Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Analisis

Mencermati Krisis Politik di Pakistan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 9 September 2014 15:39 3:39 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 9 September 2014 11:12
Bagikan
Aktivis Pakistan Tehreek-e-Insaaf (PTI) saat mengadakan aksi di Peshawar
Bagikan

Oleh: Muladi Mughni

LEBIH tiga pekan sudah –mulai tanggal 14 Agustus 2014- demonstrasi dengan aksi jalan panjang (long march) melewati kota dan provinsi menuju titik Islamabad berlangsung di Pakistan.

Aksi protes yang dikoordinir oleh Pakistan Tehreek-i-Insaf (PTI) pimpinan Imran Khan dan Pakistan Awami Tehreek (PAT) pimpinan Dr. Tahirul Qadri saat ini telah berhasil menduduki “red zone” dimana gedung Parlemen, Istana Presiden, Mahkamah Agung dan kedutaan asing berada. Protes yang diikuti oleh sekitar 50 ribu pendukung PTI dan PAT yang mengusung aksinya dengan “Azadi March dan Revolution March,” diprediksi akan terus berlangsung sampai dengan tuntutan mereka tercapai yaitu turunnya Nawaz Sharif dari kursi Perdana Menteri.

Selama ini aksi protes yang di antaranya mengangkat isu kecurangan dalam pemilu tahun 2013 berlangsung damai. Namun tepat pada hari ke-18 (31/8/14), ketika massa mulai mencoba meringsek untuk memasuki area sekretariat PM yang dijaga ketat oleh aparat, barulah terjadi bentrokan yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan ratusan terluka. Awalnya pemerintah lebih memilih bersikap defensif dengan menambah jumlah aparat keamanan, sehingga total jumlah personil keamanan yang diterjunkan hampir sama dengan peserta demonstran.

Long March sebagai alat penggulingan kekuasaan

Baca Juga

Bagaimana Pakta Pertahanan Mekkah Bisa Mengubah Peta Ekonomi Timur Tengah?
Menguak Penyebab Kerusuhan Hindu dan Muslim di Nepal
Mimpi Buruk Israel: Turki Bangkit Jadi Kekuatan Baru Timur Tengah
Strategi Ibrahim Traoré: Tinggalkan Penjajah Prancis, Dekati Rusia
“Gubernur Konten”,  Antara Pencitraan, dan Polarisasi Digital

Kalau kita mencermati peristiwa politik long march di Pakistan, bukanlah yang kali pertama terjadi. Dalam rekam jejak peristiwa politik di Pakistan, setidaknya long march telah dilakukan berkali-kali sebagai alat penggulingan kekuasaan sejak tahun 1992 dengan hasil dan konsekuensi politik yang berbeda-beda. Dapat diasumsikan bahwa kesuksesan maupun kegagalan proses perubahan yang diusung oleh kalangan oposisi melalui long march, ditentukan oleh faktor “kesepahaman” antara politisi oposan dengan kalangan militer.

Sebut saja pada tahun 1992, ketika long march dari kota Lahore dan Larkana (Karachi) menuju Islamabad yang dikoordinir oleh mendiang PM Benazir Bhutto dan Ibunya Begum Nusrat Bhutto untuk misi menjatuhkan pemerintahanan yang pertama Nawaz Sharif. Sejarah mencatat aksi long march  tersebut berujung dengan kegagalan, massa dihalau oleh aparat keamanan dan Benazir Bhuto mengalami luka parah sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Sementara massa yang dipimpin oleh Ibunya dari Karachi pun dipukul mundur oleh aparat dan Beghum Bhutto harus menjalani tahanan rumah akibat aksinya tersebut. Belakangan diketahui bahwa aksi long march tersebut tidak mendapatkan ‘restu’ dari kalangan militer. Sebaliknya justru secara cerdik PM Nawaz Sharif telah melakukan kesepahaman mutualisme dengan Chief of Army Staff (COAS) Jenderal Asif Nawaz saat itu.

Lalu pada tahun berikutnya (1993) Benazir Bhutto kembali melakukan aksi long march, namun konstalasi politik dan dukungan militer terhadap long march kali ini berubah. Militer sepenuhnya merestui dan bahkan telah meratakan jalan bagi mulusnya proses penggulingan pemerintahan Nawaz Sharif. Terseruak kabar disharmonisasi antara PM Nawaz Sharif dengan COAS, Jenderal Abdul Waheed Kakar kala itu, sehingga langkah politik Benazir Bhutto untuk menggulingkan PM Nawaz Sharif menemukan momentumnya. Lalu militer mengambil alih kekuasaan dan berjanji akan segera melangsungkan pemilu dalam waktu 90 hari. Walhasil  Benazir Bhutto sukses melenggang menjadi Perdana Menteri.

