Hidayatullah.com—Sebuah jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan asal Swedia yang beroperasi di Inggris tidak yakin kesepakatan Brexit akan dicapai pada akhir 2019, dan Brexit berdampak buruk bagi investasi di Inggris.
Survei, yang dilakukan oleh periset pasar Ipsos MORI bekerja sama dengan Kamar Dagang Swedia dan 12 kamar dagang asing di Inggris, mengungkap gambaran buruk bagi iklim bisnis di Inggris terkait dengan keputusan negara itu untuk keluar dari persekutuan Uni Eropa.
Dilansir The Local Jumat (3/11/2017), sekitar 78 persen dari 112 perusahaan Swedia yang ikut serta dalam survei mengaku “sangat tidak yakin” atau “tidak yakin sama sekali” bahwa Inggris akan menenui hasi positif pada Maret 2019, batas akhir kesepakatan Brexit dengan Uni Eropa.
Setengah dari mereka juga mengatakan yakin Brexit akan memberikan dampak negatif bagi investasi di kerajaan itu lima hingga sepuluh tahun ke depan.
Akan tetapi, sepertiga dari perusahaan yang disurvei mengatakan Brexit tidak akan berdampak bagi investasi di Inggris atau lainnya.
Sejumlah perusahaan besar asal Swedia beroperasi di Inggris, termasuk IKEA dan peritel pakaian H&M.
Ikea, yang membuka toko pertamanya di Inggris 30 tahun silam di kota Warrington, sudah mengatakan bahwa referendum Brexit mempengaruhi bisnis mereka, berupa pelemahan mata uang pound yang berdampak pada harga jual produknya.
Pada bulan Oktober, IKEA ikut bergabung dengan perusahaan-perusahaan besar internasional lain meminta kepada pemerintah Inggris agar dibuat “masa transisi” pascaBrexit, guna melindungi operasional usaha mereka di negara itu yang terombang-ambing akibat ketidakjelasan kesepakatan Brexit dengan Uni Eropa.*