Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

Para Penguasa Muslim India Pra-Kolonial Membangun dan Memelihara Kuil-kuil Hindu

Rofi' Munawwar
Terakhir diupdate: 15 Agustus 2020 06:09 6:09 am
Rofi' Munawwar
Dipublikasikan 15 Agustus 2020 06:30
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Pepatah mengatakan pagar makan tanaman. Inilah yang nampaknya terjadi pada otoritas India kepada kaum Muslim saat ini.

Di saat rakyat India memerangi kebangkitan nasionalisme Hindu, yang dipimpin oleh Perdana Menteri Narendra Modi, warisan para penguasa Muslimnya juga diserang.

Partai Bharatiya Janata (BJP) yang menguasai pemerintah telah menghapus nama dan kontribusi raja-raja Muslim dari buku teks sekolah, jalan dan peristiwa penting. Kelompok nasionalis Hindu, seperti BJP dan mentor ideologinya Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS), membenci Kekaisaran Mughal dan para pendahulu Muslimnya, menganggap mereka sebagai kekuatan invasif yang ‘menduduki’ apa yang dulunya adalah sekelompok negara mewah, dikenal sebagai India, selama berabad-abad.

Partai Nasionalis Hindu selalu menjajakan dan memeras narasi-narasi menyimpang itu untuk keuntungan politik. Untuk menggunakannya sebagai alat politik yang menguntungkan, organisasi fanatik dan sayap kanan Hindu berhasil mendorong doktrin di kalangan umat Hindu bahwa penguasa Muslim adalah penghancur kuil.

Namun, peninjauan lebih dalam sejarah India pra-kolonial, mengungkapkan para penguasa Muslim sebenarnya membangun beberapa tempat ibadah untuk penganut Hindu. Mereka tidak hanya berkontribusi dalam pembangunan kuil-kuil Hindu penting, tetapi juga mengawasi pemeliharaan pusat ziarah Hindu seperti Ayodhya, Mathura dan Vrindavan.

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

Abul Fath Jalal-ud-din Muhammad Akbar, juga dikenal sebagai Akbar Agung, kaisar ketiga Kekaisaran Mughal, mendapatkan reputasi sebagai penguasa yang adil di India abad ke-16. Kaisar Akbar memperbesar dan mengatur hibah ke kuil-kuil dan pelayan kuil di wilayah Mathura dengan farmaan (perintah)nya, tertanggal 27 Agustus 1598 dan 11 September 1598, di Vrindavan, Mathura dan sekitarnya.

Putranya Jahangir melanjutkan tradisi mendukung keragaman beragama India dengan menaikkan jumlah dana hibah yang disetujui oleh ayahnya. Dia menambahkan setidaknya dua kuil ke dalam daftar tiga puluh lima kuil yang didukung oleh hibah Akbar tahun 1598.

Demikian pula, Raja Mughal lainnya, Jahangir, memberikan 121 bighas, atau 30 hektar tanah, kepada lima keluarga sevak (penjaga) kuil. Pada 1620, dia juga mengunjungi kuil Vrindavan. Menurut catatan sejarah, diketahui juga bahwa setiap kali pendeta kuil memiliki masalah, mereka mendekati penguasa Mughal atau pejabat senior mereka. Dalam kebanyakan kasus, otoritas Mughal mengambil tindakan tepat waktu untuk mengatasi masalah apa pun.

Gubernur Awadh, yang memerintah negara bagian Awadh, yang menjadi Oudh di India utara selama abad ke-18 dan ke-19, memberikan beberapa hibah ke kuil-kuil Ayodhya dan memberikan mereka perlindungan dengan cara lain, kutip TRT World.

Gubernur Safdarjung membangun beberapa kuil di Ayodhya dan berkontribusi untuk perbaikan kuil lainnya. Penerusnya, Shuja-ud-Daula, menghadiahkan lebih dari 20 hektar tanah untuk pembangunan Hanumangarhi, salah satu kuil Hindu paling penting. Menurut Mahant Gyan Das, kepala pandit (pendeta Hindu) Hanumangarhi, kuil itu dibangun pada 1774 setelah seorang pandit Hindu mengunjungi Shuja-ud-Daula yang sakit dan membantunya pulih dari penyakit.

