Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

CIDES: Perencanaan Pembangunan Perlu Sesuaikan Perubahan Iklim

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 1 Maret 2018 19:32 7:32 pm
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 1 Maret 2018 19:32
Bagikan
Direktur Eksekutif CIDES Indonesia Rudi Wahyono dalam Dialog “Spatial Planning” di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Senin (26/02/2018).
Bagikan

Hidayatullah.com– Direktur Eksekutif Center for Information and Development Studies (CIDES) Indonesia, Rudi Wahyono, menilai, dalam membuat sebuah perencanaan pembangunan, seharusnya pemerintah menyesuaikan dengan perubahan iklim.

“Perencanaan Pembangunan seharusnya menyesuaikan atau beradaptasi dengan Perubahan Iklim yang terjadi baik lokal maupun global,” terang Rudi saat menjadi pembicara pada Dialog “Spatial Planning” dalam Rangka Lustrum ke VIII Jurusan Pengembangan Wilayah dan Kota Universitas Brawijaya di Malang, Jawa Timur, dalam rilisnya kepada hidayatullah.com, Kamis (01/03/2018).

Dalam analisisnya, secara global, perubahan iklim itu telah menimbulkan peningkatan Tinggi Muka Laut (Sea Level Rise) dengan laju kenaikan rata-rata sebesar 3-10 mm per tahun. Hal ini berdampak sangat signifikan pada kota kota tepian air (waterfront city).

Dampaknya, akan terjadi peningkatan fenomena cuaca ekstrem dan berdampak pada ranah sosial ekonomi, yaitu peningkatan urbanisasi dan pertumbuhan penduduk, peningkatan kebutuhan air, pangan, dan ketersediaan lahan.

Baca: Sengketa Agraria Meningkat Diduga Dampak Pembangunan Infrastruktur Masif

Secara jangka panjang, kenaikan muka air laut ini akan membuat kota tenggelam karena penurunan muka tanah (land subsidence) dan pergerakan tanah (land movement).

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

“Hal itu berdasarkan citra satelit InSar (Interferogram Satelit Aperture Radar). Meluasnya banjir, longsor, serta gempa bumi adalah konsekuensi dari kenaikan muka air laut. Asumsinya, jika terjadi kenaikan 3-10 mm per tahun, maka terjadi land subsidence sebesar 6-100 mm per tahun,” jelas Master Ilmu Lingkungan dari National Cheng Kung University, Taiwan ini.

Beberapa wilayah yang terancam mengalami land subsidence berdasarkan pantauan citra satelit di antaranya adalah Lhoksemauwe, Medan, Jakarta, Bandung, Bopunjur, Pekalongan, Semarang, dan Sidoarjo. Penurunan pun bervariasi mulai dari 4.5 sampai 22.5 cm per tahun.

“Padahal, Jakarta secara kumulatif telah mengalami penurunan muka tanah sebesar 2.000 mm sejak tahun 1900 hingga 2013,” jelas Rudi.

Baca: Hadapi Perubahan Iklim, Pemerintah Diharapkan Lebih Mandiri

Land Subsidence ini kian diperparah dengan semakin rusaknya sistem pengelolaan air di perkotaan.  Penyebabnya, ekstraksi air tanah yang berlebihan, penambangan migas dan batubara, gempa tektonik.

Selain persoalan banjir, menurutnya, salah satu indikator kurangnya perencanaan pembangunan dengan berdasarkan perubahan iklim adalah seperti yang terjadi pada kecelakaan infrastruktur di Tol Becakayu pada Selasa (20/02/2018) dinihari lalu. Kecelakaan ini tak kurang membuat tujuh orang pekerja mengalami luka-luka sehingga harus dilarikan ke RS UKI, Cawang, Jakarta Timur.

Menurut pantauan, jelas Rudi, kecelakaan ini terjadi saat wilayah tersebut terjadi peningkatan volume hujan di daerah tersebut, mulai dari malam hingga dini hari.

Baca: Kecelakaan Beruntun Proyek Infrastruktur, ICMI: Audit Menyeluruh

Di saat yang bersamaan, dari sisi ekonomi internasional, negara China sedang melakukan investasi besar-besaran, dari sisi infrastruktur, energi, dan perdagangan.

Seperti dirilis oleh China Investment Bank dan HSBC yang dikutipnya, pada 2018 disiapkan permodalan sebesar 4 triliun USD untuk infrastruktur energi, 2,5 triliun USD per tahun untuk perdagangan, 800 juta USD untuk perencanaan proyek, dan 8 triliun USD untuk proyek-proyek infrakstruktur.

“Dampak dari banjir investasi ini sepertinya sudah terasa di berbagai wilayah di Indonesia. Salah satunya adalah maraknya pembangunan di berbagai daerah, termasuk proyek infrastruktur Becakayu.

Sehingga, harusnya investasi tidak melabrak dan memporak-porandakan Rencana Tata Ruang dan Wilayah yang sudah dibuat. RTRW itu juga harus dikaji lagi terutama menyesuaikan dengan perubahan iklim,” tutup Rudi dalam acara pada Senin (26/02/2018) itu.*

Baca: Din Syamsuddin Serukan Aksi Bersama dalam Deklarasikan Perubahan Iklim di Turki

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Center for Information and Development StudieschinaCIDES Indonesiacuaca ekstremDirektur Eksekutif CIDES Indonesiaikliminfrastrukturinvestasi asinginvestasi Chinakota tenggelamkota tepian airlahanland movementland subsidencePembangunanpembangunan bangsapembangunan infrastrukturpenurunan muka tanahpergerakan tanahpermukaan air lautperubahan iklimPerubahan SosialRencana Tata Ruang dan WilayahRTRWRudi WahyonoSea Level RisetanahTinggi Muka LautTiongkokwaterfront city
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Voyage to Indonesia, INDEF: Pemerintah Harus Cermati Agenda IMF
Tulisan selanjutnya IMF Puji Indonesia, INDEF: Faktanya Ekonomi Kita Mulai Terkejar Malaysia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif

Berita
14 Juli 2026 15:30
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?