Dari Kota Pelabuhan di Yaman, biji kopi Mocha dipasarkan ke seluruh dunia. hingga muncul Moccacino, sajian cappucino ditambahkan cokelat seperti yang ada saat ini
Hidayatullah.com | PARA pecinta kopi pasti sudah paham nama Mocha atau Moka, merupakan kombinasi antara kopi dan cokelat. Tapi tahukah Anda, istilah Mocha itu berasal dari sebuah kota pelabuhan Al-Makha (Al Mukha) di Yaman, tempat pertama kali kopi menyebar ke seluruh penjuru dunia.
“Biji Mocha”, yang sering disebut Mocha, adalah minuman kopi populer yang memadukan rasa espresso, cokelat, dan susu. Kopi Mocha modern dikembangkan sekitar abad ke-19 di AS (sebagai variasi minuman kopi bicerin Italia), dan pada dasarnya merupakan varian kopi latte rasa cokelat.
Mungkin mengejutkan mengetahui bahwa Mocha berasal dari sebuah kota di Yaman, Al-Makha.
Al-Makha atau al Mukha –yang kini dipakai nama varian kopi Mocha— secara historis penting sebagai pusat perdagangan yang memfasilitasi pertukaran kopi dan ide budaya.
Kopi Mocha, yang terkenal karena rasa coklatnya yang kaya dan aroma buahnya, tumbuh subur di tanah vulkanik Yaman dan iklim yang mendukung.
Rute perdagangan kopi di kawasan ini menghubungkan Yaman dengan pasar Timur Tengah dan Eropa, meningkatkan popularitas kopi Mocha secara global.
Asal usul kopi Mocha
Sejarah kopi sudah ada sejak berabad-abad lalu, dan menelusuri asal-usulnya berarti melakukan penyelidikan melalui catatan-catatan, bahkan bercampur mitos-mitos fantastis.
Namun, kita tahu bahwa pada abad ke-15, para ulama Sufi di Yaman telah mulai menanam, meminum, dan memproduksi kopi untuk diperdagangkan.
Seiring berjalannya waktu, orang-orang Yaman menyempurnakan pemanfaatan iklim dan medan Yaman yang unik untuk menghasilkan kopi yang khas dan beraroma.
Kopi-kopi ini kemudian sampai ke Turki di era Khilafah Ustmani, dan menyebar ke seluruh Jazirah Arab, hingga sampailah ke Eropa.
Asal muasal kopi Mocha berawal dari tanah vulkanik yang subur di Yaman, tempat iklim dan geografi yang unik mendorong pertumbuhan biji kopi Arabika yang luar biasa yang pada akhirnya menjadi ciri khas minuman yang disukai ini.
Biji kopi ini mengembangkan profil rasa yang kompleks, ditandai dengan rasa cokelat yang kaya dan aroma buah, berkat kondisi ideal di wilayah tersebut.

Menyebar ke Eropa
Kontribusi dramatis kopi Yaman bagi sejarah dunia paling baik diceritakan melalui kota pelabuhan ikoniknya, Al-Makha. Di bawah naungan Khilafah Ustamani (Ottoman), Yaman menyempurnakan dan menjaga komoditas berkafein mereka yang berharga.
Berkat keengganan mereka untuk menjual tanaman atau benih kopi hidup, mereka membangun monopoli global atas perdagangan kopi yang berpusat di sekitar pelabuhan yang sepi ini.
Al-Makha adalah sebuah kota pelabuhan di pantai Laut Merah Yaman. Al-Makha adalah pelabuhan utama untuk ibu kota Yaman, Sanaa. Tempat ini telah ama dikenal karena perdagangan kopinya, menjadikan nama kota ini identik dengan nama kopi, Mocha.
Dalam kamus Brittannica, Al-Makha, kota pelabuhan yang berada di Laut Merah dan dataran Pantai Tihāmah. Pelabuhan bersejarah paling terkenal di Yaman ini terletak di ujung teluk dangkal di antara dua tanjung, dengan tempat berlabuh yang tidak terlindungi sejauh 1,5 mil (2,5 km) dari pantai.
Kota ini sudah lama terkenal sudah lama terkenal sebagai pusat ekspor kopi utama di Jazirah Arab; istilah mocha dan variasinya telah memasuki bahasa-bahasa Eropa sebagai sinonim untuk kopi berkualitas tinggi dari spesies Kopi Arabika, yang masih tumbuh di Dataran Tinggi Yaman dan sebelumnya diekspor melalui kota tersebut.
Sejarah lain juga menyebut, kopi ini awalnya tidak tumbuh di kota Al-Makha, tetapi diangkut dari Ethiopia ke pelabuhan Al-Makha, di mana ia kemudian didistribukan ke luar negeri. Sejak itu pulalah, tanaman ini akhirnya dibudidayakan di Yaman, dikembangkan menjadi biji kopi dan minuman yang kita kenal saat ini.
Biji kopi Yaman, yang dikenal sebagai “biji Mocha,” terkenal karena cita rasanya yang khas. Biji kopi ini memiliki sedikit rasa cokelat dan rempah alami, yang memberikan karakter unik pada kopi yang diseduh.
Bahkan setelah sumber kopi lain ditemukan, “biji Mocha” juga sering disebut kacang Sanani atau Mocha Sanani, yang berarti dari Kota Sana’a.
Di Yaman, kopi secara tradisional diseduh menggunakan metode yang dikenal sebagai “Qishr,” yang melibatkan pencampuran kopi dengan rempah-rempah seperti kayu manis, kapulaga, dan kakao.
