Hidayatullah.com—Pemerintah Iran berjanji Iran telah berjanji untuk membela rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad “sampai titik akhir”, untuk menunjukkan dukungan dalam menghadapi kemunduran yang signifikan di medan perang.
Tentara Suriah menghadapi tekanan kuat dalam menghadapi para milisi-milisi pejuang pembebasan dalam perang selama empat tahun terakhir.
Akibatnya, kini rezim Assad sangat bergantung pada dukungan Iran untuk mengisi kesenjangan keuangan dan tenaga kerja akibat kehilangan sebagai kehilangan wilayah dan dukungan.
“Iran akan tetap berada di sisi Suriah dan pemerintahnya sampai akhir perjuangan,” demikian disampaikan Presiden Iran, Hassan Rouhani sebagaimana dikutip media Iran, IRNA belum lama ini.
“Teheran tidak akan melupakan kewajiban moral kepada Suriah dan akan terus memberi bantuan dan dukungannya tanpa batas kepada pemerintah dan bangsa Suriah,” ucap Rouhani dalam pidatonya hari Selasa dalam pertemuan dengan Ketua Parlemen Suriah Mohammad al-Lahham di Teheran. Dia mengatakan Teheran tidak melupakan nya “kewajiban moral” untuk membantu rezim Suriah, demikian ujar Rouhani dilansir Reuters.
Dikutip media Iran, IRIB News, hari Senin (01/06/2015) Ali Larijani, Ketua Parlemen Iran dan Mohammad Al-Laham, memimpin delegasi parlemen dua negara dalam perundingan. Ketua Parlemen Suriah bersama rombongan tiba pekan ini di Tehran.
Selain bertemu dengan Ketua Parlemen Iran, rencanaya Mohammad Al Laham juga dijadwalkan akan menemui beberapa petinggi Iran lainnya.
Kunjungan al-Laham adalah kunjungan terbaru dalam serangkaian kunjungan tingkat tinggi antara Damaskus dan Teheran, mencerminkan koordinasi yang erat adanya tekanan kuat pada Assad.
Pernyataan Rouhani datang sehari setelah Qassem Soleimani, Komandan Pasukan elit Quds-Iran, berjanji bila masyarakat internasional akan “terkejut” oleh perkembangan wilayah Suriah dalam beberapa hari mendatang. Soleimani baru-baru ini melakukan tur wilayah utara Latakia, jantung pesisir sekte Syiah Alawi.
Kekuatan Syiah Iran telah didukung Bashar al Assad dan ayahnya sejak jauh sebelum pemberontakan pada tahun 2011, yang belangan berkembang menjadi perang panjang setelah pasukan pemerintah rezim membantai rakyatnya sendiri akibat menginginkan perubahan.
Ayah Bashar, Haffez al-Assad berpihak kepada Iran dalam “Perang Iran Iraq” (1980-1988).
Mohsen Rafiqdust, mantan menteri Pasdaran (Korps Pengawal Revolusi Iran) di era perang melawan Saddam Hussein, kepada Fars News pernah mengungkapkan alsan dukungan Iran kepada pemerintah Suriah.
Menurutnya, Suriah termasuk di antara segelintir negara yang berada di samping Iran dan memberikan bantuan terbanyak dari sektor militer di era Hafez Assad (Ayah Bashar al-Assad).
“Ketika Iran saat itu memiliki sedikit pengalaman, Suriah memberikan bantuan pelatihan satuan rudal dan roket Pasdaran dan juga memberikan bantuan persenjataan, pada era Perang Pertahanan Suci melawan rezim Saddam,” katanya.
Phillip Smyth, seorang peneliti di University of Maryland yang juga dikenal ahli Syiah mengatakan, sekitar 10.000 orang Iraq, antara lima dan tujuh ribu adalah petempur Syiah Hizbullah-Libanon sudah berada di Suriah sejak pertama kali dimulainya konflik.
Iran juga menawarkan ribuan dolar untuk tentara bayaran Syiah asal Afghanistan dan Pakistan untuk bisa bergabung melawan milisi pejuang pembebasan.*