Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

’Tsunami Pelecehan Seks’ Guncang ‘Kerahasiaan Kepausan’ Gereja Katolik Roma [1]

Nashirul Haq
Terakhir diupdate: 26 Desember 2019 11:10 11:10 am
Nashirul Haq
Dipublikasikan 26 Desember 2019 08:51
Bagikan
Monsinyur John Kennedy, kepala Kongregasi untuk Ajaran bagian disiplin Iman, melihat-lihat file di kantornya selama wawancara di Vatikan (09/12/2019).
Bagikan

Hidayatullah.com–Otoritas Vatikan yang bertanggung jawab untuk memproses keluhan-keluhan pelecehan seksual kependetaan telah menerima 1.000 laporan dari seluruh dunia pada tahun ini, termasuk dari negara yang belum pernah otoritas terima sebelumnya – menunjukkan bahwa yang terburuk mungkin belum terjadi dalam krisis yang telah mengguncang Gereja Katolik Roma.

Hampir dua dekade setelah Vatikan memikul tanggung jawab untuk meninjau semua kasus pelecehan, Kongregasi bagi Doktrin Iman atau dikenal sebagai CDF hari ini kewalahan, berjuang dengan staf yang jumlahnya tidak bertambah untuk menghadapi kedatangan kasus pelecehan yang jumlahnya empat kali lipat pada tahun 2019 dibandingkan dengan satu dekade lalu.

“Saya tahu kloning bertentangan dengan ajaran Katolik, tetapi jika Saya bisa benar-benar mengkloning staf saya dan meminta mereka bekerja tiga shift sehari atau bekerja tujuh hari dalam seminggu,” mereka mungkin dapat membuat kemajuan yang diperlukan, kata Monsignor John Kennedy, ketua komite disiplin yang berafiliasi dengan Kongregasi Doktrin Iman (CDF) di Vatikan, yang memproses kasus-kasus tersebut.

“Kita secara efektif melihat tsunami kasus pelecehan saat ini, terutama dari negara-negara di mana kami tidak pernah mendengar (sebelumnya),” kata Kennedy, merujuk pada tuduhan pelecehan yang terjadi sebagian besar bertahun-tahun atau berdekade yang lalu. Argentina, Meksiko, Chile, Italia, dan Polandia telah bergabung dengan Amerika Serikat (AS) dalam daftar negara dengan kasus terbanyak yang diterima kongregasi.

Kennedy berbicara pada The Associated Press dan mengizinkan seorang fotografer dan jurnalis video AP masuk ke dalam ruangan dewan CDF – pertama kalinya dalam sejarah pengadilan Katolik memberi akses kepada media berita visual. Bahkan lembaga paling rahasia Vatikan saat ini merasa perlu untuk menunjukkan beberapa transparansi ketika hirarki gereja berusaha membangun kembali kepercayaan dengan umat Katolik yang telah kecewa dengan pelecehan dan penyalahgunaan yang ditutupi selama beberapa dekade.

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

Paus Fransiskus mengambil langkah untuk menunjukkan transparansi yang lebih besar dengan keputusannya minggu ini yang menghapuskan “rahasia kepausan” yang mengatur proses kasus-kasus pelecehan untuk meningkatkan kerja sama dengan penegakan hukum sipil.

Tetapi perjuangan CDF masih, dan merupakan simbol dari penyelewengan menyeluruh dari sistem hukum internal gereja, yang bergantung pada uskup dan pemimpin agama, beberapa di antaranya tidak memiliki pengalaman hukum atau diakui sebagai ahli hukum kanonik, untuk menyelidiki tuduhan pelecehan seksual yang bahkan jaksa penuntut kriminal paling berpengalaman kesulitan menguraikannya. Sistem itu sendiri dibangun di atas konflik kepentingan yang melekat, dengan seorang uskup diminta untuk mempertimbangkan klaim dari seorang korban yang tidak dikenal terhadap kata-kata seorang pendeta yang dia anggap sebagai anak spiritualnya.

Terlepas dari janji “toleransi nol” dan pertanggungjawaban, penerapan undang-undang baru dan pembentukan komisi ahli, Vatikan menemukan dirinya masih berjuang untuk berhadapan dengan pendeta-pendeta predator – sebuah bencana yang pertama kali mencuat di publik di Irlandia dan Australia pada tahun 1990an, AS pada tahun 2002, beberapa bagian Eropa pada tahun 2010 dan Amerika Latin pada tahun lalu.

“Jika saya bukan pendeta dan Saya memiliki seorang anak yang dilecehkan, Saya mungkin akan berhenti pergi ke Misa,” kata Kennedy, yang menyaksikan secara langsung bagaimana gereja di negara asalnya Irlandia kehilangan kredibilitasnya karena skandal pelecehan.

“Saya mungkin akan berhenti berhubungan dengan gereja karena saya mengatakan, ‘Baiklah, jika kalian tidak bisa menjaga anak-anak, ya, kenapa saya harus percaya kalian?”

