Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Politik (Menumpas) Identitas

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Januari 2018 14:30 2:30 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Januari 2018 14:30
Bagikan
Bagikan

Oleh: Andi Ryansyah

 

JELANG Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018, isu politik identitas diangkat oleh sebagian kalangan. Mereka trauma dengan Pilkada DKI Jakarta kemarin. Menurut mereka, politik identitas memicu konflik. Karena itu, mereka menentang dan berupaya mencegah politik identitas terulang di Pilkada tahun ini.

Tapi benarkah politik identitas memicu konflik? Untuk menjawabnya, kita perlu tahu dulu, seperti apa politik identitas yang mereka maksud? Kalau yang dimaksud adalah politik yang menggunakan isu Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA), maka seperti apa bentuknya?

Apakah bentuknya seperti sikap seorang Muslim yang tidak memilih pemimpin non Muslim karena larangan agamanya? Atau seperti dakwah seorang ulama yang menyampaikan ayat larangan memilih pemimpin non Muslim kepada jamaahnya? Kalau ini yang dimaksud, tampaknya itu tidak menyebabkan konflik di Pilkada DKI kemarin. Kelompok umat agama lain tak kelihatan ada yang marah, protes, demo, ribut dengan umat Islam karena hal itu. Antar mereka rukun-rukun saja. Artinya perbedaan identitas tak perlu menyebabkan permusuhan. Jadi tak usah khawatir.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Bagi umat Islam, tidak memilih pemimpin non Muslim dan mendakwahkan ayat larangan memilih pemimpin non Muslim –kepada yang Muslim juga tentunya–, selain merupakan ajaran agamanya, juga haknya yang dijamin dan dilindungi oleh pasal 29 UUD 1945. Artinya itu tidak bertentangan dengan konstitusi. Juga bukan bentuk intoleransi. “Arti toleransi itu, “kata Tokoh NU KH Saifuddin Zuhri dalam Panji Masyarakat 15/10/1978, “adalah menenggang orang lain, tanpa mengorbankan prinsip.”

Baca: Siapa Menebar Isu SARA akan Menuai Badai

Umat Islam tadi sedang memegang prinsipnya. Menentang dan mencegahnya berarti mengurangi hak mereka dalam menjalankan ajaran agamanya dan menumpas identitas politik mereka. Ini cara-cara yang tidak demokratis, anti kebinekaan, inkonstitusional dan intoleran. Begitulah kalau batin tidak siap dengan konsekuensi logis kehidupan berdemokrasi yang menjunjung tinggi arti toleransi sesungguhnya. Karena itu, SARA(N) mereka ini tidak perlu dituruti. Kita jadi curiga, jangan-jangan mereka bukan trauma konflik, tapi trauma kalah.

Dalam ajaran Islam, politik dan agama tidak dipisahkan. Agama Islam tak hanya mengatur ibadah seperti shalat dan zakat saja, tapi juga seluruh aspek kehidupan, termasuk politik. Namun, politik Islam tak sebatas Pemilu belaka. Lebih dari itu, politik Islam adalah politik yang menjalankan nilai-nilai Islam. Politik yang memerangi kebodohan, kemiskinan, kesenjangan, korupsi, keterbelakangan, kezhaliman, dan ketidakberdaulatan. Politik yang menyejahterakan rakyat. Politik yang mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh warga.

Politik Islam adalah politik yang seperti digambarkan oleh Tokoh Masyumi M. Natsir dalam Capita Selecta (1973);

“Suatu negeri jang pemerintahnja tidak mempedulikan keperluan rakjat, membiarkan rakjat bodoh dan dungu, tidak mentjukupkan alat-alat jang perlu untuk kemadjuan agar djangan tertjetjer dari negeri-negeri lain dan jang kepala-kepalanja menindas rakjat dengan memakai “Islam” sebagai kedok atau memakai ibadah-ibadah sebagai kedok, sedangkan kepala-kepala pemerintahan itu sendiri penuh dengan segala matjam maksiat dan membiarkan tachajul-churafat meradjalela, sebagaimana keadaannja pemerintahan Turki dizaman Sultan-sultannja jang achir-achir, maka pemerintahan jang sematjam itu bukanlah pemerintahan Islam.”

Politik Hina SARA

Berbeda halnya kalau bentuk politik identitas yang mereka maksud adalah politik yang menghina SARA. Kalau ini baru memicu konflik. Wajar ditraumai. Mereka benar. Contohnya siapa lagi kalau bukan Ahok. Jelang Pilkada DKI kemarin, dia menghina Al-Maidah 51 untuk kepentingan politiknya. Apa yang terjadi setelah itu? Konflik sosial meletus. Umat Islam marah dan demo bela Islam berjilid-jilid. Menuntut dia diadili dan dibui. Pendukung Ahok tak mau kalah. Mereka bikin demo tandingan. Menyuarakan kebinekaan dan Pancasila. Jadilah Islam dan Pancasila seolah-olah bertentangan –padahal tidak. Sesama anak bangsa jadi ribut dan terbelah. Sungguh menyedihkan!

Baca: Antara Agama dan SARA

Betapa politik penghinaan SARA ini sangat mengoyak persatuan, keberagamaan, dan kebinekaan serta meninggalkan luka sosial-politik yang lama disembuhkan. Terlampau besar kerugian yang ditanggung bangsa kita jika Pilkada 2018 ada lagi politik intoleran macam ini. Cukup Ahok saja yang begitu!

Karena itu, politik penghinaan SARA ini wajib ditentang dan dicegah. SARA(N) mereka yang ini perlu –bahkan harus– dituruti. Penyelenggara Pilkada dan penegak hukum harus netral, adil, dan tegas memberikan hukuman yang berat kepada calon kepala daerah yang memainkan politik penghinaan SARA.

Dari perbandingan dua bentuk politik identitas yang dimisalkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang menjadi potensi konflik Pilkada 2018 bukanlah identitas politik Islam, melainkan politik penghinaan identitas SARA. Justru identitas politik Islam bisa menjadi pencegah konflik di Pilkada 2018. Sebab ia menghargai SARA dengan berpegang pada ajaran toleransinya lakum diinukum waliyadiin dan ajaran egaliternya inna akramakum ‘indallaahi atqaakum. Karena itu, umat Islam tak usah minder dengan identitasnya. Tunjukkan bahwa kita adalah umat yang punya identitas! Tunjukkan itu dengan sikap dan perbuatan!

Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:agamaAntargolonganidentitasMuslimnon MuslimPemilihan Kepala DaerahpolitikrasSARAsuku
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Militer AS akan Terus di Suriah untuk Melawan Bashar Assad
Tulisan selanjutnya Keluarga Saudi Sedih Berpisah dengan TKW Indonesia setelah Kerja 33 Tahun

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas

Berita
13 Juli 2026 16:30
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?