Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Iman Tak Bisa Diwariskan

Masykur Abu Jaulah
Terakhir diupdate: 20 Desember 2016 09:40 9:40 am
Masykur Abu Jaulah
Dipublikasikan 20 Desember 2016 09:40
Bagikan
Bagikan

SUASANA jadi gaduh. Apa yang dikhawatirkan oleh umat Nabi Musa Alaihi as-salam (As) itu benar terjadi. Di hadapan mereka hanya terbentang Laut Merah dengan lebar ratusan kilometer.

Sedang di belakang mereka, derap pasukan Raja Fir’aun yang mengejar kian gempita. Pertanda jarak mereka makin mendekat.

“Sesungguhnya kita benar-benar terkejar oleh mereka,” Seru kaum Bani Israil panik.

Bani Israil tersebut telah membayangkan hal-hal buruk yang bakal menimpa mereka.

Namun dengan keyakinannya, Musa berupaya menenangkan mereka.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

“Tidak. Sesungguhnya ada Tuhanku yang membersamaiku. Dia Maha Pemberi petunjuk,” ucap Nabi Musa tegas.

Singkat kata, atas petunjuk Allah, Musa membelah lautan dengan tongkatnya.

Kaum Bani Israil pengikut Musa akhirnya selamat semua.

Sedang Fir’aun dan seluruh balatentaranya dikaramkan di tengah di Laut Merah tanpa seorangpun yang tersisa.

Ajaib. Inilah karakter asli Bani Israil dari dulu hingga sekarang.

Baru saja mereka diselamatkan dalam momen pengejaran di tengah laut itu, tiba-tiba mereka kembali berulah seenak maunya.

Setibanya di seberang lautan, mendadak kaum Bani Israil tersebut meminta kepada Musa dibuatkan patung-patung tuhan untuk dijadikan  sesembahan mereka.

وَجَـٰوَزۡنَا بِبَنِىٓ إِسۡرَٲٓءِيلَ ٱلۡبَحۡرَ فَأَتَوۡاْ عَلَىٰ قَوۡمٍ۬ يَعۡكُفُونَ عَلَىٰٓ أَصۡنَامٍ۬ لَّهُمۡ‌ۚ قَالُواْ يَـٰمُوسَى ٱجۡعَل لَّنَآ إِلَـٰهً۬ا كَمَا لَهُمۡ ءَالِهَةٌ۬‌ۚ قَالَ إِنَّكُمۡ قَوۡمٌ۬ تَجۡهَلُونَ (١٣٨)

“Dan Kami seberangkan Bani ‎Israil ke sebrang lautan itu. Maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tekun menyembah berhala. Bani Israil berkata: Hai Musa ‎buatlah untuk kami sebuah tuhan berhala seperti mereka mempunyai banyak tuhan berhala. Musa menjawab: Sesungguhnya kalian ini adalah orang yang‎bodoh.” (QS. Al-A’raf [7]: 138).

Butuh Bukti

Kisah Bani Israil di atas menyisakan jejak ibrah yang penting bagi kehidupan saat ini.

Bahwa apa yang diberikan atau dipunyai oleh manusia bukanlah jaminan atas keberlangsungan iman di dada mereka.

Lihat saja Bani Israil. Kurang apa mereka dalam membersamai dakwah Nabi Musa?

Mereka bahkan terlibat langsung saat dikejar oleh tentara Fir’aun.

Bani Israil menyaksikan pula dengan mata kepala mereka ketika Laut Merah terbelah dan sekejap berubah jadi jembatan raksasa.

Bani Israil juga menjadi saksi atas tenggelamnya Fir’aun dengan segenap kesombongannya ke dasar samudara tersebut.

Pun demikian, mereka menyaksikan kekuasaan Allah yang sanggup mengubah tongkat Nabi Musa berubah jadi ular raksasa, sebelumnya.

Namun, hingga di sini, hendaknya seorang Muslim segera membangun kesadarannya.

Sebabnya semua itu bukanlah garansi pasti atas keimanan yang dipunyai. Sebab hidayah tersebut tak bisa diwariskan.

Iman bukan pula sekadar pengakuan tanpa pembuktian.

Kalangan ahlus sunnah mengatakan, Al Iman Tasdiqun bil qolbu, wa ikrarul bil lisan, wa ‘amalun bil arqan (Iman itu dibenarkan di dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan rukun-rukunya).

Bahwa semua yang dimiliki manusia adalah kesempatan dan peluang yang diberikan. Tapi sekali lagi ia bukan jaminan atas iman tersebut.

“Madrasah Kenabian”: Refleksi Iman yang Mencerahkan

Di antara manusia, boleh jadi ada yang ditakdirkan berbeda, antara yang rejekinya luas dan yang sempit.

Ada pula yang berjabatan tinggi dan berkedudukan terhormat, sedang tetangganya hanya berstatus sebagai penduduk biasa.

Dan seterusnya dari apa yang dipunyai oleh manusia di tengah masyarakat.

Bedanya, apa yang dipandang di sisi manusia belum tentu bernilai di sisi Allah.

Sebab semua yang disebut di atas hanyalah kesempatan dan peluang yang diberikan.

Ia bisa bernilai jika kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk maslahat umat dan agama.

Peluang itu berguna jika berhasil diubah dari idealitas di dunia maya menjadi realitas di alam nyata.

Sekali lagi, tengoklah kurang apa nikmat yang didapat oleh Bani Israil.

Tapi saksikan pula, apa yang dikerjakan oleh Bani Israil. Tanpa merasa bersalah sama sekali, mereka justru berulah dengan perbuatan yang tak beradab sama sekali.

Bani Israil minta dibuatkan tuhan-tuhan tandingan, sedang mereka baru saja diselamatkan oleh Tuhan Sang Pencipta, Rabb al-Alamin.*

 

Redaktur: Masykur Abu Jaulah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:‘BîmâristânBani IsrailhatiIman
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Peran Polri dalam Menyikapi Fatwa MUI tentang Atribut Keagamaan Non Muslim
Tulisan selanjutnya Pengamat: Penembakan Dubes Rusia Bisa Rusak Agenda Jangka Panjang Turki

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Berita
3 Juni 2026 13:30
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?