Tetapi dia mengatakan Vatikan berkomitmen untuk memerangi pelecehan dan hanya membutuhkan lebih banyak waktu untuk memproses kasus-kasus tersebut. “Kami akan melihatnya secara forensik dan menjamin bahwa hasil yang adil akan diberikan,” katanya dalam sebuah wawancara.

“Ini bukan tentang memenangkan kembali orang-orang, karena iman adalah sesuatu yang sangat pribadi,” tambahnya. “Namun setidaknya kami memberikan orang-orang kesempatan untuk mengatakan, ‘Yah, mungkin memberikan gereja kesempatan kedua untuk mendengar pesan itu.’

Baca: Gereja Katolik Prancis Akan Beri Ganti Rugi Korban Pendeta Cabul

*

Terletak di palazzo berwarna mustard tepat di depan gerbang Vatikan, CDF berperan sebagai kantor yang mengurus kasus-kasus penyalahgunaan serta pengadilan banding bagi para pendeta yang tertuduh di bawah hukum keuskupan gereja, sebuah sistem hukum paralel untuk penegakan hukum sipil yang menyalurkan keadilan gereja.

Di masa lalu, ketika CDF dikenal sebagai Kantor Suci atau Inkuisisi Universal dan Suci Roma, hukuman gereja semacam itu melibatkan pembakaran di tiang pancang untuk para penista dan yang mempublikasikan daftar buku-buku terlarang yang dilarang untuk dibaca pengikutnya.

Hari ini, keadilan CDF cenderung hanya menghukum pendeta yang bersalah untuk berdoa, penebusan dosa dan melarang melakukan Misa di publik. Bahkan hukuman terburuk yang dijatuhkan oleh hukum gereja Katolik, bahkan untuk pemerkosa anak berantai, pada dasarnya hanya pemecatan, atau diberhentikan dari pendeta.

Sementara para pendeta terkadang menganggap pencemaran nama baik sama buruknya dengan hukuman mati, sanksi ringan untuk kejahatan keji seperti itu telah lama membuat para korban geram, yang kehidupan mereka terluka seumur hidup oleh pelecehan mereka. Tetapi mengejar peradilan gereja terkadang satu-satu yang para korban punya, memberikan undang-undang pembatasan untuk mengejar tuntutan pidana atau perdata.

“Saya ingin memastikan bahwa pendeta ini tidak memiliki akses kepada anak-anak,” kata Paul Peloquin, seorang psikologi klinis Katolik dan korban pelecehan yang melaporkan pelaku kepada keuskupan agung Santa Fe, New Meksiko pada tahun 1990.

Pada saat itu, otoritas gereja telah mengetahui selama beberapa dekade bahwa Pendeta Earl Bierman menggerayangi anak laki-laki, dan mereka telah mengirimnya untuk terapi. Tetapi uskup-uskupnya terus menempatkan dia kembali melakukan pelayanan, di mana dia diyakini telah melecehkan lebih dari 70 anak-anak. Seorang hakim di Kentucky mendakwanya pada tahun 1993 dan menjatuhinya hukuman 20 tahun penjara, di mana dia meninggal pada tahun 2005.

Namun, Peloquin, tidak pernah menerima jawaban atas keluhan awalnya kepada uskupnya.
“Itu hanya membuat saya marah,” kata Peloquin, yang sekarang menasihati para korban dari perspektif berbasis agama yang menekankan pengampunan dalam penyembuhan. “Sepertinya mereka akan segera memanggilku dan berkata, ‘Mari kita dengarkan apa yang kamu katakan.'”

Karena kasus-kasus seperti itu, di mana uskup mengabaikan korban, melindungi pedofil dan menempatkan reputasi gereja di atas segalanya, CDF di bawah Kardinal Joseph Ratzinger pada tahun 2001 membujuk St. Yohanes Paulus II untuk memusatkan proses.

Tujuannya adalah untuk menindak tegas pelaku pelecehan dan menyediakan para uskup dan pemimpin agama bimbingan yang dibutuhkan untuk menghukum oknum pendeta bukannya memindahkan mereka dari paroki ke paroki, di mana mereka dapat melakukan pelecehan lagi.

Tidak pernah Vatikan memerintahkan atasan pendeta untuk melaporkan pelaku ke polisi, meskipun pihaknya bersikeras mereka bekerja sama dengan hukum sipil.* (BERSAMBUNG)

Redaktur: Nashirul Haq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:gerejaGereja Katolik RomaKongregasi Doktrin Iman VatikanKristen Katolikpauspelecehan seksualpendetavatikan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya BNPB: Tsunami Bencana Berulang, Ahli Geologi: Siaga dan Tingkatkan Ketakwaan
Tulisan selanjutnya ’Tsunami Pelecehan Seks’ Guncang ‘Kerahasiaan Kepausan’ Gereja Katolik Roma [2]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Berita
3 Juni 2026 12:30
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Terbaru

  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?