Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Presiden AS Paling Tak Disukai, Hari Kedua Berkantor Donald Trump Diprotes Ratusan Ribu Orang

Ama Farah
Terakhir diupdate: 22 Januari 2017 14:05 2:05 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 22 Januari 2017 12:28
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Para wanita turun ke jalan-jalan dalam jumlah besar yang tidak pernah terjadi sebelumnya di kota-kota besar di Amerika Serikat, hari Sabtu (21/1/2017) guna memprotes Presiden AS Donald Trump.

Ratusan ribu perempuan, banyak di antara mereka yang mengenakan topi rajut berbentuk seperti kuping kucing berwarna merah muda (pink) -disebut ‘pussyhat’- berjejal di jalanan pusat kota Washington, sekitar Gedung Putih dan National Mall. Ratusan ribu perempuan lainnya melakukan aksi serupa di New York, Los Angeles, Chicago dan Boston, di hari pertamanya bekerja penuh sebagai presiden AS setelah dilantik sehari sebelumnya.

Trump memicu kemarahan banyak orang di Amerika Serikat, terutama kaum liberal, terkait komentar-komentarnya yang dianggap merendahkan wanita, orang Meksiko dan Muslim.

Unjuk rasa Women’s March on Washington jauh lebih besar dibanding aksi serupa di hari pelantikan Trump sebagai presiden, Jumat 20 Januari, yang berpusat di US Capitol. Tidak ada angka perkiraan resmi berapa jumlah orang yang ambil bagian dalam aksi menentang kepemimpinan Trump itu. Namun, dari besarnya kerumunan yang tampak, diyakini peserta unjuk rasa melampaui 200.000, menurut pihak-pihak penyelenggara protes.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Penyelenggara unjuk rasa Sister March memperkirakan aksinya menarik perhatian 750.000 orang, yang memenuhi jalan-jalan di kota Los Angeles. Di Chicago, unjuk rasa yang semula dirancang dalam bentuk pawai diubah menjadi aksi protes di tempat, karena jumlah pesertanya membludak dan menyulitkan massa berjalan beriringan. Kepolisian Chicago memperkirakan orang yang memenuhi jalanan di kotanya untuk berunjuk rasa menentang Trump mencapai 125.000.

Pam Foyster, seorang penduduk Ridgway, Colorado, mengatakan suasana di Washington mengingatkannya pada unjuk rasa massa di era 1960 dan 1970 saat rakyat Amerika menentang Perang Vietnam dan menuntut hak-hak sipil dan kaum wanita.

“Saya berusia 58 tahun, dan saya tak membayangkan kita bisa mengalamani hal seperti itu lagi,” kata Foyster seperti dikutip Reuters.

Meskipun Partai Republik, kendaraan politik Trump, saat ini menguasai kursi di Senat dan Kongres AS, tetapi Taipan itu justru menghadapi banyak penentangan dari berbagai kalangan masyarakat.

Jajak pendapat oleh ABC News/Washington Post belum lama ini menunjukkan tingkat kesukaan rakyat terhadap dirinya adalah yang paling rendah di kalangan presiden baru AS sejak tahun 1970-an.

Selain di ibukota Washington, New York, Los Angeles dan Chicago, puluhan ribu orang membanjiri jalan-jalan di Manhattan, pusat bisnis terkemuka di Amerika Serikat.

Tanpa menghiraukan rakyat yang memprotesnya, hari Sabtu (21/1/2017) Trump yang senang berkicau di Twitter menulis, “Saya merasa terhormat melayani Anda, rakyat Amerika yang hebat, sebagai presiden ke-45 Presiden Amerika Serikat.”

  • Sepupu George Bush, Billy Bush, Kehilangan Pekerjaan karena Ngobrol Cabul dengan Donald Trump
  • Politisi Senior Partai Republik Paul Ryan Tak Bersedia Membela Donald Trump

Banyak pengunjuk rasa mengenakan ‘pussyhat’ saat melakukan aksinya. Topi itu adalah simbol pelecehan yang dilakukan Trump terhadap kaum Hawa. Seperti diketahui, saat masa kampanye terungkap rekaman video yang menunjukkan Trump sedang membicarakan wanita-wanita cantik dan mengaku pernah menyentuh bagian intim mereka. Pussy, selain untuk menyebut kucing, adalah istilah dalam bahasa Inggris gaul untuk menyebut vagina.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tiga Pendakwah Luar yang Populer di Malaysia
Tulisan selanjutnya Kemenag Rilis Mushaf Al-Quran Versi Web

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Berita
2 Juni 2026 19:00
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Terbaru

  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?