Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

564 Tahun Jatuhnya Konstantinopel [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 31 Mei 2017 10:15 10:15 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 31 Mei 2017 10:15
Bagikan
Kemenangan Panglima Mahmud Al-Fatih (855-886 H) atas Konstantinopel sudah diprediksi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassallam
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

 

Pada 27 Mei 1453 M, Sultan Muhammad Al-Fatih bersama tentaranya berusaha keras membersihkan diri di hadapan Allah Subhana Wa Ta’ala dengan memperbanyak shalat,  dan dzikir. Hingga tepat jam 1.00 dini hari hari Selasa 20 Jumadil Awal 857 H atau bertepatan dengan tanggal 29 Mei 1453 M,  (sebagian mengatakan ba’da shalat Subuh), Sultan Al-Fatih, memasuki tenda murabbi-nya, Syeikh Syamsuddin dan menemukan beliau sedang khusu’ berdoa kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Sultan menganggap inilah  sebuah pertanda baik.

Sultan akhirnya memerintahkan serangan utama. Para mujahidin diperintahkan supaya meninggikan suara takbir dan kalimah tauhid sambil menyerang kota. Meriam-meriam segera ditembakkan. Menyebabkan sebuah lubang di pagar benteng.

Dengan ketekunan yang besar, Pasulan Sultan Al-Fatih juga menyerang bagian tembok yang berada di dekat Gerbang St. Romanus, tempat Kaisar berperang bersama tentaranya. Salah satu pembela utama kota tersebut, Kapten Genoa Giovanni Giustiniani mengalami luka parah dan terpaksa meninggalkan pertarungan tersebut. Kerugian atas serangan ini konon tidak bisa diperbaiki lagi bagi Kekaisaran Byzantium. Dinding  bentengnya retak dan Kaisar jatuh saat pertempuran. Tidak ada informasi spesifik tentang kematiannya. Menurut legenda populer, orang Turki hanya bisa memasuki kota setelah adanya pengkhianatan internal, saat seseorang membuka Kerkoporta. Pada akhirnya para pembela HAM dikepung.

Baca Juga

Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

Dalam pertempuran ini,  salah satu tentara pertama yang syahid bernama Waliyudin Sulaiman. Para tentara menerobos  dan pasukan Usmani (Utsmaniyyah) akhirnya berhasil menembus  Konstantinopel melalui Pintu Edirne dan mereka mengibarkan bendera Daulah Utsmaniyyah di puncak kota.

Inilah hari gelap yang ditandai dalam sejarah Kristen, di mana Pasukan Usmani menyerang dan mengalahkan tentara yang dipimpin Kaisar Byzantium Constantine XI Palaiologos setelah pengepungan selama 53 hari. Sejarawan menyebut jatuhnya Konstantinopel  sebagai akhir dari Abad Pertengahan karena Kekaisaran Romawi yang berdiri sejak abad klasik di Barat (27 SM-476 M), kemudian dilanjutkan oleh Byzantium di Timur (330 M-1453 M) itu akhirnya benar-benar terhapus dari sejarah.

Pasukan sultan berarak-arakan hingga mencapai gereja Hagia Sophia di mana penduduk kota tersebut telah berkumpul. Ketika mereka mengetahui bahwa Sultan telah tiba, mereka bersujud dan membungkuk serta menangis karena mereka tidak mengetahui apa yang Sultan Muhammad Al-Fatih, semoga Allah Subhanahu Wata’ala merahmatinya, akan lakukan pada mereka.

Baca:  Wasiat Terakhir Al-Fatih

Ketika Sultan tiba, dia turun dari kudanya dan shalat dua rakaat sebagai bentuk rasa syukur karena Allah telah mengkaruniainya penaklukan itu. Kemudian Sultan Al-Fatih berkata pada penduduk kota tersebut yang saat itu masih bersujud dan menunduk dalam tangis;

“Berdirilah! Saya Sultan Muhammad dan saya ingin memberitahu kalian, saudara-saudara kalian, dan semua penduduk yang hadir bahwa nyawa dan kebebasan kalian dilindungi.”

Sultan Al-Fatih kemudian memerintahkan agar gereja tersebut diubah menjadi masjid dan untuk pertama kalinya, panggilan adzan terdengar dari tempat itu. Hingga saat ini, masjid itu masih dikenal sebagai Masjid Hagia Sophia. Dia juga memutuskan untuk menjadikan Konstantinopel ibukota dari negaranya. Yang nantinya menjadi Islambul berarti “Rumah Islam” atau juga ‘Menemukan Islam”. Dansekarang diganti menjadi Istanbul.

Para tentara menerobos dan pasukan Usmani (Utsmaniyyah) akhirnya berhasil menembus Konstantinopel melalui Pintu Edirne dan mereka mengibarkan bendera Daulah Utsmaniyyah di puncak kota

Sultan Al-Fatih yang memperoleh kemenangan di usia 23 tahun ini dikenal sangat toleran pada penduduk kota itu dan bertindak berdasarkan ajaran Islam. Dia memerintahkan tentaranya agar memperlakukan tahanan perang dengan baik. Sultan bahkan membayar tebusan bagi sejumlah besar tahanan perang dengan uangnya sendiri. Dia juga memperbolehkan orang-orang yang sebelumnya tinggal dalam pengepungan untuk pulang ke rumah mereka.

