Hidayatullah.com–Umat Islam di Malaysia dikenal selalu terbuka dalam menerima pendakwah luar negeri, dan banyak menjadikan Malaysia sebagai tujuan menjelajah dakwah mereka.
Pada era 90-an, salah seorang pendakwah yang terkenal adalah Ahmed Deedat dari Afrika Selatan dengan ceramahnya yang memfokuskan perbandingan Islam dan Kristen.
Dalam era media sosial dan Youtube, ceramah mereka disebar dengan lebih luas dan cepat ke seluruh dunia, termasuk Malaysia.
Barisan kader ini memiliki pengaruh besar terhadap sikap dan pandangan masyarakat yang mengikuti ceramah mereka.
Namun, dengan kaitan Islam dalam konflik global, pandangan serta ideologi mereka, termasuk organisasi di belakangnya, lebih banyak diperhatikan berbagai pihak.
Meskipun kebanyakan ceramah mereka lebih kepada spiritual, mereka tetap membawa sikap politik (dalam arti yang lebih luas) yang akan mempengaruhi pengikut mereka.
Mufti Menk
Di antara pendakwah luar negeri yang sangat dikenal di Malaysia adalah Ismail Musa Menk, atau lebih dikenal sebagai Mufti Menk.
Tokoh asal Zimbabwe ini ternyata memiliki pengikut yang banyak di negara ini, ketika sering diundang untuk memberikan ceramah dalam acara agama.
Populeritasnya banyaak dari kalangan masyarakat kota yang berbahasa Inggris, tapi ia juga sering “diburu” pemimpin negara untuk bergambar. Barangkali karena popularitasnya itu di sini.
Dia juga mengomentari beberapa isu terkait nasional, berhubung tragedi MH370 dan MH17 3 tahun lalu.
Kata-katanya turut dipetik kerabat diraja Johor Tunku Idris Sultan Ibrahim untuk membela pesenam negara Farah Ann Hadi yang dikecam karena pakaian sukannya.
“Ketika Anda melihat perempuan dalam keadaan tidak sejalan dengan Islam, jangan sesekali merasakan tingkat spiritualnya lebih rendah dari Anda. Dia mungkin ada satu kelemahan zahir, dan Anda ada 50 kelemahan yang tersembunyi, “kata Menk.
Pandangan seperti ini membuat Menk mudah diterima masyarakat Islam terutama di kota, yang rata-ratanya lebih rentan dan Petugas pergaulannya.
Tapi dia bukanlah tanpa kontroversi, ketika banyak situs dan blog terkait Islam mengklaim dia seorang Salafi yang “menyamar” sebagai bermazhab Hanafi.
Dia pernah mengeluarkan pandangan Maulid Nabi – sambutan yang menjadi tradisi umat Islam seluruh dunia dan acara kemasyarakatan di Nusantara – sebagai bid’ah (amalan yang dibuat setelah Nabi) yang harus ditinggalkan.
Mufti Menk berlatar-belakang pendidikan bidang hukum syariah dari Universitas Islam Madinah serta jabatannya sebagai Direktur Darul Ilm ‘ (Pusat Pendidikan Islam), Dewan Ulama Zimbabwe yang memiliki misi untuk “menyediakan pengajaran dan penyebaran pengetahuan Islam yang murni” turut memperkuat tuduhan itu.
Suhaib Webb
Pengkhotbah Amerika Serikat (AS) ini juga populer di Malaysia, bahkan program tafsir Al-Qurannya berjudul “Reflections” diterbit dan disiarkan TV Al-Hijrah, stasiun agama dibiayai pemerintah.
Seperti Menk, Suhaib turut berkonsentrasi soal kerohanian dan akhlak terutama jika mempertimbangkan latarnya yaitu AS, di mana umat Islam dalam proses integrasi dengan nilai negara itu dan sering menjadi sasaran utama kritik.
Ia terlibat aktif dalam “Muslim American Society” yang banyak terlibat dalam program sosial dan kemasyarakatan serta menerima hibah dari pemerintah AS di bawah Program Inisiatif Berbasis Kepercayaan (Faith Based Initiative Program).
Tahun lalu, kelompok IS melalui majalah propagandanya “Dabiq” menggelarkannya sebagai murtad.
Responnya: “Sejujurnya, itu adalah sebuah kehormatan. Untuk dikecam oleh kelompok yang sangat dangkal pandangan teologisnya adalah satu hal yang baik. ”
Dia pernah dikritik segelintir pihak karena cenderung untuk menunjukkan citra yang baik tentang Islam kepada media di sana, sehingga mengabaikan apa yang mereka katakan sebagai nilai Islam yang sebenarnya.
Zakir Naik
Pendakwah dari India ini tidak surut dengan kontroversi dan barangkali antara tokoh agama paling berpengaruh di Malaysia, dibandingkan Mufti Menk dan Suhaib Webb.
Kedatangannya di Malaysia tahun lalu mengundang 2 reaksi – mendukung dan membantah kehadirannya.
Pendiri Yayasan Kajian Islam (Islamic Research Foundation) di India itu juga seorang pengkagum Deedat dan membuat perbandingan agama sebagai fokus ceramahnya.
Tempat yang menarik perhatian adalah pada kebanyakan programnya, ada peserta yang bukan beragama Islam akan mengucapkan kalimat Syahadah setelah mendengar ceramahnya.
Dianggal lebih dekat dengan Salafi berpengaruh di India, ia dianugerahi Hadiah Internasional Raja Faisal oleh pemerintah Arab Saudi pada 2 Februari 2015.*