Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

“Busung Lapar” Ditengah Pesta Demokrasi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 Januari 2018 11:53 11:53 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 Januari 2018 11:53
Bagikan
Ilustrasi
Bagikan

Oleh: Tony Rosyid

 

DI SAAT presiden sibuk blusukan mencari dan mengumpulkan suara untuk persiapan pilpres 2019, bayi-bayi dari Suku Asmat mati kelaparan. 67 anak kehilangan nyawa. Angka yang masih terus bertambah. Sementara partai-partai asik menghitung mahar dan cost politik. Dan para kepala daerah tak berhenti bergerilya untuk mengatur strategi memperpanjang kekuasaannya.

Ketika sejumlah lembaga survey sedang bekerja mengkualifikasi suara pemilih untuk para calon yang membiayai, jeritan anak negeri di ujung timur sana pecah. Jeritan yang mengusik ritual demokrasi yang sarat manipulasi. Mereka bertanya: untuk siapa sesungguhnya uang APBN yang sekarang sedang dihambur-hamburkan untuk biaya pilkada itu? Untuk sebuah prestise kedudukan atau untuk kepentingan bangsa? Atau malah untuk mengadu nasib para politisi di meja “taruhan demokrasi”?

Sejak tangis anak bangsa di ujung timur sana dibeberkan media, sejuta alasan lalu dibuat. Medannya terlalu sulit. Karena Kabupaten Asmat berada di pulau terpencil. Infrastruktur tidak memadai untuk dilewati. Ini jurus jitu untuk berkelit. Semua alasan “Klise”. Kemana larinya dana pinjaman luar negeri yang katanya untuk proyek infrastruktur selama ini?

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Malah ada tuduhan: pola hidup masyarakat Asmat tidak sehat? Itu namanya “blamming the victim“. Menyalahkan korban. Pertanyaannya mesti dibalik: mengapa mereka hidup tidak sehat? Tanggung jawab siapa kesehatan itu? Tidakkah permintaan maaf karena lalai mengurus mereka, akan jauh lebih bijaksana? Semua gengsi untuk melakukan. Takut disalahkan.

Kalau soal membuat alasan, apalagi menyalahkan korban, bangsa ini jagonya. Tidakkah beberapa waktu lalu, USD 1 juta dikirim ke Palestina? 20 milyar rupiah disumbangkan untuk membangun rumah sakit di Gaza? Tidak kurang apanya blokade tentara Israel menghalau bantuan? Tapi, toh bisa. Bantuan sampai. Anak-anak Palestina tidak kena busung lapar. Belum lagi untuk etnis Rohingya. Kenapa giliran untuk anak negeri sendiri, muncul secara kreatif berbagai alasan?

Publik pun bertanya: kemana dan untuk apa blusukan para bakal calon presiden selama ini? Untuk persiapan 2019? Apakah karena Suku Asmat jumlah penduduknya sedikit dan tidak signifikan suaranya untuk 2019? Kemana para anggota DPR dapil Asmat? Kemana saja bupati dan gubernurnya? Kabarnya, mereka lebih sibuk di Jakarta dari pada urus rakyatnya.

Soal anggaran, ini daerah khusus. Anggarannya juga khusus. 1,5 triliyun lebih untuk Kabupaten Asmat. Kemana aja anggaran yang 10% diamanahkan untuk kesehatan?

Baca: Ketua BAZNAS: Tingkat Kelaparan Indonesia Seriud di Dunia

Di tengah gegap gempita pilkada dan persiapan pilpres, berita busung lapar bayi-bayi dan anak-anak Suku Asmat terasa merobek nurani bangsa. Penyakit campak yang mewabah dan menyerang mereka terabaikan karena kesibukan mengurus pernak-pernik demokrasi yang kebanyakan asesoris dari pada substansi.

Kabar Suku Asmat seolah menjadi kritik memilukan kepada semua program Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan infrastruktur yang selama ini dibanggakan. Kabar ini sekaligus mengkonfirmasi kemiskinan anak negeri yang terabaikan oleh kesibukan politik yang gaduh dan menghabiskan banyak anggaran.

Andaisaja mahar dan cost politik itu diarahkan untuk membangun Puskesmas di pulau terpencil Suku Asmat, atau untuk menyediakan beras dan membangun infrastruktur jalan buat mereka, maka nasib anak-anak Suku Asmat tidak akan mati karena gizi buruk seperti sekarang. Dari pada untuk membeli gambar, baliho dan biaya media buat iklan dan asesoris pencitraan.

Seandainya dana saksi pemilu yang milyaran itu untuk membeli beras bagi anak-anak di daerah terpencil yang kelaparan, maka tak akan ada lagi busung lapar yang membunuh bayi dan anak-anak di negeri ini.

Fakta busung lapar bayi dan anak-anak Suku Asmat yang merenggut puluhan nyawa membuat semua anak negeri ini menangis-pilu, sedih dan sekaligus marah. Karena terjadi di saat pesta demokrasi sedang menghambur-hamburkan begitu banyak anggaran.

Seandainya para bakal calon presiden rajin blusukan kesana, seandainya para calon bupati, walikota dan gubernur juga rajin menyapa mereka, seandainya para politisi partai menengok kesana, seandainya anggota DPR dan DPRD mengisi waktu reses mereka di sana, maka busung lapar tak akan menimpa anak-anak Asmat itu.

