Hidayatullah.com– Tokoh Nahdlatul Ulama (NU), KH Salahuddin Wahid, mempertanyakan jika ada yang menuding bahwa sikap anti komunisme merupakan bentuk radikalisme.
“Kalau menolak komunisme mah rasanya banyak sekali orang di Indonesia. Saya menolak komunisme, masa saya radikal. Saya pikir enggak ah,” ujar Gus Solah, sapaannya, saat dihubungi hidayatullah.com Jakarta, semalam, Jumat (03/11/2017).
Hal itu ia sampaikan menyikapi adanya tudingan selama ini bahwa masyarakat yang anti komunisme, LGBT, dan aliran sesat, merupakan kelompok yang menanamkan radikalisme dan intoleransi.
Soal tudingan intoleran, Gus Solah mengatakan, “Kadang-kadang kita terlalu menyederhanakan masalah.”
Misalnya, saat Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Dimana kata dia umat Islam yang memilih berdasarkan ajaran agama, yaitu tidak boleh memilih pemimpin non-Muslim, itu dianggap sebagai intoleran, dianggap anti Pancasila. “Saya pikir tidak benar (anggapan itu),” ungkapnya.
“Orang meyakini ajaran agamanya kok bisa dibilang tidak toleran itu dari mana, gimana gitu?!” tambahnya mempertanyakan.
Gus Solah mengatakan, soal toleransi atau intoleransi, perkaranya harus didudukkan dan dijelaskan. Keduanya tidak bisa disederhanakan.
“Misalkan saya, saya tidak mengizinkan anak saya yang perempuan kawin dengan laki-laki non-Muslim, apakah itu saya dianggap tidak toleran? Ya saya keberatanlah, wong itu saya berdasarkan keyakinan saya kok, masak saya tidak toleran?!” ungkapnya.
Baca: Gus Solah: Di Masjid Salman ITB Enggak Ada yang Radikal
Ia menjelaskan, toleransi adalah menghargai perbedaan.
“Kalau di dalam Islam jelas, ‘lakum dinukum waliyadin’, ya, kan. Untukmu agamamu untukku agamaku. Kita tidak bermusuhan dengan orang lain agama. Kita berkawan, kita bersaudara sebangsa gitu kan. Tapi toleransi itu dalam hal sosial tidak dalam ajaran kalau menurut saya,” paparnya.
Terkait pandangan masyarakat atas suatu aliran sesat, menurut Gus Solah, tidak boleh ada kekerasan terhadap kelompok aliran sesat. Misalnya Ahmadiyah.
“Dia boleh hidup di Indonesia gitu loh. Dan kita juga tidak boleh melakukan kekerasan kepada mereka. Tapi kalau kita menganggap Ahmadiyah itu tidak benar, masa ndak boleh?!” ungkapnya.
Baca juga: MUI: Tidak Ada Kata Toleransi pada LGBT dan Aliran Sesat
Dengan bertoleransi pun, lanjutnya, tidak menghalangi sesama umat berbangsa untuk saling berkawan.
“Artinya ya kita berbeda, kita sadar kita berbeda tapi kita tidak bermusuhan gitu loh. Jadi misalkan saya, saya tidak setuju dengan ajaran HTI, tapi saya tidak merasa bermusuhan dengan orang HTI,” pungkasnya.*