Menaklukkan Roma

Sultan Muhammad Al-Fatih, semoga Allah Subhanahu Wata’ala merahmatinya,  menandakan dia merupakan seorang jenius dalam militer.  Setelah penaklukan Konstantinopel, Sultan menuju Balkan melengkapi penaklukannya. Dia dapat menaklukan Serbia, Yunani, Romania, Albania dan Bosnia Herzegovina. Dia juga berharap untuk menaklukan Roma sehingga dia akan memiliki kebanggaan lain selain penaklukan Konstantinopel.

Baca:  Syaikh Aaq Syamsuddin Sang Penakluk Maknawi Konstantinopel

Dalam mencapai harapan besarnya itu, dia harus menaklukan Roma, Italia. Sebuah armada besar dipersiapkan dalam misi ini. Dia dapat mendaratkan pasukan dan sejumlah besar meriamnya di dekat Kota Otarant, Italia. Karena itu dia dapat menduduki kastil Otarant pada Jumadil Awal 885 Hijriyah bertepatan bulan Juli 1480 Masehi.

Sultan Muhammad Al-Fatih,  memutuskan untuk menjadikan Otarant sebagai basis operasi militer utara hingga dia dapat mencapai Roma. Negara-negara Eropa merasa ketakukan dikarenakan upaya-upayanya dan mereka mengira Roma akan jatuh ke tangan Muhammad Al-Fatih.

Pada tanggal 4 Rabiul Awwal 886 Hijriyah bertepatan 3 Mei 1481 M, saat Sultan Al Fatih sedang bersiap untuk mewujudkan mimpinya menaklukkan Roma,  Allah Subhanahu Wata’ala memanggilnya saat dalam perjalanan penaklukkan. Sultan Muhammad Al-Fatih saat itu berusia 52 tahun dan memerintah selama 31 tahun. Sebagaikan pendapat mengatakan wafatnya Sultan  Al-Fatih karena diracun oleh dokter pribadinya, Ya’qub Basya, Wallahu a’lam.

Mengetahui hal itu, Eropa merasa sangat senang. Paus Roma bahkan memerintahkan doa kegembiraan yang dilakukan di gereja-gereja untuk mengekspresikan kebahagiaan atas berita itu. Semoga Allah Subhanahu Wata’ala merahmatinya dan melahirkan generasi baru yang melanjutkan perjuangannya kelak.*/Nashirul Haq AR

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Bani UmayahByzantiumJatuhnya KonstantinopelKekaisaran Romawikekhilafahan Turki UsmaniKhalifah Muawiyah bin Abi SufyanKonstantinopelMuhammad al FatihOttomanpenaklukan KonstantinopelSultan Mehmet IISultan Muhammad bin MuradSultan UsmaniSyeikh Muhammad Syamsuddin
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jangan Mengucap ‘Ya Allah’ Ketika dalam Kondisi Tertekan Saja
Tulisan selanjutnya Waspadai Para Pencuri Ibadah Puasa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Analisis

Bagaimana Pakta Pertahanan Mekkah Bisa Mengubah Peta Ekonomi Timur Tengah?

Analisis
19 Agustus 2026 05:00
Jubir Parlemen Iran Berkunjung ke Baghdad, Iraq Minta Diperbolehkan Melewati Selat Hormuz
Redam Aksi Protes PM Modi Janjikan Pelatihan AI Gratis untuk Pelajar India
Kemenhaj Usulkan BPIH 2027 Sebesar Rp107,34 Juta per Jamaah
Sebut Orang Palestina Bukan Manusia, Menteri ‘Israel’ Serukan Pembunuhan Massal

Terbaru

  • Iran Izinkan Sejumlah Kapal Tanker Iraq Melewati Selat Hormuz
  • Kuwait dan Amerika Sepakat Memperdalam Kerja Sama dan Integrasi Militer
  • Pendiri Raksasa Properti China Evergrande Dibui Seumur Hidup
  • Merdeka Bersuara, Bukan Merampas Ketenangan: Sound Horeg dalam Syariat
  • Atas Jasa Ulama Madzhab, Ijtihad Tidak Lagi Harus Dari Nol
  • Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
  • Amerika Serikat Setujui Penjualan Pesawat Pengisi Bahan Bakar Bernilai $4,5 Miliar ke Qatar
  • Turki Keluarkan Surat Perintah Penangkapan Benjamin Netanyahu
  • Aparat Keamanan Pakistan Tewaskan 49 Militan
  • Nurul Hidayati K: BMIWI Dorong Sikap Proporsional Hadapi Fenomena Homoseksual

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

8 Mei 2026 08:59
Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?