Banyak Asmat-Asmat yang lain. Mereka hidup terpencil dan jauh dari lokasi blusukan. Tak tersentuh kamera dan berita media. Mereka sedang berhadapan dengan nasib perut dan kesehatannya.

Kasus kurang gizi bayi-bayi Asmat mesti membuka mata negara untuk pertama, mendata dan mengidentifikasi masyarakat terpencil yang berpotensi kurang gizi dan kelaparan seperti Suku Asmat. Kedua, membuat program khusus dan anggaran memadai untuk mengatasi mereka, tanpa syarat dan alasan.

Tapi, jumlah pemilih suku-suku itu terlalu sedikit. Tak signifikan suaranya untuk kepentingan pemilu. Hanya buang-buang waktu. Tak sesuai dengan biaya yang harus dikeluarkan. Itung-itungannya defisit.

Baca: Keuskupan Asmat Papua Menampik Berita Suku Asmat Masuk Islam

Begitulah kira-kira kalkulasi politiknya. Rakyat seringkali dilihat dari kekuatan jumlah pemilihnya. Bukan karena masalah dan kebutuhannya. Tidakkah amanah undang-undang adalah berlaku adil dan memeratakan kesejahteraan. Jika tidak sanggup, jangan pernah berniat jadi presiden, gubernur, bupati dan walikota. Sebab, rakyat bukan alat mainan demokrasi. Tetapi, mereka adalah amanah undang-undang untuk dijamin hak hidup dan kebutuhannya.

Demokrasi yang dibiayai negara dari pajak rakyat sedianya untuk melahirkan para anggota DPR-DPRD yang menyuarakan masalah dan kepentingan rakyat, dan para pemimpin yang bersedia menjadi pelayan untuk memakmurkan rakyat seringkali berubah arah menjadi instrumen yang melupakan, bahkan menyebabkan kemiskinan rakyat. Fakta kelaparan di Suku Asmat seolah mempertanyakan sistem demokrasi yang berjalan selama ini. Ada yang perlu diperbaiki dan kembali diluruskan.

Sistem demokrasi kita telah mengakibatkan pertama, aksi palak memalak dalam pemilu atas nama mahar dan cost politik. La Nyalla dan Gerindra adalah kasus permukaan yang mengungkap adanya transaksi para calon kepala daerah dengan hampir, kalau tidak dikatakan semua, partai politik. Kedua, memancing para rentenir politik untuk ikut bermain mengundi nasib keberuntungan. Ketiga, melahirkan para koruptor berdasi atau “white colour crimes” yang tak terkendalikan. Terbukti tidak kurang dari 304 kepala daerah terjerat kasus korupsi. Lebih dari  separo. Ini faktor sistem, bukan semata-mata moralitas personal. Sistem yang harus diperbaiki sebelum manusianya.

Negara yang selama ini menjadi tempat penjarahan banyak politisi bekerjasama dengan para rentenir berpotensi menimbulkan kebangrutan Indonesia. Akibatnya, pengangguran, kemiskinan dan bahkan kelaparan menjadi ancaman masa depan bangsa. Kasus busung lapar yang dialami Suku Asmat hanya sebuah peringatan.

Demokrasi yang sangat liberal dan sarat transaksi haram ini sudah saatnya direvisi. Caranya? Tegakkan hukum. Tidak jalan, kembalikan pemilihan kepala daerah dan presiden kepada DPR dan DPRD. Tidakkah itu kembali ke sistem.lama yang pernah gagal?

Benahi DPR dan DPRD-nya. Berlakukan “fit and proper test” kepada setiap Caleg yang didaftarkan oleh partai. Bentuk lembaga atau tim khusus yang kredibel dan punya integritas untuk menseleksi semua caleg. Dengan melibatkan KPK, Polisi, Kejaksaan, PPATK, akademisi, dokter, psikiater dan agamawan dalam lembaga atau tim seleksi Caleg, ini akan menjadi langkah terobosan untuk menyaring caleg-caleg terbaik. Setelah itu kawal prosesnya dengan penegakan hukum yang tegas.

Teorinya, orang baik akan lahir dari lingkungan yang baik. Pemimpin yang lahir dari DPR-DPRD yang baik, maka pemimpin itu besar kemungkinan adalah orang-orang baik.

Demokrasi yang dalam prakteknya berbasis pada sistem yang baik, akan mampu memberi harapan dan optimisme bagi lahirnya para pemimpin yang ideal. Bukan para pemimpin yang sibuk membangun pencitraan dan mempersiapkan kelanggengan kekuasaannya. Sehingga bayi-bayi dan anak-anak di Kabupaten Asmat mendapat perhatian dan tidak dibiarkan mati kelaparan.*

Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Busung LaparKartu Indonesia SehatkekuasaankelaparankemiskinanPesta DemokrasipilkadapilpresSuku Asmat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ketika Mo Ahmed yang Lelah Bekerja Kesal Istrinya Pergi ke Pub
Tulisan selanjutnya UZMA Dipanggil Polisi, Keluarga Anggap Ustadz Zulkifli Sedang Rihlah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak

Berita
17 Juli 2026 14:04
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?