Sambungan artikel PERTAMA
Kerajaan Kristen Baitul-Maqdis hendak menyerang Mesir. Bukannya solid untuk melakukan perlawanan, di dalam tubuh Daulah Fathimiyah justru bergolak. Banyak pejabat yang bermusuhan dengan perdana menteri saat itu, Syawur. Para pejabat ini bahkan mengundang pihak Baitul-Maqdis agar memasuki Kairo agar Syawur segera jatuh. Harapannya, mereka bisa mengambil alih kursi kekuasaan. Para pejabat yang berada dalam kelompok ini antara lain adalah Ibnu Khiyath dan Ibnu Farjalah.
Syawur sendiri sangat khawatir. Terbayang akan lenyapnya kekuasaan. Ia akhirnya memutuskan untuk membakar kota al-Fusthath dan mengambil harta bendanya agar tidak dirampas Baitul-Maqdis.
Sementara Khalifah Fathimiyah al-Adhidh, justru memilih meminta bantuan kepada penguasa Sunni di Syam, Nuruddin Zanki. Penduduk Mesir melakukan hal yang sama. Mereka mengirim surat kepada Nuruddin agar mendatangkan panglima Syirkuh bersama pasukannya untuk mempertahankan Mesir.
Nuruddin memenuhi permintaan itu. Untuk ketiga kalinya, ia mengirim pasukan ke Mesir. Sebelumnya pernah pula, ketika menghadapi kelompok Syawur yang berkoalisi dengan kerajaan Baitul-Maqdis. Kala itu Syirkuh memimpin pasukan dan didampingi Shalahuddin al-Ayubi.
Kedatangan pasukan Nuruddin kali ini menciutkan nyali Raja Amuri, penguasa Baitul-Maqdis. Ia kemudian menarik pasukannya. Khalifah al-Adhidh dan para pejabatnya kemudian menghabisi Syawur. (al-Kamil fi at-Tarikh, 11/336-340)
Setelah kondisi stabil, Khalifah al-Adhidh mengangkat Syirkuh sebagai perdana menteri menggantikan Syawur. Baru dua bulan menjabat, Syirkuh wafat. Posisinya kemudian digantikan oleh Shalahuddin al-Ayubi. Selain bertanggung jawab atas pemerintahan Fathimiyah di Mesir, di waktu yang sama Shalahuddin juga merupakan wakil Nuruddin Zanki untuk Mesir. (al-Kamil fi at-Tarikh, 11/44)
Menghidupkan Sunni
Tatkala Shalahuddin al-Ayubi menduduki jabatan perdana menteri, Nuruddin Zanki beserta Baghdad menghendaki agar kekuasaan Fathimiyah segera diakhiri. Namun Shalahuddin tidak segera melaksanakan perintah itu, karena khawatir akan terjadi konflik. Pasalnya, ajaran Syiah waktu itu telah mengakar di Mesir. (Ar-Raudhatain, 2/124)
Shalahuddin lebih memilih untuk menghidupkan mazhab Sunni. Para hakim Syiah diberhentikan. Majelis-majelis dakwah Syiah juga dibekukan. Shalahuddin pun menghapus syiar-syiar Syiah semisal penggunaan lafal “hayya ‘ala khairil-amal” dalam azan serta menghapus simbol keagamaan yang terukir di mata uang seperti lafal “Ali Waliyullah”.
Mazhab Syafi’i kemudian menjadi rujukan dalam pengadilan. Posisi qadhi banyak diisi ulama Syafi’iyah. Para penganut mazhab Sunnah seperti Syafi’iyah dan Malikiyah mulai berani menampakkan diri. Sebaliknya, penganut Syiah menutupi identitasnya. (al-Khithath, 1/175)
Gerakan dakwah digiatkan. Ajaran yang berisi penisbatan Fathimiyah tidak dibenarkan. Hal itu untuk menghindarkan dari penisbatan diri kepada Ahlul-Bait. (ar-Raudhatain, 1/201)
Shalahuddin juga menutup Masjid al-Azhar. Masjid ini baru dibuka di masa pemerintahan Mamalik. (Hushn al-Muhadharah, 2/67)
Suatu hari, Khalifah al-Adhidh sakit keras. Ketika khutbah Jumat, Shalahuddin memutuskan untuk tidak menyebut nama khalifah Fathimiyah itu. Sebagai gantinya, disebutlah nama Khalifah al-Mustadhi Abbasiyah. Ini merupakan tanda bahwa kekhuasaan Fathimiyah telah berakhir. Al-Adhidh pun akhirnya wafat. (al-Kamil fi at-Tarikh, 11/368-370)
Pembangunan Madrasah
Langkah penting lainnya yang dilakukan Shalahuddin al-Ayubi adalah membangun madrasah-madrasah Sunni. Ibnu Jubair menulis, “Kami menyaksikan Syirkuh menziarahi makam Imam asy-Syafi’i di hari terbunuhnya Syawur dan Shalahuddin membangun madrasah di sekitar makam.” (ar-Rihlah Ibnu Jubair, hal 18)
Menurut Ibnu Khalikan, Shalahuddin adalah pembangun madrasah pertama di Mesir. Misalnya yang dikenal dengan sebutan Madrasah ash-Shalahiyah, lokasinya di samping makam Imam asy-Syafi’i. Selain itu, madrasah di samping masyhad al-Husaini Kairo. Shalahuddin juga menjadikan rumah al-Abbas, salah satu menteri Fathimiyah, untuk madrasah mazhab Hanafi. Juga dibangun madrasah asy-Syarifiyah untuk mazhab asy-Syafi’i serta madrasah al-Qahmiyah untuk mazhab Maliki.
Pasca jatuhnya Fathimiyah, Madrasah ash-Shalahiyah merupakan madrasah terbesar kala itu. Salah satu ulama besar Mesir yang mengajar di madrasah ini adalah Ibnu Daqiq al-Ied.
Selain amat perhatian terhadap ilmu-ilmu zhahir, Shalahuddin juga memperhatikan ilmu batin guna membangkitkan kembali ajaran Sunni. Misalnya membangun khaniqah, yang berfungsi sebagai tempat tinggal dan pendidikan kaum sufi. Menurut Imam as-Suyuthi, khaniqah Sa’id Su’ada merupakan khaniqah pertama yang dibangun di Mesir, yakni 4 tahun setelah runtuhnya Fathimiyah. (Husn al-Muhadharah, 2/256-260)
Shalahuddin tampak all out dalam upaya membangkitkan dan menguatkan kembali aqidah Sunni. Kata al-Hafidz as-Suyuthi, “Ketika Shalahuddin bin Ayub berkuasa, ia memerintahkan para muazin untuk melantunkan di waktu tasbih aqidah Asy’ariyah. Maka para muazin membiasakan hal itu setiap malam hingga waktu kita saat ini.” (al-Wasa`il ila al-Musamarah al-Awa`il, hal 15).* [Suara Hidayatullah]