis

Pemimpin Arab dan Masalah Umat

Nashirul Haq
Terakhir diupdate: 7 Februari 2020 21:49 9:49 pm
Nashirul Haq
Dipublikasikan 8 Februari 2020 06:00
Bagikan
Bagikan

Oleh: CJ Werleman

Hidayatullah.com | PELUNCURAN rencana perdamaian Presiden AS Donald Trump, janjinya untuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel dengan cara yang adil, tidak hanya menimbulkan penghinaan dan penderitaan rakyat Palestina namun juga memberikan gerakan pemukim yang kuat secara politik setiap keinginan mereka dana janjinya untuk “menghabisi masalah Palestina.”

Alih-alih menempatkan parameter atau road map untuk mengakhiri konflik paling sulit di dunia, rencana itu membenarkan kejahatan perang Israel dan pelanggaran hukum internasionalnya, sementara juga menghidupkan kembali sistem apartheid besar yang tidak pernah dilihat negara manapun dengan klaim demokrasi sejak Afrika Selatan pada tahun 1980-an.

Tidak heran pihak Palestina menolak mentah-mentah rencana Trump, terutama mengingat Palestina dikeluarkan dari perencanaan proposal itu sejak awal. Tidak mengejutkan kalau sebagian besar masyarakat internasional menyebut “Kesepakatan Abad Ini” adalah hal yang “tidak berharga,” “sepihak” dan bahkan “kejahatan” – tetapi reaksi dari sebagian besar dunia Muslim-lah yang mengagetkan.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyampaikan teguran keras, menyebut proposal presiden AS “sebuah rencana untuk mengabaikan hak-hak Palestina dan meligitimasi pendudukan Israel,” serta menyatakan “Jerusalem (Baitul Maqdis) adalah tempat suci bagi umat Islam” dan rencana itu “tidak akan pernah diterima.”

Baca Juga

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Sidang Umum PBB UNGA
Mimpi Buruk Israel: Turki Bangkit Jadi Kekuatan Baru Timur Tengah
Strategi Ibrahim Traoré: Tinggalkan Penjajah Prancis, Dekati Rusia
“Gubernur Konten”,  Antara Pencitraan, dan Polarisasi Digital
Kampanye Digital Masif dari Arab Diluncurkan untuk Menjatuhkan Sinwar dan Hamas
NAS Daily Terima Penghargaan dari Lobi ‘Israel’

Di sisi lain, tanggapan lain dari Negara Teluk Arab berkisar dari dukungan yang hati-hati dan partisipasi yang antusias.

Mesir mendesak Palestina untuk “secara hati-hati mempelajari proposal.” Uni Emirat Arab (UEA) mengatakan proposal itu “menawarkan titik awal penting untuk kembalinya negosiasi dalam kerangka internasional pimpinan AS.”

Qatar menyampaikan apresiasi untuk “upaya Trump,” sementara Arab Saudi pada dasarnya telah bertugas sebagai penghubung masyarakat Trump di regional pada semua tahap peluncuran “Kesepakatan Abad Ini.”

Perlu dicatat bahwa Qatar memang menyerukan negara Palestina “dalam perbatasan 1967, termasuk Jerusalem Timur,” yang bahkan tidak disebutkan oleh negara lain.

Duta besar dari Bahrain, Oman dan UEA hadir di Gedung Putih ketika Trump mengumumkan rencananya, secara efektif menyetujui secara otomatis tanpa pertimbangan proposal dan kegiatan yang tidak dihadiri Palestina.

Jika pada dua tahun terakhir telah mengungkapkan penataan kembali sistem internasional, itu adalah keinginan negara Teluk Arab, dan negara Muslim lain, untuk secara diam-diam dan implisit mendukung pelanggar HAM terburuk dunia terhadap minoritas Muslim, termasuk persekusi Muslim di China, langkah represif India di Kashmir dan perlakuan buruk Muslim di India, serta tidak bertindaknya dalam genosida Rohingya, orang-orang yang pada dasarnya terbuang sementara upaya-upaya telah dilakukan untuk memulangkan mereka kembali ke Myanmar.

Kita tidak boleh mengabaikan fakta bahwa koalisi pimpinan Saudi bertanggungjawab atas banyak kesengsaraan di Yaman, yang seringkali digambarkan sebagai “krisis kemanusiaan terbesar dunia,” dan UEA dan Mesir yang mendukung panglima perang Haftar, yang memimpin beberapa milisi paling keras dan ekstrim di Afrika.

