Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Analisis

“Wajah Baru” Taliban (2)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 6 September 2021 20:10 8:10 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 September 2021 20:10
Bagikan
wajah baru taliban bendera afghanistan
Bagikan

Oleh: Dhurorudin Mashad

Sambungan dari artikel pertama

Hidayatullah.com | PEMIMPIN tertinggi Taliban, Haibatullah Akhunzada, menginginkan pemerintahannya mendukung penyelesaian politik untuk konflik Afghanistan. Setiap peluang pembentukan sistem Islam, perdamaian, dan keamanan yang muncul dengan sendirinya akan dimanfaatkan oleh Emirat Islam Afghanistan.

Ketika bicara kekuasaan pada level negara, Taliban “wajah baru” menjadi tak bisa dipisahkan dari diplomasi dan negosiasi politik. Diplomasi atau perang hanyalah sarana untuk meraih kemenangan.

Bahkan, diplomasi pun hakikatnya merupakan perang dalam wujud lain. Keduanya sama-sama menjadi instrumen politik, yang akan dipakai sesuai kebutuhan dan situasi.

Baca Juga

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Sidang Umum PBB UNGA
Mimpi Buruk Israel: Turki Bangkit Jadi Kekuatan Baru Timur Tengah
Strategi Ibrahim Traoré: Tinggalkan Penjajah Prancis, Dekati Rusia
“Gubernur Konten”,  Antara Pencitraan, dan Polarisasi Digital
Kampanye Digital Masif dari Arab Diluncurkan untuk Menjatuhkan Sinwar dan Hamas
NAS Daily Terima Penghargaan dari Lobi ‘Israel’

Kedua instrumen tadi tampaknya sedang dijalankan Taliban guna meredam munculnya musuh dari luar di saat Taliban sedang fokus menjinakkan musuh dalam negeri, yaitu pemerintah boneka yang disokong penjajah. Atas pertimbangan itu pula, Taliban dengan sigap menjalin hubungan diplomatik dengan Iran, Rusia, bahkan Cina yang oleh dunia Islam (bahkan Barat) disebut harus bertanggung jawab atas pelanggaran HAM terhadap kaum Muslim Uighur.

Tetapi bagi siapapun kelompok yang antipati pada Taliban, langkah inklusif tadi selalu dicurigai sebagai muslihat untuk mencari simpati.  Menurut mereka, pelan tapi pasti Taliban akan kembali ke wajah aslinya, rezim yang oleh negara Islam Iran pernah disebut berwajah Islam abad pertengahan.

Bahkan, tampilnya kembali Taliban disebut akan berpengaruh pada tumbuh suburnya radikalisme di negara-negara lain.

Sudut pandang yang bertolak dari rasa antipati ini jelas sangat bermasalah, sebab analisis yang dilakukan telah digiring oleh imajinasi di kepala. Sikap antipati ketika dijadikan landasan analisis hanya akan melahirkan kesimpulan tak sahih bahkan cacat nalar, sehingga menghasilkan solusi menyesatkan.

Terperangkapnya AS dan sekutunya dalam perang dua dekade di Afghanistan adalah contoh dari hasil analisis tendensius dan menyesatkan. Akibatnya, tak pernah menghasilkan solusi (penyelesaian) secara paripurna.

Pendekatan Empati

Berdasar pengalaman kelam rontoknya kedigdayaan dua Super Power di Afghanistan: Soviet (1979-1989) dan AS (2001-2021), maka langkah yang paling bijak untuk mewujudkan perdamaian Afghanistan adalah empati (baca: bukan simpati). Semua pihak harus menganalisis Taliban melalui pendekatan empati. Yakni melihat Afghanistan dari sudut pandang masyarakat Afghanistan, melihat Taliban dari sudut pandang kaum Taliban. Untuk itu semua pihak perlu memahami kultur dan karakter yang melandasi perilaku Taliban.

Meskipun AS dan sekutunya membenci Taliban –yang karenanya “seluruh dunia” ikut memusuhinya– tetapi faktanya Taliban didukung mayoritas masyarakat Afghanistan. Atas dasar itu, AS dan berbagai kekuatan antipati perlu mulai memahami seluk beluk Pashtunwali dan menyikapi Taliban sesuai dengan prinsip tadi.

