“APAKAH benar, kamu yang mengambil uang ibu?” tanya ibu kepadaku.
Pertanyaan itu membuat suasana makan malam yang sebelumnya hangat berubah menjadi tegang. Seketika itu semua perhatian tertuju padaku, menunggu jawaban. Sedangkan aku, yang merasa gugup, menjadi pusat perhatian. Akhirnya memilih untuk berbohong, dan mengatakan “Tidak!”.
Peristiwa hilangnya uang ibu, benar-benar membuat suasana rumah saat itu mencekam selama beberapa hari lamanya. Tampak ibu sangat shock dan kesal, karena tidak ada anggota keluarga yang mengaku mengambil uang itu.
Ibu yakin, bukan orang asing yang mengambilnya. Karena uang itu disimpan di tempat yang hanya diketahui oleh anggota keluarga.
Kejadian itu terjadi ketika aku masih SMP. Saat itu aku sangat menyukai sepak bola. Kegemaran ini tidak sebatas rutin mengikuti pertandingan demi pertandingan, mengidolakan klub favorit atau pemain terkenal saja. Lebih dari itu, sampai terjerumus ke lembah judi.
Mulanya sebatas taruhan antar sesama teman sepermainan, dengan taruhan uang berkisar Rp 5.000 sampai Rp 20 ribuan. Namun lambat laun, tergiring untuk terlibat dalam sekala besar. Sampai-sampai bertandang ke sebuah tempat yang menjadi pusat perjudian di daerah perkotaan sebuah kota di Pulau Jawa.
Meski masih terbilang ingusan, di sarang judi itu, aku sama sekali tak canggung berkumpul dengan orang-orang yang jauh lebih tua dariku. Enjoy saja. Di tempat ini, juga tersedia aneka ragam judi lainnya, seperti kartu dan nomor. Aku pun terbaya arus.
Awalnya sekadar memasang taruhan setiap kali ada pertandingan sepak bola, lokal pun mancanegera. Lalu mulai aktif ‘melebarkan sayap’ perjudian, dengan main kartu dan memasang nomor. Mulanya iseng-iseng saja. Namun ibarat candu, akhirnya ketagihan. Apalagi pas memperoleh keuntungan. Kepinginnya tak ingin menyudahi.
Dari dunia gelap ini pula, aku pun terperangkap dalam dunia syirik. Dilatari keinginan meraup kemenangan sebanyak-banyaknya dalam judi. Saya diajak oleh seorang kawan, sudah beberapa kali berkunjung ke dukun, ke kuburan-kuburan yang dianggap keramat guna mencari ‘keberuntungan’. Bahkan menyebar sesajen pun kulakukan.
Memang, kemenangan demi kemenangan dalam judi kerap kuraih. Keuntungan materi cukup lumayan dapat kuperoleh. Berlipat-lipat dari uang sangu sekolah pemberian orangtua setiap harinya, yang hanya berkisar Rp 5.000-20.000.
Gelisah
Meski demikian, kuakui kegelisahan hati tak bisa kupungkiri. Puncaknya ketika suatu masa, aku terkena batunya. Dalam setiap perjudian, aku selalu kalah. Karena masih berusaha mencari keberuntungan, meski modal di tangan telah ludes, kuterus saja melanjutkan permainan. Tak ada pilihan, berutang menjadi jalur yang ditempuh. Buahnya, aku pun terlilit utang.
Sebagai remaja yang masih labil, aku pun kebingungan menghadapi kondisi demikian. Hendak melapor ‘baik-baik’ ke orangtua, mustahil rasanya. Istilahnya sama saja dengan “bunuh diri”. Terlebih, perilaku burukku selama ini, sama sekali tak tercium oleh mereka.
Memang, aku berusaha menutup rapat-rapat. Di hadapan mereka, terutama ibu yang sangat kusayangi, aku berusaha tampil laksana anak yang patuh dengan orangtua.
Untuk keluar dari situasi rumit ini, kuputuskan untuk mengambil uang ibu, yang telah ia simpan di tempat khusus alias tersembunyi. Sebanyak Rp 500 ribu kuembat secara diam-diam. Hal inilah yang kemudian menyulut amarah ibu. Karena ia yakin, pelakunya adalah anggota rumah.
