Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Hilangnya Marwah Partai Ka’bah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 2 April 2017 07:22 7:22 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 2 April 2017 07:22
Bagikan
PPP dukung Ahok
Bagikan

Oleh: Andi Ryansyah

 

BARU-BARU ini, dua kubu Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang berseteru yakni Ketua Umum PPP versi Muktamar Jakarta Djan Faridz dan Ketua Umum PPP versi Muktamar Surabaya Romahurmuziy alias Romy menunjukkan sinyal mendukung pasangan calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama – Djarot Saipul Hidayat pada Pilkada DKI putaran kedua.

Yang menarik, alasannya mendukung calon gubernur yang dianggap ‘Penista Agama’  berharap partai koalisi penguasa (dimana PPP ada di dalamnya) tidak ingin pecah.

Sungguh menarik, PPP yang saat ini  ada dua kubu dan susah bertemu, justru bisa disatukan oleh pasangan yang ditolak para ulama. Wajar jika ambisi PPP ini dinilai tak lagi berkepentingan Islam, lebih hanya kepentingan sesaat saja.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Baca:  Dukung Ahok, Politisi Senior PPP Sebut Kedua Kubu Partai Menghamba Kekuasaan

Kasihan betul partai ini! Sudah pecah jadi dua kubu, dalam kekuasaan cuma jadi emperan, dukung calon gubernur  yang menista agama pula. Mestinya mereka malu dan menjaga harga diri. Itu kalau mereka mau berkaca pada sejarahnya yang gigih memperjuangkan syariat dan aspirasi umat.

PPP dan Syariat Islam

PPP memiliki sejarah panjang dalam politik Indonesia, khususnya umat Islam Indonesia. Selama penguasa Orde Baru (Orba) bertahta, sudah enam kali Pemilu terselenggara, yaitu Pemilu 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997.

Rutinnya hajatan Pemilihan Umum (Pemilu) ini sayangnya tidak dibarengi dengan mutu pelaksanaan Pemilu.

Pemilu berjalan tidak demokratis. Hanya sebagai alat legitimasi pemerintah. Bukan sebagai alat demokrasi.  Intimidasi, rekayasa, mobilisasi, dan kecurangan-kecurangan mewarnai pelaksanaan Pemilu. Pemilu diselenggarakan lewat sebuah proses yang terpusat pada tangan-tangan birokrasi.

Tangan-tangan ini tidak hanya mengatur hampir semua proses Pemilu, tapi juga berkepentingan merekayasa kemenangan bagi partai penguasa, yakni Golkar. Dalam setiap Pemilu, kompetisi ditekan seminimal mungkin dan kebebasan serta perbedaan pandangan dilarang (Lili Romli, Islam Yes Partai Islam Yes Sejarah Perkembangan Partai-Partai Islam di Indonesia, 2008). Tak pelak Golkar selalu menang.

Pada Pemilu 1977, ketika partai-partai Islam seperti NU, Perti, Parmusi, dan PSII sudah berfusi menjadi PPP, persaingan antara Golkar (mewakili partai secular), dengan PPP yang Islamis, berlangsung sengit.

Pemilu 1977 digambarkan sebagai perlawanan antara penguasa dan Islam (Sudarnoto Abdul Hakim, Thesis The Partai Persatuan Pembangunan: the Political Journey of Islam under Indonesia’s New Order (1973-1987), 1993).

Menghadapi Golkar ini, Ketua Umum Majelis Syuro PPP sekaligus Rais ‘Aam PBNU, Kiai Bishri Syansuri, mengeluarkan fatwa jelang Pemilu 1977. Ia tegaskan, “…wajib hukumnya bagi setiap peserta Pemilu 1977 dari kalangan umat Islam pria maupun wanita, terutama warga Partai Persatuan Pembangunan untuk turut menegakkan Hukum dan Agama Allah dalam kehidupan kebangsaan kita, dengan jalan menusuk tanda gambar Partai Persatuan Pembangunan pada waktunya nanti. … Maka barangsiapa di antara umat Islam yang menjadi peserta pemilu tetapi tidak menusuk tanda gambar Partai Persatuan Pembangunan, karena takut hilangnya kedudukan atau mata pencaharian maupun karena sebab-sebab lain, adalah termasuk orang yang meninggalkan hukum Allah.” (Syamsuddin Haris, PPP dan Politik Orde Baru, 1991).

Golkar versus PPP ini tak cuma di Pemilu, tapi juga di parlemen. Pernah PPP menolak RUU Perkawinan yang diajukan penguasa karena bertentangan dengan ajaran Islam. Para Jenderal seperti Soemitro, Daryatmo, dan Soedomo sampai harus berhadapan dengan Kiai Bishri. Menghadapi masalah ini, Kiai Bishri mengumpulkan sembilan ulama besar di Jombang untuk membuat rancangan tandingan yang disalurkan lewat PPP di Jakarta.

