Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Menengok Kejayaan Islam di Andalusia: Mungkinkah Kembali?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 28 September 2012 12:45 12:45 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 September 2012 12:45
Bagikan
Bagikan

Oleh: Nuim Hidayat

KEJAYAN Andalusia tidak bisa dilepaskan dari peranan besar Khalifah Bani Umayah yang pertama di sana. Abdul Rahman I (756-788M) adalah seorang pemimpin yang terpelajar, berwibawa dan amat meminati bidang kesusasteraan. Karena begitu cintanya pada bidang ini, ia mendirikan satu tempat khusus di dalam istananya yang diberi gelar “Darul Madaniyat” untuk kegiatan kesusasteraan kalangan wanita Andalus.

Pada zaman Abdul Rahman I, golongan cerdik pandai dan alim-ulama begitu dihormati dan dipandang tinggi oleh pemerintah, para pembesar dan masyarakat Andalus. Pemerintah telah memberi penghormatan yang tinggi kepada ulama dari Timur seperti al-Ghazi Ibn Qais dan Abu Musa al Hawari untuk menyampaikan ilmu agama di sana.

Dr Salmah Omar dalam disertasinya tentang “Andalus Semarak Tamadun di Eropah” menyatakan: “Pengganti Abdul Rahman I (788-796M) juga seorang pemerintah yang menitikberatkan kegiatan keilmuan. Pada zaman pemerintahannya, beliau telah membina beberapa buah sekolah untuk mempelajari bahasa Arab yang juga bahasa rasmi Andalus pada waktu itu. Jasa beliau yang paling besar dalam perkembangan keilmuan ialah perluasan penggunaan bahasa Arab dalam kehidupan seharian termasuklah urusan keagamaan di gereja, sekaligus melemahkan penggunaan bahasa Latin di seluruh semenanjung Iberia. Beliau juga Berjaya menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa lingua franca dalam hubungan antarbangsa pada zamannya dan zaman berikutnya.” (Joesoef Sou’yb, 1972:47)”

Pada zaman pemerintahan Abdul Rahman II (822-852M), kemajuan dan perubahan banyak dilakukan pula. Ia membangun banyak gedung sekolah dan institusi-institusi keilmuan bagi orang yang tidak mampu. Institusi ini dibangun di kota-kota penting dan ditanggung sepenuhnya biayanya oleh pemerintah. Ia kemudian membina Cordova sebagai tempat keilmuan dan prasananya. Iamembangun tempat untuk cendekiawan berdiskusi, masjid, jembatan dan taman yang indah serta perpustakaan yang bagus di kota tersebut.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Hal itu terus dikembangkan pemerintah berikutnya. Dr Salmah, mengutip FO Callaghan menceritakan: “Semasa abad pemerintahan khalifah, Cordova menjadi saingan sebenar kepada Baghad sebagai pusat kebudayaan dunia Islam. Khalifah Abdul Rahman III dan al Hakam II adalah dua ilmuan yang menyambut mesra sarjana dari Eropa, Afrika dan Asia.”

Usaha-usaha penerjemahan buku juga aktif dilakukan pemerintah. “Abdul Rahman III telah meneruskan usaha-usaha menaungi kegiatan penerjemahan yang telah dimulakan oleh Abdul Rahman II. Ramai sarjana yang berbakat di Andalus dan Timur berkumpul di istana beliau dan mereka diberi ganjaran yang lumayan. Sebagai contoh. Beliau bermurah hati member kurniaan kepada para sarjana Yunani dan Yahudi seperti Nicolas dan Hasdai. Pada zaman pemerintahan beliau, banyak hasil karya Yunani telah diterjemah ke dalam bahasa Arab dan ada juga beberapa buah karya asal dalam bahasa Arab meliputi pelbagai bidang ilmu pengetahuan.” (Salmah Omar, 2009:16).

Pada masa pemerintahannya ini, penduduk Cordova telah meningkat menjadi lebih 500 ribu orang dan dengan terbangunnya universitas-universitas, penerbitan buku-buku, industri kertas dan berbagai kegiatan intelektual, maka ia menjadi kota yang maju berbanding kota lain di Asia dan Eropa.

Dr Salmah, dosen di UPM Serawak Malaysia ini melanjutkan: “Pada zamannya Universiti Cordova telah diperbesar dan dipertingkatkan peranannya sehingga muncul sebagai universiti yang terbaik dan terbesar di dunia. Universiti Cordova ini telah berupaya menandingi Universiti Al Azhar di Kaherah (Kairo) dan Nizamiyah di Baghdad. Ia telah Berjaya menarik ramai pelajar sama ada Kristian, Yahudi dan Islam, bukan sahaja dari Andalus tetapi juga dari Negara-negara di Eropa, Afrika dan Asia.”

Begitu juga khalifah al Hakam II sangat cintakan ilmu pengetahuan dan buku-buku. Di perpustakaan miliknya terdapat lebh dari 400ribu buah buku dan 44 katalog yang kebanyakan sudah dibacanya. Ia juga senang memberi catatan terhadap buku-buku itu.