Barat harus berbicara dengan Taliban dengan menggunakan prinsip Pashtunwali. Sebab, seorang pemimpin suku Pashtun yang terhormat tidak bisa “menegakkan wajah” jika dia melanggar norma Pashtunwali.

Sikap kaku Taliban yang tidak menyerahkan Usamah bin Laden kepada AS di tahun 2001 misalnya, juga didasarkan pada premis ini. Padahal sikap itu harus ditebus dengan penyerangan oleh AS dan sekutunya.

Pimpinan Taliban saat itu, Mullah Omar, tak punya pilihan selain mematuhi Pashtunwali. Jika tidak, dia akan menghadapi pemberontakan di antara jajarannya sendiri.

Masalah bin Laden sebenarnya tidak ada hubungannya dengan tradisi Islam, tetapi mengikuti prinsip tak tertulis yang telah berusia ribuan tahun.  Yakni bahwa seorang Usamah bin Laden adalah tamu yang harus dilindungi, apalagi tamu yang sangat berjasa dalam perjuangan Afghanistan (periode pra-Taliban) ketika melawan penjajah komunis Uni Soviet.

Dalam konteks Pashtun dan atau Taliban, “harus diakui” bahwa kekuatan nilai dan tradisi terkadang lebih kuat daripada kekuatan agama. Oleh sebab itu, ketika menganalisis mereka dengan mencampurkan agama dengan nilai-nilai budaya akan menjadi kesalahan besar. Termasuk kecurigaan bahwa bila Taliban berkuasa,  niscaya akan tumbuh subur radikalisme Islam dimana-mana.

Dalam konteks Taliban, analisis tadi sangat menyesatkan, sebab secara historis Pashtun berkarakter nasionalis bahkan etnosentris. Mereka konservatif dalam pendekatan untuk melestarikan dan menjaga Pashtunwali.

Berdasar logika itu, dapat diproyeksikan bahwa Taliban:

  • Taliban tak akan pernah mengingkari “wajah baru” yang dijanjikan, sebab komitmen merupakan salah satu inti dari Pashtunwali.

 

  • Tak akan pernah mengekspor tipe “keislamannya”, sebab Taliban adalah Muslim yang Pashtun, sebuah karakter etnis yang tak akan cocok diekspor ke (diterapkan di) wilayah lain. Justru sebaliknya, radikalisme Islam tampaknya akan menjadi subur bila Taliban –yang didukung oleh sebagian besar rakyatnya–  selalu dimusuhi dari berbagai sisi. Afghanistan yang tak kunjung stabil justru akan menjadi wahana ideal tempat latihan kaum radikalis untuk melawan kaum kafir.

Sejarah masuknya para pejuang Muslim dari manca negara guna membantu Mujahidin Afghanistan ketika melawan komunis Soviet (sebelum lahirnya Taliban) kiranya menjadi pelajaran berharga. Sebab, seiring mundurnya Soviet dari Afghanistan (tahun 1989), para veteran perang Afghanistan  –yang kala itu justru divasilitasi Barat melalui pembentukan Maktab al-Khadimat di negara-negara mereka–  akhirnya pulang. Sebagian di antaranya bermetamorfosis menjadi oposan-kombatan terhadap pemerintahnya sendiri. Bahkan sebagian ada yang bergabung dalam jaringan al-Qaeda yang menjadikan Barat sebagai musuh utamanya.*

Baca artikel pertama “Wajah Baru” Taliban

Peneliti di Pusat Penelitian Politik (P2P) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AfghanistanideologiTaliban
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya afghanistan negara bebas Taliban: Bantuan Internasional untuk Memerangi Terorisme Tidak Dibutuhkan
Tulisan selanjutnya Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah 2022 secara Daring dan Luring, Pertimbangkan Kemaslahatan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Global Sumud FLotilla
Berita

Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Berita
30 Mei 2026 09:51
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Mundurnya 'Israel' dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?
Analisis

Mundurnya ‘Israel’ dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?

5 Januari 2024 07:00
Analisis

Analisa Mantan Intel AS: Hamas Memenangkan Perang di Gaza

24 November 2023 13:00
Invasi Darat Israel ke Gaza
AnalisisArtikel

3 Skenario Invasi Darat Israel Menurut Pakar Keamanan Internasional

1 November 2023 06:10
Analisis

Serangan Pejuang Kemerdekaan Palestina  terhadap ‘Israel’ Makin Menampakkan Kemunafikan Barat

11 Oktober 2023 21:55
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?