Sesuai dokumen yang tersedia di kuil-kuil terkenal di Chitrakut, Varanasi, Ujjain, Allahabad dan lokasi lainnya, dana tersebut diberikan oleh para penguasa Muslim untuk memberikan dukungan.

Aurangzeb: seorang tiran atau penguasa yang adil?

Raja Mughal Aurangzeb, yang dihina oleh partai-partai sayap kanan karena menindas penganut Hindu – ini termasuk partai BJP – juga melindungi kuil-kuil Hindu, menurut sejarawan Amerika Audrey Truschke yang telah banyak menulis tentang India di era Mughal.

Menurut sejarawan India, Pradeep Kesherwani, Aurangzeb memberikan “dana besar” untuk pembangunan kuil Someshwar Mahadev di wilayah Sangam di Arail. Kesherwani mengatakan bahwa beberapa kuil lain, seperti kuil Mahakaleshwar di Ujjain, kuil Balaji di Chitrakoot, kuil Umanand Guwhati, kuil Jain di Saranjay dan beberapa kuil lain di India selatan, memiliki kisah serupa yang menunjukkan bahwa para penguasa Muslim membangun dan menawarkan dukungan pelestarian tempat ibadah Hindu.

Akbar yang Agung, yang mendapatkan penghargaan karena mendorong persaudaraan antara komunitas Hindu dan Muslim di India, menerjemahkan literature berbahasa Hindi dan juga berpartisipasi dalam festival Hindu di Fatehpur Sikri, yang dirancang dengan gaya Persia. Akbar membangun sebuah kuil di sana dan menampung para intelektual dari berbagai agama, termasuk Hindu, Kristen, Zoroastrian, dan juga Muslim. Akbar juga mengizinkan para Yesuit untuk membangun gereja di Agra dan memulai departemen penerjemahan untuk menerjemahkan Ramayana, Mahabharata dan Alkitab ke dalam bahasa Persia.

Sedangkan untuk kerajaan Dekkan, Raja abad ke-16, Adil Shah, juga mendirikan perpustakaan besar dan menunjuk seorang intelektual Sanskerta, Vaman Pandit, sebagai kepalanya. Seorang pemimpin yang terampil, seniman, penyair, dan pelindung seni yang dermawan, Adil Shah memberikan penghormatan kepada Saraswati, Dewi Pembelajaran Hindu, dalam lagu-lagunya. Dia membangun kuil kecil di dekat istananya di Bijapur dan menempatkan paduka (alas kaki) milik dewi di sana.

Pada abad ke-15, di kerajaan tetangga India, Kashmir, Raja Zain-ul-Abidin (Zainul Abidin, Red) membangun kuil, berpartisipasi dalam festival Hindu dan mengirim utusan untuk memanggil umat Hindu yang telah meninggalkan wilayah tersebut. Zain-ul-Abidin adalah seorang cendekiawan yang mahir bahasa Sanskerta dan dia memainkan peran penting dalam menerjemahkan sebagian Upnishad ke dalam bahasa Persia.

Juga di Benggala, Raja Pathan, seperti Sultan Nazir Shah dan Sultan Hussain Shah, mengikuti kebijakan serupa dan mengatur penerjemahan Mahabharata dan Bhagwat Puran ke dalam bahasa Bengali.*

 

Redaktur: Rofi' Munawwar
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:IndiaIndia Pra KolonialMughalRaja Mughal Melindungi Kuil HinduToleransi Raja Islam india
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pakar PBB: Pejabat Senior Militer dan Intelijen Mali Menghalangi Upaya Perdamaian
Tulisan selanjutnya Menyulap Sampah Kaleng Jadi Berkah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

vape covid
Berita

Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Berita
31 Mei 2026 02:22
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?