Pemerintah al Muwahiddun yang meneruskan kekuasaan setelah Bani Umayah jatuh pada 1031M, juga melanjutkan aktivitas keilmuan di sana. Mereka turut serta dalam memperkenalkan pemikiran Asyariyah dan Imam Ghazali. Pemerintah saat itu berusaha gigih mengumpulkan para cendekiawan dari seluruh dunia untuk mengisi tenaga-tenaga pengajar pada universitas-universitas yang mereka dirikan.

Khasanah Ilmu

Universitas Cordova yang letaknya di Masjid Cordova adalah tempat yang paling baik untuk belajar pada saat itu. Saat itu telah ada jurusan astronomi, matematika, kedokteran, teologi dan undang-undang/hukum. Amir Hasan Siddiqi sebagaimana dikutip Salmah menyatakan: “Pada abad ke-10 M Apabila Cordova (ibu Negara kerajaan Umaiyah Spanyol) mula menyaingi Baghdad, pasang surut aliran budaya dan pembelajaran yang bertimbal balik. Semasa abad yang berikutnya, bertambah ramai lagi pelajar dari wilayah Islam Timur dan Kristian Eropah berduyun-duyun datang ke Universiti Cordova, Toledo, Granada dan Seville untuk menimba ilmu dari perigi ilmu pengetahuan yang mengalir ke sana dengan banyak sekali.”

Granada muncul sebagai pusat pemerintahan Islam dan perkembangan keilmuan yang terpenting di sebelah barat Andalusia. Universitas Granada dibangun oleh Sultan Yusuf I pada tahun 1349M. Universitas itu terkenal dengan panggilan Darul Ilm atau al Madrasah an Nasriyyah. Ia mempunyai beberapa jurusan seperti undang-undang/hukum, kedokteran, kimia, falsafah dan astronomi.

Buku adalah satu hal yang terpenting dalam menunjang keberadaan universitas, Saat itu, menurut Dr Salmah, Andalus menjadi pusat penerbitan buku yang terbesar di Eropa. Dari Andalus, perusahaan membuat kertas tersebar ke Italia dan Prancis serta kemudian ke seluruh Eropa. Sebelum terjadi Perang Salib, buku dan kertas menjadi warisan Islam Andalus kepada Eropa Barat.

Philip K Hitti seperti dikutip Salmah menggambarkan kejayaan Andalusia ini : “Sambil sains Arab merosot di bumi Islam Timur, ia berkembang maju di Baratnya. Bandar raya Cordova mengambil alih tempat Baghdad sebagai pusat pembelajaran, sementara Toledo dan Seville pula berkongsi dalam keintelektualan. Sarjana Arab Sepanyol membangun di atas asas yang disediakan oleh rekan seagama mereka di Iraq, Syria, Mesir dan Parsi. Zaman keemasan mereka meliputi secara kasarnya dari abad ke-11 hingga 12.”

Mengutip Anwar G Chejne, Salmah menggambarkan keindahan Cordova: “Pada abad ke-10 M, Cordova mengatasi keindahan Constantinople, dengan hospital, university, masjid dan istana yang sungguh cantik, perpustakaan awam, kolam mandi awam dan taman dengan persiaran yang sangat indah. Semua kemudahan itu ada di Bandar raya utama Negara Sepanyol Islam, dan ia membantu mewujudkan persekitaran intelektual yang melahirkan bijak pandai agung Andalusia.”

Perpustakaan umum dibangun di setiap wilayah Andalusia. Di kota Cordova saja terdapat sebanyak 70 buah perpustakaan umum yang bisa digunakan oleh seluruh masyarakat di situ.

Tokoh ulama yang terkenal di Andalusia, saat itu antara lain: Ibnu Rush, Ibnu Hazm, Ibnu Abdil Barr dan Qadi Iyad. Ibnu Rush (1126-1198M) seorang dokter dan ahli hukum yang terkenal di masanya. Ia telah mengumpulkan ensiklopedia perobatan dan beberapa komentarnya tentang Aristotle, ringkasan dan resumenya menjadi buku teks selama beratus-ratus tahun. Karyanya yang terkenal Bidayatul Mujtahid; dan Tahafut al Tahafut yang menjawab Tahafut al Falasifah karya Imam Ghazali.

Ibnu Hazm (994-1064M) terkenal dengan karyanya al Muhalla, al Fasl fil Milal wan Nihal, Risalah fi Ushululil Fiqh dan al Ahkam fi Ushulil Ahkam. Ibnu Abdil Barr (978-1070M) dengan karya agungnya al Isti’ab lis Shahabah dan al Humaydi. Sedangkan Qadhi Iyad yang terkenal pada abad ke-12, adalah seorang ulama pakar dalam bidang hadits, fiqh dan sejarah. Ia telah menghasilkan kitab sedikitnya 20 buku tentang hal tersebut. Ia merupakan tokoh dalam mazhab Maliki dan pernah bertugas sebagai penasihat kerajaan al Murabitun.

Kapankah tradisi dan khasanah ilmu itu kembali lagi?*

Penulis buku “Imperialisme Baru”(GIP)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Masjid Harus Bisa Membuka Diri untuk Fasilitasi Peran Anak Muda
Tulisan selanjutnya JPRMI Galakkan Gerakan “Ayo ke Masjid”

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Global Sumud FLotilla
Berita

Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Berita
30 Mei 2026 09:51
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Terbaru

  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?