Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Seratus Tahun Nelson Mandela, Seperti Apa Afrika Selatan Sekarang

Ama Farah
Terakhir diupdate: 18 Juli 2018 17:24 5:24 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 18 Juli 2018 17:24
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Pada 18 Juli 2018 apabila masih hidup Nelson Mandela akan berusia 100 tahun. Tokoh anti-apartheid Afrika Selatan itu dulu memimpikan negaranya bersatu, hidup makmur, aman dan damai. Namun, seperti apakah kenyataannya negara di bagian ujung selatan Benua Afrika itu saat ini?

Nelson Mandela adalah presiden Afrika Selatan pasca-apartheid yang pertama berkulit hitam. Dia seorang pejuang kebebasan dengan semangat pantang menyerah, yang menghabiskan 27 tahun waktunya di dalam sel tetapi tangannya masih mampu mengajak orang-orang yang memenjarakannya untuk berdamai.

Lima tahun setelah kematiannya pada Desember 2013, legasi Mandela masih tampak jelas di Afrika Selatan. Organisasi yang mewadahi perjuangannya, African National Congress (ANC), berhasil menduduki kursi kekuasaan yang dulu hanya ditempati orang-orang kulit putih.

Akan tetapi sayangnya, ANC beberapa tahun belakangan justru menampakkan perpecahan, penurunan dukungan publik, serta bergelimang dalam korupsi dan nepotisme.

“Menurut saya Mandela akan sangat khawatir dengan Afrika Selatan di tahun 2018 ini,” kata Jakkie Cilliers, direktur Institute for Security Studies, sebuah wadah pemikir berbasis di Afsel, seperti dikutip DW Rabu (18/7/2018).

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Semasa menjabat presiden Afsel dari tahun 1994 sampai 1999, Mandela memusatkan perhatiannya kepada rekonsiliasi dan persatuan masyarakat yang terbelah karena kebencian rasial. Akan tetapi, dia gagal mengatasi sejumlah masalah besar yang dihadapi negaranya, seperti masalah ras dan kesenjangan ekonomi yang sangat dalam, yang masih memerangkap mayoritas warga kulit hitam dalam kemiskinan

Masalah distribusi lahan juga belum terselesaikan. Sebagian besar tanah di Afsel masih dikuasai minoritas kulit putih, dan kompensasi terhadap petani pemilik lahan juga terus diperdebatkan tanpa ada ujung.

Afsel sekarang merupakan salah satu negara di dunia yang paling tidak seimbang atau mengalami ketimpangan parah, menurut laporan Bank Dunia tahun 2018. Lebih dari separuh penduduknya hidup di bawah garis kimiskinan sementara segelintir elit mengontrol sebagian besar kekayaan di negeri itu.

Dengan angka pengangguran di kalangan orang muda lebih dari 50 persen, banyak pemuda memandang kritis legasi Mandela.

Mandela tidak dapat dipersalahkan atas semua masalah yang ada sekarang ini, kata Cilliers, kala itu terlalu dini untuk dilakukan perubahan radikal.

“Tugas utama Mandela [kala itu] adalah menghindari perang sipil antara warga kulit hitam dan kulit putih, dan dia berhasil melakukannya,” ujar Cilliers dalam wawancara dengan DW.

Mandela mengirimkan dua pesan kuat kepada dunia, kata Adam Habib, wakil rektor Universitas Witwatersrand di Johannesburg kepada DW. Dia bukan seorang santa alias orang suci, melainkan sekedar politisi yang dapat meraih sukses serta mengalami kegagalan besar. Kelemahan terbesar Mandela adalah terlalu mengandalkan agenda ekonomi konservatif yang 20 tahun kemudian menghantui Afsel.

Cilliers berpendapat, perekonomian Afsel bernanah di era Jacob Zuma, yang menjabat presiden dari tahun 2009 sampai dia dipaksa turun pada Februari 2018.

“Zuma mengakibatkan cedera cukup signifikan terhadap Afsel selama masa jabatan presidennya,” ujar Cilliers. “Terutama dalam isu-isu seputar kohesi nasional yang mengalami hantaman terbesar. Afsel sekarang ini negeri yang terpecah-belah, tidak bahagia.”

Cyrill Ramaphosa, bekas orang kepercayaan Mandela, menggantikan Zuma memimpin Afsel.

“Afrika Selatan sekarang harus menghadapi sejumlah masalah yang menghantuinya dan Ramaphosa mendapatkan kesempatan untuk itu, dan yang pasti dia berasal dari era Mandela,” kata Cilliers.

“Prospeknya positif, tetapi butuh waktu bertahun-tahun,” imbuhnya.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pemuda Muhammadiyah Minta Kapolri Setop Mengkreasi Stigma Soal Terorisme
Tulisan selanjutnya Pemerintah Erdogan Akan Buat Aturan Baru Sebelum Akhiri Status Darurat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Berita
30 Mei 2026 11:16
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?