ENTAH berawal darimana, hari ini masyarakat, khususnya remaja, mengenal istilah weekend. Sebuah hari libur di akhir pekan yang biasa dimanfaatkan sebagian remaja dengan dalih refreshing.
Sayangnya penyegaran yang dimaksud itu terkadang digunakan untuk berlomba-lomba mendatangi tempat spesial dan menarik sebagai hari “pembalasan” atas aktivitas padat yang mendera mereka sebelumnya.
Akibatnya liburan itu identik dengan menghabiskan waktu berfoya-foya dengan teman sebaya atau kawan dekat. Sebut misalnya mall, cafe, hingga bioskop XXI.
Setidaknya hal itu tampak dari beberapa mall atau pusat perbelanjaan di kota yang disesaki oleh rombongan siswa yang masih berseragam sekolah.
Dengan berdalih menghilangkan suntuk belajar, sebagian mereka bahkan tak segan menghamburkan budget yang tak sedikit.
Disebutkan, usia remaja merupakan obyek yang menarik dan diminati para produsen. Alasannya karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja.
Di samping itu biasanya remaja terbujuk oleh rayuan iklan yang menggoda. Membuat mereka tak realistis dan cenderung boros dalam menggunakan uang.
Lihatlah, seorang pelajar menyandang tas di bahu kanan dan gadget keluaran terbaru di genggaman kiri. Selanjutnya ia kongkow bersama rekan-rekannya nongkrong di cafe di tengah mall tersebut
Atau mereka yang asyik bergerombol mengunjungi butik dan memborong beberapa pakaian model terbaru. Itu semua adalah fenomena life style atau gaya hidup remaja yang disebut trendy kini.
Uniknya, barang-barang tersebut biasa dibeli bukan atas dasar kebutuhan (need) tapi semata karena keinginan (want) saja.
Mulai dari sekadar ingin berpenampilan menarik hingga khawatir disebut ketinggalan zaman dan tak paham mode.
Ada juga yang beralasan, membeli tas karena artis idolanya memakai sebuah tas branded dengan harga puluhan juta
Kini, memasuki era global dan zaman modern, umat Islam diperhadapkan dengan ragam tantangan dan perlawanan dari musuh Islam.
Selain fisik, benturan tersebut kian merambah kepada pertarungan budaya dan pemikiran.
Sebut saja misalnya, paham materialisme, hedonisme, dan konsumerisme.
Biasanya gaya hidup hedonisme yang menjanjikan kesenangan ini dikemas dengan 3F (Food-Fun-Fashion).
Food, berbagai makanan siap saji membuat Muslim tak lagi peduli dengan konsep halal.
Fun, yaitu hiburan dan tontonan yang melalaikan hati. Seperti sinetron, lawak, dan musik.
Sedang fashion menuntun pola pikir remaja bahwa pakaian dan penampilan adalah aktualisasi diri dengan mengikuti trend yang ada. Tak peduli mengumbar aurat atau lainnya.
Adian Husaini, dalam buku Wajah Peradaban Barat menuturkan, globalisasi adalah sesuatu yang kompleks dan sulit dihindarkan oleh manusia yang semakin terintegrasi dalam perkembangan alat-alat komunikasi modern.
Manusia terus dijejali cara berfikir pragmatis untuk melahap apa saja, menikmati hidup, tanpa peduli bahwa cara yang dilakukannya akan menghancurkan nilai-nilai akhlak dan agama. Sebab menurut mereka, hidup adalah untuk mengejar kesenangan.
Hedonisme berasal dari kata “hedone” yang berarti kepuasan. Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary, hedonisme diartikan sebagai “the belief that pleasure should be the main aim in life.”
Yaitu pandangan yang menjadikan kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Dengan pengertian di atas akibatnya semua hal lalu diukur dengan kebendaan berupa uang atau harta materi lainnya.
Dalam Islam, paham hedonisme dianggap merusak akhlak pribadi seorang Muslim. Karena paham tersebut mengajarkan pada israf (berlebih-lebihan) dan tabzir (boros). Dua perkara yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala (Swt).
كُلُواْ مِن ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُواْ حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Makanlah dari buahnya bila dia berbuah dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya) dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-An’am [6]: 141).
يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang belebihan.” (QS. Al-A’raf [7]: 31).*/Arsyis Musyahadah, seorang pengajar (BERSAMBUNG)