Mungkin karena begitu kesalnya melihat ketidakjujuran anaknya, ibu sampai menitikkan air mata. Beberapa kali kalimat meluncur dari lisannya yang sangat menohok diriku. “Ibu dan bapak tidak pernah mendidik kalian menjadi pembohong apa lagi pencuri,” lirihnya sambil terasak.
Kata-kata ibu dan buliran bening yang menetes dari kedua pelopak matanya itu, benar-benar menyayat-nyayat hatiku. Tak sampai hati melihatnya. Selama ini, baru kali ini kusaksikan seorang wanita yang sangat kusayangi dan kuhormati, menangis sedemikian rupa di hadapanku. Celakanya, aku sendiri sebagai penyebabnya.
Dengan peristiwa itu, seketika mencuatlah dalam diri ingin mengakhiri perilaku burukku. Aku tak ingin membuat luka hatiku lebih parah lagi, bila sampai mengetahui bahwa putranya ini telah menjadi penjudi. Sudah tentu perilaku yang sangat dibenci, karena bertentangan dengan ajaran agama Islam yang selama ini kerap diajarkannya.
Tekad berubah itu tidak hanya sebatas angan. Aku benar-benar berupaya menjauhi dunia gelap yang telah menyeretku ke berbagai jenis dosa. Aku pun mencoba mengubah segala tingkah burukku. Aku pun mulai sering membantu segala kesusahan orangtua. Mengutamakan mereka menjadi prioritasku, terutama ibu.
Menghafal al-Qur’an
Tak ada jalan mulus untuk satu kebaikan. Itu pula yang kualami. Beberapa teman silih berganti berusaha mengajakku untuk kembali ke dunia judi itu. tapi syukur, Alhamdulillah, aku masih bisa menepis segala bujuk rayu yang mereka sampaikan.
Karena tekad kuat agar terhindar dari pergaulan bebas telah menghujam di sanubari, selulus SMP, aku ajukan permintaan pada orangtua untuk masuk pesantren. Mereka tercengang mendengar permintaan itu. Bahkan mencegahku karena khawatir tidak akan betah di sana.
Sejatinya, saat itu aku juga kurang yakin, bisa betah di pesantren atau tidak. Namun keinginan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik lagi, mampu kutepis keraguan itu. Kedua orangtua pun kuyakinkan, bahwa tekadku bulat untuk ke pesantren. Guna mendalami agama, agar menjadi pribadi yang shaleh di kemudian hari. Alhamdulillah, akhirnya mereka merestui.
Setelah masuk pesantren, aku benar-benar mendapatkan apa yang kucari selama ini. Di sana, aku bukan hanya diajari tentang ilmu-ilmu agama, tapi juga diarahkan tentang hakikat kehidupan di dunia ini. Bahwa, tujuannya adalah untuk mencari ridha Allah, agar selamat di dunia dan akhirat – kampung abadi bagi segenap manusia.
Selain itu, nuansa Islami yang terbangun di pesantren, keberadaan ustadz-ustadz yang totalitas dan ikhlas dalam membimbing, serta teman-teman yang senantiasa menunjukkan akhlak yang baik, membuatku merasa sangat betah di pesantren.
Seperti pesan dari sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam; Orang yang berteman dengan tukang penjual parfum, maka ia akan juga kecipratan bau harumnya. Begitu pula yang kualami. Kurasakan, gelombang baik yang memancar dari pesantren, benar-benar memberi pengaruh dalam diriku.
Berkat karunia Allah semata, kini, Alhamdulillah, sedikit banyak aku telah memahami ilmu-ilmu dasar agama. Begitu juga soal pandangan hidup. Dan beberapa juz dari al-Qur’an, juga telah mampu kuhafal.
Doaku kepada Allah, semoga Dia senantiasa menjagaku dalam kebaikan hingga maut menjemput. Dan tak lupa doa untuk kedua orangtuaku, terkhusus ibu, agar senantiasa berada di naungan-Nya di dunia maupun di akhirat kelak. Aamiin ya Allah!* Kisah Abdullah, nama samaran. Ditulis oleh Zulebid/Anggota komunitas menulis PENA Jawa Timur