Selanjutnya pada tahun 1996 untuk kedua kalinya Nawaz Sharif menjadi PM setelah Benazir Bhutto diberhentikan oleh Presiden Farooq Ahmad Sardar Leghari yang ditunjuknya. Namun belum genap dua tahun memerintah, kembali Benazir Bhutto melakukan aksi menentang pemerintahan Nawaz Sharif dengan membetuk aliansi demokrasi 1998 yang menghimpun 11 partai politik oposisi.

Militer yang saat itu dipimpin oleh Jenderal Pervez Musharraf merestui upaya pendongkelan kekuasaan tersebut. Namun nampaknya Nawaz Sharif mengetahui upaya persekongkolan antara beberapa pimpinan parpol dengan militer tersebut. Lalu dengan cepat Musharaf dipecatnya, namun naasnya justru berujung pada kudeta militer tanpa berdarah. Setelah berhasil mengambil alih kekuasaan, Musharaf yang awalnya berjanji akan mendukung Benazir Bhutto dan melaksanakan pemilu dalam waktu 90 hari ingkar janji. Musharaf justru lebih memilih rangkap jabatan sebagai Presiden dan COAS sampai selama 10 tahun. Pada saat itulah Pakistan berada dalam sistem pemerintahan militer dan seolah konstitusi berubah dari parlementer menjadi presidensil.

Terlepas dari kemajuan yang dicapai selama kepemimpinan Musharaf, nampaknya penentangan terhadap pelanggaran konstitusi dan sistem pemerintahan yang dilakukan oleh rezim Musharaf mencapai klimaksnya. Sehingga pada tahun 2008 Musharaf pun dituntut mundur dan kemudian pemerintahan kembali di tangan sipil yang dipimpin oleh partai mendiang Benazir Bhutto (PPP). Dan yang terakhir pada tahun 2009, Nawaz Sharif yang baru keluar dari pengasingannya (exiled) di Arab Saudi, berhasil memanfaatkan momentum protes long march para ahli hukum/hakim dalam menuntut restorasi judiciary dan pengangkatan kembali Iftikhar M. Choudry sebagai Hakim Agung. Lagi-lagi yang terlihat mencolok saat itu adalah restu COAS, Jenderal Ashfaq Pervez Kiani terhadap aksi long march tersebut. Sehingga pada tahun 2013 ketika dilaksanakan pemilu, partai Nawaz Sharif (Pakistan Muslim League-Nawaz) berhasil memenangkan pemilu legislatif dan Nawaz terpilih untuk ketiga kalinya menjadi PM.*/bersambung Disharmoni Nawaz Sharif dan militer

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
12Halaman selanjutnya
TAG:Pakistan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya RUU KKG, Beban Ganda terhadap Perempuan (2)
Tulisan selanjutnya Ditawari Mega Menteri, Risma Pilih jadi Dosen ITS

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah

Berita
31 Agustus 2026 20:04
Bahtsul Masail Qanuniyah Muktamar ke-35 NU akan Bahas RUU Perampasan Aset
STAI Al Bayan Gelar Wisuda Angkatan II, Ketum DPP Hidayatullah Pesankan Alumni Kuatkan Takwa Hadapi Tantangan Zaman
AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
Lima Nama Bakal Caketum PBNU Disepakati, Ada Gus Kikin, Yahya Staquf hingga Kiai Zulfa

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Kampanye Digital Masif dari Arab Diluncurkan untuk Menjatuhkan Sinwar dan Hamas
Analisis

Kampanye Digital Masif dari Arab Diluncurkan untuk Menjatuhkan Sinwar dan Hamas

19 Oktober 2024 15:22
Analisis

NAS Daily Terima Penghargaan dari Lobi ‘Israel’

2 April 2024 21:00
Mundurnya 'Israel' dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?
Analisis

Mundurnya ‘Israel’ dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?

5 Januari 2024 07:00
Analisis

Analisa Mantan Intel AS: Hamas Memenangkan Perang di Gaza

24 November 2023 13:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?