Baca: Dukung Ahok, Sejarawan: PPP Mengkhianati Pendiriannya

Di antara rancangannya itu, menuntut penghapusan sebuah pasal yang menyatakan perbedaan agama bukan halangan bagi perkawinan, dan melarang pertunangan karena dapat mendorong ke arah perzinahan (Andree Feillard, NU vis-a-vis Negara Pencarian Isi, Bentuk, dan Makna,  1999).

Anggota Fraksi PPP yang hanya berjumlah 94 orang (dari 460 anggota DPR) berhasil menggagalkan RUU Perkawinan itu. Keberhasilan ini tak lepas dari dukungan organisasi pelajar, mahasiswa, pemuda umat Islam, dan tokoh-tokoh Islam di luar partai (Syamsuddin Haris, Ibid).

Salah satu tokoh Islam yang mendukung PPP adalah pemimpin Pondok Pesantren paling terkemuka di Jakarta, Kiai Abdullah Syafi’ie. Ia sampai mengundang alim ulama se-Jawa dan berbaiat menentang RUU Perkawinan (Ridwan Saidi, Kebangkitan Islam Era Orde Baru Studi Kepeloporan Cendekiawan Islam Sejak Zaman Belanda Sampai ICMI, 1993).

Soal kasus RUU ini, sejarawan Taufik Abdullah dalam bukunya Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia  (1987) menilai, perubahan RUU perkawinan oleh PPP adalah contoh dari kesepakatan ketika wilayah sakral dianggap terancam.

Kasus lainnya, PPP pernah memprotes aliran kepercayaan masuk dalam GBHN.

Kiai Bishri menemui Presiden Soeharto untuk minta agar kelompok aliran kepercayaan tidak diakui secara resmi. Sebab para pengikutnya adalah orang-orang “kafir dan musyrik yang tak jelas agamanya.” Kiai Bishri mengingatkan Soeharto, kalau pemerintah bersikukuh dengan kemauannya, maka “akan terjadi bencana” seperti terjadi di Sabah. Terjadi banjir, kemarau sampai “negeri akan hangus.”

Kemudian, PPP juga pernah menentang pelembagaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). PPP menolak bukan karena pedoman yang diajarkan secara resmi itu bertentangan dengan keyakinannya, melainkan khawatir di masa mendatang P4 menggantikan agama sebagai dasar pedoman hidup.

Misalnya, umat Islam akan shalat karena mematuhi sila pertama Pancasila, bukan karena taat pada agama. Dengan begitu, identitas Islam jadi tak jelas. NU juga khawatir penataran P4 nantinya akan menjadi batu pijakan perkembangan kebatinan.

Baca: Ketua Umum PPP Kubu Dzan Farid Ajak Umat Islam Kembali ke Partai ‘Ka’bah’

Menghadapi perlawanan PPP, Golkar menawarkan pemungutan suara untuk menyelesaikan masalah pelembagaan P4 dan aliran kepercayaan. Cara Golkar ini adalah cara menyelesaikan masalah tanpa mau mengalah. Sebab PPP minoritas di parlemen. Kalau voting, PPP sudah pasti kalah. Dipojokkan begini, PPP meninggalkan sidang MPR, sebagai tanda protes menolak pelembagaan P4 . Walk out ini dipimpin langsung oleh Kiai Bishri, yang sebelumnya mengeluarkan fatwa soal ini.

Besoknya, pada pemungutan suara mengenai pengakuan terhadap kelompok-kelompok aliran kepercayaan, PPP juga walk out. Bagi Kiai Bishri, abstain atau angkat tangan merupakan reaksi yang terlalu lunak. Ia membaca sebuah hadits yang menunjukkan satu-satunya sikap yang pantas diambil adalah menjauhkan diri.

Demikian sebagian perjuangan PPP memperjuangkan syariat dan aspirasi umat di ring politik. Meski minoritas di parlemen, tapi PPP tak minder menunjukkan identitasnya sebagai Partai Islam, partai yang membela Islam, partai yang kritis, berani, dan tegas bersikap melawan kelakuan penguasa yang menginjak syariat. Sungguh berwibawa!

Tapi melihat kelakuan PPP sekarang, kita bertanya, masih pantaskah partai ini mengibarkan panji Ka’bah dengan gembar-gembor yang pernah sering disampaikan, yakni “Rumah Besar Umat Islam”?

Andai Kiai Bishri masih hidup, pasti beliau akan menangis sedih sekali melihat “anak-anaknya” yang kini telah durhaka ini.*

Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)   

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ahokBasuki Tjahaja PurnanaDjan Faridzpartai IslamPartai Ka'bahPartai Persatuan PembangunanPPPPPP dukung AhokRomahurmuziysyariat Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Din Syamsuddin Prihatin Tuduhan Makar Aktivis Muslim
Tulisan selanjutnya Kisah Remaja Labil, Habis Gelap Terbitlah Terang

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Berita
3 Juni 2026 13:00
Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha

Terbaru

  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?