Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Analisis

Serangan Madrasahh Kunduz, sebuah Kehilangan Moral Tinggi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 6 April 2018 14:50 2:50 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 April 2018 14:49
Bagikan
Bagikan

Oleh: Thomas Ruttig

 

SERANGAN oleh angkatan udara pemerintah Afghanistan di madrasah (sekolah keagamaan) di provinsi utara Kundzu pada 2 April yang membunuh dan melukai puluhan penduduk sipil dan sejumlah anggota Taliban dan komandan adalah, mengutip kata-kata seorang novelis bernama Gabriel Garcia Marquez, sebuah kisah kematian yang telah diramalkan.

Tahun lalu, setelah pemerintah AS mengumumkan strategi Afghanistannya yang (tidak begitu) baru, yang berfokus pada meningkatkan tekanan militer atas Taliban untuk memaksa mereka ke meja perundingan, kelompok bersenjata itu membalas dengan baik, mengumumkan mereka tidak akan terintimidasi karena mereka pernah keluar dari gempuran pasukan yang bahkan lebih banyak di bawah Presiden Barack Obama.

Meminjam sebuah ungkapan Pashtun, dengan pertukaran sikap tidak menyenangkan itu “jelas seperti matahari” bahwa, sayangnya, tahun ini – sejak Nowruz 21 Maret yang juga tahun baru Afghanistan ke 1937 – akan melihat peningkatan kekerasan lain, mendorong pemecahan pada perang ini melalui jalan negosiasi akan semakin jauh ke masa depan. Apa yang serangan madrasah itu tunjukkan ialah tidak ada akhir yang terlihat dalam konflik ini dan kedua pihak bersedia menghapus kematian orang-orang yang kedua pihak bersikeras pertahankan sebagai “kerusakan tambahan”.

Baca Juga

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Sidang Umum PBB UNGA
Mimpi Buruk Israel: Turki Bangkit Jadi Kekuatan Baru Timur Tengah
Strategi Ibrahim Traoré: Tinggalkan Penjajah Prancis, Dekati Rusia
“Gubernur Konten”,  Antara Pencitraan, dan Polarisasi Digital
Kampanye Digital Masif dari Arab Diluncurkan untuk Menjatuhkan Sinwar dan Hamas
NAS Daily Terima Penghargaan dari Lobi ‘Israel’

‘Contoh yang salah’

Sayangnya, para sekutu Barat Afghanistan telah berulangkali memberi contoh yang salah.

Yang paling mencolok ialah penyangkalan mereka, dan kemudian justifikasi, pengembonan mereka atas rumah sakit yang dijalankan oleh Organisasi kemanusiaan medis internasional  Doctors Without Borders, dikenal dalam dalam bahasa Prancisnya Médecins Sans Frontières (MSF), di kota Kunduz yang sama pada Oktober 2015. Bombardir itu, yang dilakukan oleh NATO pimpinan AS, membunuh 16 penduduk sipil dan melukai 37 lainnya, termasuk anak-anak, pasien, doktor dan perawat.

Amerika Serikat menyatakan telah melancarkan serangan udara dan mengakui mereka “mungkin telah” mengenai rumah sakit, namun berupaya membenarkan tindakan mereka dengan mengklaim bahwa mereka menarget “individu-individu yang mengancam pasukan”. Deklarasi Taliban bahwa mereka tidak memiliki petempur di rumah sakit itu, dan pernyataan MSF bahwa “koordinat rumah sakit telah diketahui oleh pasukan AS” tidak mendapat perhatian.

Baca: Pembantaian 100 Santri Tahfizh Qur’an di Kunduz Picu Kemarahan Massal

Setelah serangan Senin, otoritas Afghanistan mengikuti contoh sekutu Amerika mereka pada tahun 2015 dan berupaya untuk menyangkal melakukan kesalahan. Jubir Kementrian Pertahanan Afghanistan, contohnya, bersikeras sama sekali tidak ada penduduk sipil yang berada di madrasah – dia mengklaim bahwa itu adalah “pusat pelatihan Taliban”. Bukanlah masalah bagi otoritas Afghanistan bahwa pada saat yang sama jubir gubernur mengumumkan bahwa sekitar 5 penduduk sipil terbunuh dan 55 terluka karena serangan udara.

Para saksi mata menggambarkan bagaimana helikopter pertama menembak dan kemudian meluncurkan roket menuju kerumunan orang yang sebagian besar anak-anak yang baru saja selesai menghafal Quran, orang tua mereka dan guru. Menurut laporan saksi, kerumunan orang berkumpul di luar sekolah bukan untuk pertemuan tingkat tinggi Taliban tetapi untuk melakukan upacara ikat turban dan makan siang. Menurut sumber sipil di lapangan terdapat beberapa kehadiran komandan Taliban, tetapi mereka di sana hanya untuk menghadiri upacara dan makan siang.