Tradisi Yaman kuno ini menjadi cikal bakal minuman Mocha modern, yang memadukan aroma kopi yang bersahaja dengan kekayaan kakao dan rempah-rempah.
Dari kota pelabuhan Al-Makha, kopi-kopi akhirnya terdistribusi ke luar Yaman, terutama sampai ke Turki dan yang berujung penyebutan kopi Mocha, nama yang awalnya tidak ada hubungannya dengan minuman kopi cokelat yang dapat Anda beli saat ini.
Namun, Yaman tidak dapat menyimpan rahasianya selamanya: pedagang Belanda akhirnya berhasil mendapatkan tanaman kopi hidup. Dalam beberapa dekade, perkebunan mulai bermunculan di luar perbatasan Yaman dan seluruh wilayah kekuasaan Khilafah Utsmani.
Pada tahun 1535, perdagangan kopi sedang marak dan Turki Utsmani telah menyerbu Yaman. Mereka menguasai pelabuhan dan semua ekspor biji kopi, terutama “biji Mocha”.
Namun, jenis Arabika lain dibawa melalui rute perdagangan umum melalui Terusan Suez dan ke Alexandria (Mesir). Dari sana, pedagang Prancis dan Venesia mengekspor biji kopi ini ke Eropa Utara.
Meskipun tingkat keamanan di Pelabuhan Al-Makha (Mukha) di Yaman sangat tinggi, Kekhalifahan Ustmani sangat melindungi komoditas mereka dengan segala cara. Mereka menolak menjual tanaman hidup atau benih untuk lebih melindungi ekspor kafein mereka.
Meskipun niat mereka baik, pedagang Belanda mampu menyelinap masuk dan berhasil menyelundupkan tanaman kopi hidup secara diam-diam. Meski membutuhkan beberapa dekade, tetapi dari upaya untuk mematahkan monopoli Ottoman ini berhasil, perkebunan kopi Mocha mulai bermunculan di luar perbatasan Yaman.
Pada tahun 1699, Kekhafilahan Utsmani mulai kehilangan cengkeramannya pada permukiman Eropa dan stagnasi kepemimpinan internal. Hingga terjadi Pertempuran Wina tahun 1683, yang memungkinkan Austria menemukan biji kopi Arabika.
Seiring menyebarnya kopi dari Timur Tengah ke Eropa pada abad ke-17, kecintaan terhadap rasa “biji Mocha” terus tumbuh. Kedai-kedai kopi bermunculan di kota-kota besar Eropa, seperti; London, Paris, dan Wina yang mulai menggunakan campuran Mocha.
Puncaknya terjadi pada tahun 1922 ketika kekuasaan Khilafah Utsmani berakhir. Yang lebih penting, ketika Terusan Suez dibangun pada tahun 1859, ini merupakan tanda yang jelas tentang zaman itu.
Bahkan berawal dari kota pelabuhan Al-Makha, “biji kacang ajaib” ini bisa terhubung hingga pulau Jawa (Indonesia) hingga menghasilkan salah satu campuran kopi tertua dan paling terkenal di dunia, Mocha Java.
Seiring meningkatnya produksi kopi di seluruh dunia, monopoli Yaman atas perdagangan kopi, serta kota Al-Makha, perlahan mulai memudar.
Meski demikian, tak dapat dipungkiri, keterkaitan kopi –bahkan hingga muncul variasi Mocha atau Mochachino—berasal dari kota di ketinggian 12 meter di atas permukaan laut dan memiliki kepadatan sekitar 10.000 penduduk ini.
“Kopi adalah segalanya bagi Yaman,” kata pengusaha Yaman, Sheikh Shabbir Ezzi kepada Hyacinth Mascarenhas yang menulis untuk Mic.
“Itu adalah hadiah dari nenek-moyang kami. Anda dapat melihat betapa pentingnya kopi bagi Yaman dari lambang negara tersebut, yang menggambarkan seekor elang yang memegang gulungan dengan tulisan “Republik Yaman” dalam bahasa Arab. Dada elang tersebut merupakan perisai yang menggambarkan tanaman kopi,” ujar pemilik perusahaan at Al Ezzi Industries ini.
Mocha di Zaman Modern
Seiring perkembangan zaman, barista di Italia biasanya menyajikan Bavareisa yang merupakan campuran biji Mocha, cokelat, dan krim. Campuran ini kemudian berkembang menjadi Bicerin, dan juga Marocchino.
Di negara lain, campuran ini disebut Mocha Harrar dan Djimmah Mocha. Campuran kabarnya merupakan bagian dari keluarga Mocha dan konon memiliki rasa cokelat yang bening, tetapi ini jelas hanya spekulasi.
Tampaknya versi modern Kopi Mocha sebenarnya merupakan pengembangan dari Caffé Latte artinya kopi susu (dalam bahasa Italia). Alasannya adalah bahwa Kopi Latte mengandung sedikit sirup cokelat atau bubuk kakao.
Ketika budaya minum kopi menyebar ke Eropa, orang Eropa menyebut impor kopi dari Arab sebagai Mocha. meskipun kopi dari Yaman sendiri tidak umum dan sering dicampur dengan biji kopi dari Abyssinia, dan kemudian kopi dari Malabar atau Hindia Barat juga dipasarkan sebagai kopi Mocha, hingga muncul Moccacino, merupakan sajian cappucino yang ditambahkan dengan cokelat seperti yang ada saat ini.
Ada sebuah pepatah di kalangan petani Yaman yang jika diterjemahkan kurang lebih seperti ini, “Anda harus merawat kopi seperti Anda merawat anak.” Untuk membuktikan pepatah ini, Anda harus mengunjungi langsung ke Yaman.*