Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Menjaga sikap Jujur

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 7 Agustus 2017 20:09 8:09 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 7 Agustus 2017 20:09
Bagikan
Ilustrasi.
Bagikan

SEORANG yang jujur di dalam jiwanya terdapat nilai rohani yang memantulkan sikap berpihak kepada kebenaran, moral terpuji, dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya, sehingga ia hadir sebagai orang berintegritas yang mempunyai kepribadian terpuji dan utuh.

Sifat jujur merupakan mutiara akhlak yang akan menempatkan seseorang dalam kedudukan mulia (maqamam mahmuda). Orang yang jujur berani menyatakan sikap secara transparan, terbebas dari segala kepalsuan dan penipuan. Hatinya terbuka dan selalu bertindak lurus, dan oleh karena itu ia memiliki keberanian moral yang sangat kuat.

Seperti halnya keikhlasan, kejujuran juga tidak datang dari luar. Tetapi dari bisikan kalbu yang secara terus menerus mengetuk-ngetuk dan membisikkan nilai moral luhur yang didorong hati nurani manusia yang fitrah. Kejujuran bukan sebuah paksaan, melainkan panggilan dari dalam diri seseorang.

Perilaku jujur diikuti oleh sikap bertanggung jawab atas apa yang diperbuat (integritas), sehingga kejujuran dan tanggung jawab ibarat dua sisi mata uang. Orang yang jujur selalu merasa diawasi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:

“Dan sesungguhnya Kami menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS Qaaf: 16)

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

Dalam kajian budaya kerja Islami tentang kejujuran, pernah terjadi suatu dialog antara Khalifah Umar bin Abdul Aziz dengan seorang anak gembala yang sedang menggembala ternak tuannya. Dialog tersebut seperti menjadi mitos yang melegenda, yang menjadi perlambang seorang anak manusia yang memegang teguh kejujuran yang diilhamkan oleh surah Al-Qaaf ayat 16 tersebut.

Ringkasan dialog tersebut adalah sebagai berikut:

Kh: Wahai gembala bagaimana kalau 1 ekor domba yang kamu gembalakan itu saya beli?

AG: Mohon maaf tuan, saya hanya diamanahi untuk menggembalakan dan tidak untuk dijual.

Kh: Bagaimana kalau 1 ekor itu saya beli dengan harga 10 kali harga pasar?

AG: Amanah adalah harga diri saya dan tidak bisa dibeli dengan uang.

Kh: Kambing gembalaan itu begitu banyak, kalau hanya 1 satu ekor tidak ketahuan. Kamu katakan saja dimakan serigala…

AG: (Dengan perasaan kesal) fa ainallah (di mana Allah)…

Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah orang yang saleh. Ia sebetulnya tidak benar-benar ingin membeli, tetapi hanya menguji kejujuran anak gembala itu. Hasil uji itu tersebut membuat Khalifah Umar bin Abdul Azizi bangga dengan sikap jujur yang menjadi integritas anak gembala itu. Masih adakah orang seperti itu di zaman sekarang ini?

Dengan demikian seorang pemimpin harus memiliki sifat jujur agar ia dipercaya oleh orang-orang yang dipimpinnya dan stakeholder (pihak-pihak yang terkait)-nya. Kalau seorang pemimpin kehilangan kepercayaan dari orang-orang yang dipimpinnya dan stakeholdernya gara-gara tidak jujur, maka ketaatan orang-orang yang dipimpinnya dan sikap stakeholdernya sudah diliputi rasa dongkol dan tidak ikhlas lagi mengikuti petunjuk atau perintahnya, serta berdampak pada kekecewaan. Akhirnya cepat atau lambat ia akan ditinggalkan oleh orang-orang yang dipimpinnya dan stakeholdernya.*/Sudirman STAIL (sumber buku: Manajemen Bisnis Syari’ah, penulis: Prof. Dr. H. M. Ma’ruf Abdullah, SH., MM)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:integritaskejujuranpemimpinstakeholder
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Nasihat Imam Malik Perlunya Hormati Fiqih Wilayah Setempat
Tulisan selanjutnya Salim A Fillah: 4 Bekal Penting Harus Dimiliki Orang yang Berhijrah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Jepang Berhasil Meluncurkan dan Mendaratkan Roket Guna Ulang

Berita
12 Juli 2026 09:24
BMIWI Gelar Milad ke-59, Canangkan Hari Majelis Taklim Nasional di Masjid Istiqlal
Serukan Balas Dendam untuk Ali Khamenei, Lautan Pelayan Serukan Kematian Trump
Waketum MUI: Penulis Muslim Harus Jadi Penjaga Otoritas Ilmu di Era Digital
PBNU Tetapkan PP Bahrul Ulum Jombang Lokasi Muktamar Ke-35 NU

Terbaru

  • Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
  • MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
  • Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
  • Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
  • Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
  • Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
  • Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
  • Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
  • ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
  • Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?