Seorang pilot Afghanistan seharusnya dapat mengenali upacara semacam itu dari helikopter yang mungkin terbang rendah.

Bahkan jika sejumlah besar komandan Taliban hadir, dan bahkan jika mereka menyelenggarakan perundingan perang di sana, bersembunyi diantara penduduk sipil – menembaki kerumunan seperti itu, menurut Konvensi Jenewa,  sama dengan menggunakan kekuatan yang tidak proporsional dan bisa jadi kejahatan perang.

Ya, Taliban, menurut PBB, masih menyebabkan lebih banyak korban sipil dari pada pasukan Afghanistan dan sekutu internasional mereka.

Pada akhir Januari, mereka memasang peledak di sebuah ambulans untuk menyerang kantor kementrian dalam negeri Afghanistan di Kabul dan – ketika mereka gagal mencapai target – meledakkannya di seberang sebuah rumah sakit di pagi yang menjadi jam sibuk, membunuh 95 orang dan melukai 158 lainnya.

Baca: Keluarga Korban Minta Tanggung Jawab Pembataian 100 Hafidz Quran di Kunduz

Dan beberapa hari setelah Nowruz di Lashkargah, Ibu Kota Provinsi Helmand selatan, seseorang mengendarai sebuah mobil menuju kerumunan orang yang meninggalkan stadion olahraga, membunuh dan melukai lusinan orang. Taliban tidak mengaku bertanggungjawab atas serangan ini. Tetapi cabang lokal dari ISIS – yang satu-satunya tersangka lain selain Taliban – tidak diketahui beroperasi di Helmand, dan akan mengatakan sesuatu jika mereka berada di belakang ini.

Pengeboman di Lashkargah terjadi dua hari setelah seorang pembom bunuh diri meledakkan diri di dekat Universitas Kabul di ibukota Afghanistan, membunuh 29 orang dan melukai 52 lainnya. ISIS mengklaim bertanggungjawab atas serangan itu.

Sebaliknya, pasukan yang memerangi kelompok ini di bawah kepemimpinan Resolute Support Mission (RSM) dan pasukan Afghanistan yang mereka latih seharusnya menempatkan diri mereka ke standar yang lebih tinggi.

Pasukan yang mewakili negara demokratik di Afghanistan, dan sekutu mereka, harus memastikan dapat menyerang target mereka tanpa membunuh penduduk sipil, atau dalam bahasa mereka, “menyebabkan kerusakan tambahan apapun”.

Mereka harus mematuhi Konvensi Jenewa dan menghindari melancarkan serangan pada penduduk sipil, bahkan ketika “target bernilai tinggi” diyakini berada diantara mereka.

Jika ini tidak menjadi aturan yang tidak dapat dipecahkan, pasukan pemerintah Afghanistan tidak dapat memperoleh landasan moral yang tinggi dan membedakan diri dari kelompok yang mereka tuduh “teroris”.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak selalu mencerminkan posisi editorial Aljazeera.*

Thomas Ruttig adalah seorang wakil direktur Afghanistan Analyst Network

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:#kunduzmassacreAfghanistanAmerika SerikatASAshraf GhaniDasht-e-Archiinvasi AS di Afghanistankrisis AfghanistanKunduzPBBpembantaian santri Kunduzpenghafal al-QuranPresiden AfghanistantahfizhTaliban
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Data 87 Juta Pengguna Facebook Dicuri, Indonesia Korban Terbanyak Ketiga
Tulisan selanjutnya 2 Lagi Orang Palestina Gugur di Tengah Berlangsungnya Aksi Damai di Gaza

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Berita
31 Mei 2026 01:20
‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Terbaru

  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Mungkin Anda Juga Suka

Mundurnya 'Israel' dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?
Analisis

Mundurnya ‘Israel’ dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?

5 Januari 2024 07:00
Analisis

Analisa Mantan Intel AS: Hamas Memenangkan Perang di Gaza

24 November 2023 13:00
Invasi Darat Israel ke Gaza
AnalisisArtikel

3 Skenario Invasi Darat Israel Menurut Pakar Keamanan Internasional

1 November 2023 06:10
Analisis

Serangan Pejuang Kemerdekaan Palestina  terhadap ‘Israel’ Makin Menampakkan Kemunafikan Barat

11 Oktober 2023 21:55
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?