TAUHID adalah bentuk masdar dari kata wahhada-yuwahhidu-tauhidan. Artinya jika disebut kata bilangan satu, maka dia bilangan yang tidak dapat terbagi.
Secara bahasa artinya meng-Esakan. Menurut syariat meyakini keesaan Allah Subhanahu Wata’ala. Adapun yang disebut ilmu tauhid adalah ilmu yang membicarakan tentang akidah atau kepercayaan kepada Allah dengan didasarkan pada dalil-dalil yang benar. Tidak ada yang menyamainya dan tak ada padanan bagi-Nya. Mustahil ada yang mampu menyamai-Nya.
Ibnu Taimiyah membagi tauhid menjadi tiga; Uluhiyah, Rububiyyah dan Asma’ wa al-Shifat.
Tauhid rububiyyah yaitu mengesakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam segala perbuatan dengan meyakini bahwa Allah yang menciptakan segenap makhluk-Nya. Dalilnya firman Allah dalam surat Az-Zumar ayat 62, surat al-Fatihah ayat 2, surat Hud ayat 6, dan seterusnya.
Tauhid uluhiyyah yaitu mengesakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam hal peribadatan, hanya beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan meniadakan peribadatan selain-Nya. Allah berfirman dalam surat Al-Isra’ ayat 22 yang artinya “Janganlah kamu mengadakan Tuhan yang lain di samping Allah, nanti engkau menjadi tercela dan terhina.”
Tauhid asma’iyah wa sifatiyah yaitu beriman dengan nama-nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan sifat-sifat-Nya, sebagaimana yang diterangkan dalam al-Quran maupun as-Sunnah. Menurut apa yang pantas bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala tanpa menta’wilkan, tanpa menghilangkan makna atau sifat Allah dan tanpa mempersoalakan hakekat asma maupun sifat-Nya dengan bertanya bagaimana.
Allah berfirman dalam surat As-Syura ayat 11 yang artinya “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Namun sebagian kalangan menilai, pembagian tiga hal tersebut tidak dikenal semenjak jaman Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam.
Mahdzab-mahdzab yang salah dalam memaknai Tauhid Asma’iyah wa Sifatiyah, yaitu;
1. Jahmiyah (pengikut Jahm bin Shofwan) adalah orang-oarang yang tidak meyakini asma’ dan sifat-sifat Allah di dalam al-Quran dan Hadits.
2. Mu’tazilah (pengikut Washil bin Atho’ah) adalah orang-orang yang menetapkan asma’ Allah dengan tanpa meyakini sifat-sifat Allah. Akan tetapi penetapan asma Allah dari mereka tidak sesuai dengan Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
3. Al-Musyabbihah adalah orang-orang yang menyamakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat manusia pada umumnya.
Nama lain dari tauhid di antaranya, seperti;
1. As-Shunnah yaitu Abu A’shim telah menulis kitab tentang tauhid kemudian kitabnya diberi nama As-sunnah.
2. Al-Ushul yaitu Abu Umar At-Tholamankiy telah menulis kitab tentang tauhid dan diberi nama Al-Ushul.
3. Al-Fiqhul Akbar yaitu Imam Abu Hanifah telah menulis kitab tentang tauhid dan diberi nama Fiqhul Akbar (karena tauhid dinisbatkan kepada furudhul iman, red).
Pedoman tauhid Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah kitab Al-Qur’an, As-Sunnah (Hadits, red) dan Ijma’ (kesepakatan para ulama,red). Adapun selain dari tiga pedoman ini maka tidak dijadikan sandaran tauhid.
Ushul Aqidah (pokok akidah) adalah enam rukun-rukun iman. Dalilnya dalam surat Al-Baqarah ayat 285 yang artinya, “Rasulullah telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya dan juga orang-orang yang beriman semuanya beriman kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya, dan kitab-kitab-Nya, dan Rasul-Rasul-Nya. (Mereka berkata): ‘Kami tidak membedakan antara seorang dengan yang lain dari Rasul-Rasul-Nya’. Mereka berkata lagi: ‘Kami dengar dan kami taat. (Kami mohonkan) ampunan-Mu wahai Tuhan Kami, dan kepada-Mu jualah tempat kami kembali.”
Dengan bertauhid, darah dan harta kita bisa terjaga oleh Islam, Rasuluuloh Shollallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda; dari Ibnu Umar Rhadiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan sholat dan zakat. Jika mereka melaksanakan hal itu maka terlindunglah dariku darah dan harta mereka, dan perhitungan mereka diserahkan kepada Allah.” (Riwayat Bukhori Muslim).
Pokok sandaran tauhid mu’tazilah adalah akal, sedang Syi’ah Rafidhah, sandaran akidah adalah perkataan pemimpin imamiyah.*/Abu Fawwas