Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

“Tuhan Tak Butuh Realestat,” Protes Warga Rusia Soal Status Katedral St. Isaac

Ama Farah
Terakhir diupdate: 31 Januari 2017 13:13 1:13 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 31 Januari 2017 11:09
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Sekitar 2.000 orang ambil bagian dalam aksi protes menentang penyerahan Katedral St. Isaac kepada Gereja Orthodoks Rusia. Para demonstran takut gereja bersejarah itu tidak akan lagi difungsikan sebagai museum publik, yang populer sebagai tempat wisata.

“Hampir 2.000 orang ikut serta dalam aksi protes di Marsovo Polye. Tidak ada insiden yang dilaporkan dalam aksi itu sejauh ini,” kata seorang kata juru bicara untuk Kementerian Dalam Negeri daerah St. Petersburg dan Leningrad, seperti dilansir RT dari kantor berita TASS hari Ahad (29/1/2017).

Unjuk rasa itu tidak sepenuhnya mematuhi aturan, sebab tempat tersebut sebelumnya sudah dipesan untuk aksi lain. Namun, penyelenggara protes mengatakan bahwa aksi menentang penyerahan katedral itu dilakukan menurut format yang legal untuk bertemu dengan anggota dewan legislatif setempat.

“Tuhan tidak membutuhkan realestat,” bunyi salah satu tulisan yang diusung peserta protes. Para aktivis juga membagikan balon bertuliskan, “Tidak ROC [Gereja Orthodoks Rusia].”

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Sebagian orang tampak mengenakan pita berwarna biru sebagai simbol ketidaksetujuan mereka dengan keputusan pemerintah daerah St. Petersburg.

Sementara itu, beberapa puluh orang muncul melakukan aksi tandingan, memberikan dukungan kepada Gereja Orthodoks Rusia.

Keputusan untuk menyerahkan Katedral St. Isaac kepada ROC diumumkan awal Januari lalu. Hal itu kemudian menimbulkan perpecahan di kalangan masyarakat Rusia dan menyulut perdebatan panas. Aksi unjuk rasa menentang keputusan itu pernah dilakukan pada 13 Januari lalu, tetapi diikuti oleh beberapa ratus orang saja.

Katedral St. Isaac, yang ditetapkan sebagai salah satu situs yang dilindungi UNESCO dan menjadi bagian penting sejarah St. Petersburg, sudah difungsikan sebagai museum publik dari tahun 1931.

Lebih dari 200.000 orang menandatangani petisi online menentang penyerahan bangunan itu ke ROC. Sejumlah alasan dikemukakan oleh mereka antara lain; soal tanggung jawab perawatan gedung yang pastinya membutuhkan biaya besar, nasib barang-barang yang dipamerkan di sana, termasuk sebuah pendulum langka Foucault. Mereka juga takut museum itu, yang didatangi sampai 3 juta wisatawan pertahun, akan kehilangan fungsinya sebagai tempat umum, karena pembatasan-pembatasan yang diberlakukan Gereja Orthodoks Rusia.

Namun, pejabat-pejabat ROC mengatakan bahwa pihaknya tidak hanya akan tetap memfungsikan katedral itu sebagai museum, bahkan meningkatkannya. Katedral tersebut sebenarnya pernah diminta untuk dipindahtangankan pada 2015, tetapi permintaan itu ditolak oleh pemerintah St. Petersburg.

Katedral St. Isaac didirikan pada tahun 1818 atas perintah Tsar Alexander I untuk menggantikan katedral lama yang kurang menarik bentuknya. Arsitek kelahiran Prancis Auguste de Montferrand mengawasi pembangunannya, yang berlangsung selama 40 tahun dan memakan biaya amat mencengangkan 23.000.000 rubel perak.

Sumber pemasukan

Bangunan gereja, katedral dan sejenisnya yang memiliki nilai sejarah tinggi amat berarti keberadaannya bagi operasional aktivitas lembaga kerohanian Kristen secara keseluruhan, sebab menjadi sumber utama pendapatan Gereja.

Sebagaimana diketahui Tahta Suci Vatikan, yang merupakan otoritas tertinggi Katolik Roma, memiliki kekayaan begitu besar -bahkan diyakini melebihi kekayaan sejumlah negara lain- dari hasil penjualan tiket dan donasi orang yang mengunjungi kompleks Basilika Santo Petrus (St. Peter’s Basilica).

⇒Vatikan Terlibat Pencucian Uang, Kartu Kredit Dilarang

⇒Direktur dan Wakil Bank Vatikan Mundur akibat Skandal

⇒Menyusul Kasus Korupsi dan Pencucian Uang Bank Vatikan Tutup Ribuan Rekening

Begitu besarnya uang dari hasil penjualan tiket ke wisatawan itu, Vatikan kemudian mengelolanya lebih lanjut lewat Istituto per le Opere di Religione (IOR), nama resmi dari bank milik Tahta Suci Vatikan yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Institute for the Works of Religion (Institut Bagi Karya-Karya Rohani) atau lebih populer dengan sebutan Bank Vatikan. Uang itu diinvestasikan di berbagai bidang, yang kemudian dipergunakan untuk membayar gaji dan aktivitas seluruh rohaniwan gereja dan jemaatnya di seantero dunia.*

 

 

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Aksi Bela Ulama, Ribuan Umat Islam Kaltim Dukung FPI
Tulisan selanjutnya PM Theresa May Konfirmasi Kunjungan Resmi Trump, Meskipun Banyak Warga Inggris Protes

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Berita
3 Juni 2026 12:08
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Terbaru

  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?