Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

Mengapa Bahan-Bahan Ini Diciptakan? (1)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 28 Maret 2016 16:46 4:46 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 Maret 2016 16:46
Bagikan
Alfred Bernhard Nobel (lahir di Stockholm, 21 Oktober 1833 , kimiawan, insinyur, dan pebisnis asal Swedia yang menemukan dinamit. Dia mewakafkan hartanya untuk membuat Penghargaan Nobel [Ilustrasi]
Bagikan

BELUM hilang dari ingatan kita tentang pengeboman di Paris, beberapa waktu yang lalu, giliran Brussels, ibukota Belgia yang diguncang bom. Namun yang pernah kita lihat selalu akibatnya. Pernahkah terpikir sedikit kenapa ada orang yang menciptakan bahan peledak? Apa sih, tujuannya menciptakan benda berbahaya seperti ini?

Dinamit adalah Alat Pertambangan

Tahukah Anda penghargaan bergengsi Nobel Prize Award yang memberikan penghargaan kepada mereka yang berjasa di bidang kimia, fisika, literatur, kedokteran, bahkan perdamaian dunia ini dimulai dari seorang penemu dinamit? Penghargaan ini diberikan atas wasiat Alfred Nobel, yang ditulis setelah dirinya kaget bukan kepalang saat membaca obituari dirinya sendiri di sebuah koran, yang rupanya salah menerima kabar. Yang meninggal sesungguhnya adalah saudara laki-laki Alfred, Ludwig. Obituari yang berjudul The Merchant of Death has Die (Saudagar Kematian Telah Tiada) tersebut mendorongnya untuk menulis wasiat sedekimian rupa, agar dirinya tidak hanya meninggalkan benda berbahaya pengambil banyak nyawa kelak.

Atas wasiatnya, bahwa aset yang tersisa setelah dirinya membagikan beberapa harta bendanya kepada kerabatnya, harus diberikan kepada mereka yang telah berjasa memberikan kontribusi paling luar biasa kepada umat manusia. Kategori-kategori penghargaan tersebut juga disebutkan dalam wasiatnya, yang selengkapnya dapat dibaca di situs Nobel Prize.

Kini saat dirinya telah berpulang, Nobel lebih dikenal sebagai pria yang namanya tersemat di penghargaan termahsyur, namun di masa hidupnya, Nobel identik dengan kematian. Salah satu julukannya yang paling ternama adalah The Merchant of Death, atau Saudagar Kematian. Semua itu karena penemuan-penemuannya di bidang ledakan.

Baca Juga

Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”

Nobel sendiri tidak asing dengan teknologi perang, karena ayahnya berbisnis senjata. Namun pertemuan Nobel dengan bahan peledak dimulai saat dirinya bersekolah di Paris. Nobel muda bertemu dengan Ascanio Sobrero, penemu Italia yang menemukan nitroglycerine, bahan peledak cair yang sangat tidak stabil pada 1847. Setelah perang usai dan bisnis ayahnya kolaps, Nobel mendedikasikan hidupnya untuk menstabilkan nitroglycerine.

Pada 1863, Nobel sukses meledakkan nitroglycerine dari jarak jauh dengan menggunakan sumbu dari bubuk mesiu. Dua tahun kemudian, Nobel juga berhasil menemukan detonator dari fulminated merkuri, sebuah penemuan berarti dalam teknologi peledakan, yang mendorongnya membuka pabrik bahan peledak di Stockholm, Hamburg, New York, dan California.

Pada 1864, sebuah insiden mendorongnya untuk menciptakan peledak yang lebih mudah dikendalikan. Sebuah ledakan terjadi di salah satu pabriknya, menewaskan beberapa orang pekerja, serta adik Alfred, Emil. Dua tahun kemudian, Nobel menemukan peledak berbentuk pasta dari nitroglycerine dan serbuk gergaji, yang dapat disimpan dalam sebuah tabung, dan tidak akan meledak sebelum dipicu. Dia menyebut peledak ini sebagai dinamit, diambil dari bahasa Yunani ‘dunamis’ yang berarti ‘kekuatan.’

Jauh sebelum digunakan sebagai alat perang, dinamit diproduksi bebas oleh Nobel di pabriknya dan dijual kepada perusahaan tambang. Dinamit tidak hanya ‘aman’ namun juga cukup kuat untuk menghancurkan batu, dan hal ini sangat membantu industri pertambangan. Perusahaan kereta api juga menggunakan dinamit untuk melubangi batu-batu besar dan gunung guna membangun terowongan.

Adalah militer yang pertama kali menggunakan peledak ini dalam Franco-German War (Perang Prancis – Jerman) pada 1870, pertama kali oleh Jerman, yang kemudian dibalas oleh Perancis. Hal ini membuat gusar Nobel, karena dirinya menciptakan dinamit pertama kali juga didorong oleh kepergian adiknya. Dasar penghargan Nobel Peace Prize dicantumkan oleh Nobel di wasiatnya karena didorong rasa gusar tersebut.*/Tika Af’idah, dari berbagai sumber

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:alfred NobeldetonatordinamitmerkurinitroglycerineNobel Prize Awardpeledak
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Penyakit Hati: Tidak Sabar dan Merasa Istimewa (2)
Tulisan selanjutnya yusuf mansur Adian: Yusuf Mansur Hadirkan Kesejukan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

PBB Catat Kenaikan Angka Kemiskinan Dunia, 1 Miliar Orang Terdampak

Berita
13 Oktober 2026 05:30
Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
Bandara King Khalid Riyad Ditutup Hingga 15 Oktober Imbas Serangan Houthi
Zionis Sebut Belanda Sarang Anti-Semit usai Suporter ‘Israel’ Dilarang Tandang
Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Ragam

Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

28 Agustus 2025 11:00
buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?