Hampir sebulan aku sudah tak menyentuh miras, narkoba atau barang terlaran, telah kutinggalkan lingkunganku yang buru. Ya Allah, adakah ampunan untukku?
Hidayatullah.com | AKU hanyalah pemuda yang biasa saja. Seperti remaja umumnya, aku bangga memiliki banyak teman. Hampir setiap hari akuhabiskan waktu untuk bermain dan keluyuran mencari aroma ‘kepuasan’.
Sudah lima tahun ini akumengejar kepuasan, hidup sebagai anak muda yang tidak tahu arah dan tujuan hidup, kelimpungan, tak karuan, pecandu berat minuman keras.
Berbagai macam minuman telah akurasakan, cimeng, ganja, dan segala macam jenis penyumbat mulut sudah pernah akurasakan. Aku selalu menyebut perbuatan begundal itu sebagai sebuah ‘seni’. Pokoknya aku jagolah mencari beribu alasan untuk membenarkan perbuatan itu.
Hati kecil akusejak dulu tahu bahwa perbuatan ini salah. Sejak kecil akudiajarkan oleh guru ngaji bahwa meminum munuman keras itu haram, apa lagi narkoba.
Sejak kecil memang akusudah diajarkan agama, bahkan umur delapan tahun akusudah bisa membaca al-Qur’an dengan lancar. Namun beranjak dewasa akum enemukan berbagai macam pergaulan hingga membawa akuke situasi ini. Aku seakan lupa dengan jati diri.
Sudah berkali-kali aku memutuskan untuk berubah, tetapi selalu saja gagal karena terlalu banyak godaan. Mungkin iman akuyang terlalu lemah atau mungkin hidayah yang sulit masuk ke hati saya, entahlah.
Ramadahan tahun-tahun lalu, banyak aku habiskan untuk berpoya-poya mengejar “kebahagiaan” semu. Pada selinting ganja, pada berbotol-botol minuman setan memabukkan, pada semua rutinitas yang memburu kesenangan sesaat.
Ramadhan kali ini, aku bertekad ingin memperbaiki diri (bertobat) lagi. Di hari pertama Ramadhan, aku berusaha untuk berubah.
Aku benar-benar shalat lima waktu dan berpuasa. Bacaan shalat yang mulai lupa akuperlancar lagi lewat internet. Hari kedua, akulebih permantap lagi, bahkan akusudah membaca 4 juz al-Qur’an.
Di hari ketiga Ramadhan, ujian itu muncul. Sepulang dari shalat Tarawih, kudapati teman-teman sepergaulanku sama-sama berkubang dalam kesesatan, tengah berpesta miras di dalam kamarku.
Mereka tengah asyik melambungkan angan-angan kosong, pada sebotol anggur merah yang rasanya menyedakkan tenggorokan.
Keimanannya tengah diuji, benteng pertaubatan yang baru sajaku bangun hampir tiga hari, sudah harus mendapatkan gempuran kuat dari bala tentara setan.
Ada pertempuran hebat dalam hati kecilku. Akuingin sekali menyudahi perbuatan ini dan menutup rapat-rapat celah setan yang mencoba menyusup menawarkan pesona kenikmatan.
Namun, kenyataannya sungguh mengecewakan, bala tentara setan masih terlalu tangguh dibandingkan dengan benteng taubat yang baru kubangun tiga hari itu. Akulimbung, mengalah demi satu kata, ‘toleransi’. Toleransi yang ngawur.
Hari-hari selanjutnya kujalani seperti tak ada semangat hidup. Puasa atau tak puasa aku tak peduli lagi. Siang hari memang tak pernah makan dan minum karena akutidur pagi dan bangun menjelang maghrib.
Aku merasa kecewa dengan diri sendiri. Akusemakin larut bersama miras, mabuk.
Hingga lebaran tiba saat semua orang bersuka cita. Aku tertidur di kamar hingga menjelang maghrib. Aku merasa tak pantas merayakan Idul Fitri.
Sehari setelah lebaran, seorang teman sepergaulanku dulu saat pertama kali coba-coba miras, mampir ke rumah. Setelah hampir dua tahun baru kita bertemu lagi.
Penampilannya sudah berubah total, wajahnya lebih cerah, pakaiannya rapih berkameja putih. Ia datang membawa banyak bingkisan; dari kue-kue lebaran hingga beberapa pakaian baru untukku.
Ia berkisah, telah lama hijrah dan kini sudah menikah dengan seorang gadis berhijab. Hidupnya sudah tentram dan bahagia.
Aku menceritakan kisahku kepadanya, kegalauan hati, keinginan berubah yang selalu gagal dan rasa kecewa kepada diri sendiri.
Ia menyarankan untuk meninggalkan lingkungan itu dan pindah ke lingkungan yang lebih baik. Bergaul dengan orang-orang baik, sering mengikuti pengajian dan mendengarkan ceramah-ceramah ustadz di internet.
Tak butuh waktu lama aku mengikuti sarannya pindah ke sebuah kontrakan kecil dekat rumahnya. Lingkungan itu tak jauh dari sebuah pesantren.
Di tempat itu sering diadakan pengajian dan ceramah dari beberapa ustadz. Aku dikenalkan ke beberapa ustadz untuk konsultasi langsung, aku mendapatkan banyak sekali pencerahan.
Hampir sebulan aku sudah tak menyentuh sama sekali dengan miras atau pun narkoba, aku tak pernah berhubungan lagi dengan pergaulan lama saya. Aku benar-benar sibuk ikut pengajian di pesantren dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainya.
Seorang ustadz menceritakan sebuah kisah kepadaku: “Dalam Shahih al-Bukhari dikisahkan, pada masa Rasullullah ﷺ ada seorang laki-laki bernama Abdullah. Dia dijuluki dengan Himar. Abdullah seseorang pemabuk dan pernah dicambuk Rasulullah akibat perbuatannya. Meskipun Abdullah pemabuk, tetapi dia sering membuat Rasulullah tersenyum.”
“Suatu kali, Abdullah dibawa para sahabat menghadap Rasulullah untuk dihukum karena ketahuan mabuk atau minum khamar. Para sahabat pun geram melihat tingkah laku Abdullah yang tidak pernah jera dihukum. Saking kesalnya, ada sahabat yang mengatakan, ‘Laknatlah dia karena sudah terlalu sering dihukum.’
Mendengar kata laknat tersebut, Rasulullah malah mengatakan; “Jangan kalian laknat dia, demi Allah, aku tahu bahwa laki-laki ini mencintai Allah dan Rasul-Nya.”
Dalam riwayat Ahmad, redaksinya berbunyi; “Janganlah kalian mengatakan demikian. Jangan kalian membantu setan menjerumuskannya. Katakanlah kepada dia, ‘Semoga Allah merahmatimu’.”
Setelah mendengar kisah itu, perlahan-lahan aku mulai merasa tenang, merasa ada harapan besar. “Ya Allah, masikah ada ampunan untukku?”*/Seperti yang diceritakan oleh Randi kepada Suara Hidayatullah