Dengan diam-diam atau hati-hati mendukung rencana Trump untuk menindas rakyat Palestina melalui tangan penjajah mereka, sementara itu pada saat yang sama, menutupi kejahatan HAM yang berkaitan dengan China dan India, pemerintah Arab, UEA, Qatar, Bahrain, Oman, Kuwait, Iraq, dan Suriah telah menjadi penandatangan yang sepakat dengan beberapa tindakan terburuk yang dilakukan negara kuat terhadap keyakinan agama paling ditarget sejak Holocaust.

Tahun lalu, ketika koalisi dari 22 anggota – kebanyakan negara demokrasi Barat, termasuk Amerika Serikat – ikut menandatangani surat yang menyerukan Beijing untuk mengakhiri pelanggaran HAMnya terhadap 13 juta Muslim Uighur di Xinjiang, puluhan negara Timur Tengah, Muslim dan Afrika membalas itu dengan menandatangani surat mereka sendiri. Surat itu mengulangi sikap resmi China yang menyatakan dukungan terhadap “langkah-langkah anti-terorisme” negara superpower Asia dan memuji kamp-kamp “pelatihan kejuruannya.”

Tidak termasuk Qatar, yang sejak itu menarik tanda tangannya, pemerintah negara-negara ini telah menghitung bahwa nilai investasi dan perdagangan Tiongkok jauh lebih bernilai daripada kehidupan 13 juta Muslim Uighur.

Kalkulus ini juga mendorong respon diam mereka terhadap pencabutan Pasal 370 konstitusi India, dan penguncian militer hampir selama enam bulan dan pemadaman komunikasi yang mengikutinya.

Faktanya, UEA telah memuji langkah-langkah represif India di wilayah mayoritas Muslim, mengklaim pencabutan Pasal 370 akan “meningkatkan keadilan sosial dan keamanan… dan memajukan keseimbangan dan perdamaian,” sementara Arab Saudi telah mengambil langkah serupa dengan menyepelekan masalah rakyat Kashmir dengan menyebutnya “masalah internal.”

“Respon bisu ini ditanggung oleh lebih dari 100 miliar dolar AS perdagangan tahunan dengan India yang menjadikannya salah satu mitra ekonomi Semenanjung Arab paling berharga,” kata Associated Press.

Statistik perdagangan luar negeri resmi mengungkapkan negara-negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC) termasuk di antara mitra dagang terbesar India dalam hal barang yang diekspor dan diimpor pada 2019, dengan investasi India di UEA melampaui 55 miliar dolar AS, sementara Arab Saudi adalah pemasok minyak terbesar kedua India.

“Sebagai pasar yang berkembang untuk minyak dan gas Arab, sebagai sumber personel yang sangat terlatih dan kompeten, dan sebagai negara yang bersahabat dengan militer yang kuat dan minat yang kuat dalam stabilitas geopolitik, India adalah tetangga yang berharga di bagian berbahaya dunia, ” The Wall Street Journal mengungkapkan pengamatannya.

Terlepas dari klaim mereka sebagai “penjaga Islam” dan “pelindung umat Islam,” monarki Arab telah menunjukkan bahwa mereka masih (hanya) peduli pada dua hal: melawan Iran di setiap kesempatan, dan menumbuhkan hubungan perdagangan dengan negara-negara kuat yang melakukan pelanggaran HAM terhadap Muslim.

Tidak masalah berapa banyak pria, wanita, dan anak-anak Muslim dikurung, disiksa, dibunuh dengan gas dan dibunuh di sepanjang jalan. Jelas, masih sebatas upaya memperkaya takhta mereka.*

Artikel dimuat TRTWorld
(foto cari Pangeran Mohammad Bin Salman bersama Donaldt Trump)

Redaktur: Nashirul Haq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:arab saudiASDonald TrumpKesepakatan Abad IniNegara Teluk ArabpalestinaQatarTimur TengahUEA
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Puluhan Dokter Senior Prancis Mundur karena Kondisi Tempat Kerja Buruk
Tulisan selanjutnya Pelaku Penembakan di Walmart El Paso Didakwa 90 Kejahatan Kebencian

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Berita
2 Juni 2026 21:41
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Mundurnya 'Israel' dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?
Analisis

Mundurnya ‘Israel’ dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?

5 Januari 2024 07:00
Analisis

Analisa Mantan Intel AS: Hamas Memenangkan Perang di Gaza

24 November 2023 13:00
Invasi Darat Israel ke Gaza
AnalisisArtikel

3 Skenario Invasi Darat Israel Menurut Pakar Keamanan Internasional

1 November 2023 06:10
Analisis

Serangan Pejuang Kemerdekaan Palestina  terhadap ‘Israel’ Makin Menampakkan Kemunafikan Barat

11 Oktober 2023 21:55
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?