Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Apa Tak Kapok Jadi Pendorong Mobil Mogok?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 3 September 2018 07:29 7:29 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 3 September 2018 08:20
Bagikan
Kunjungan salah satu pemimpin sebuah partai ke sebuah pondok pesantren
Bagikan

PERHELATAN akbar demokrasi lima tahunan, untuk memilih capres dan wapres akan dilaksanakan tahun depan, namun gema dan resonansinya sudah sedemikian ingar bingar sejak sekarang. Seperti biasa, dalam pesta tahunan rakyat ini, suara umat Islam –sebagai penduduk mayoritas—menjadi sasaran empuk untuk mendongkrak suara.

Pada masa-masa kampanye, sudah menjadi rahasia umum jika para calon yang biasanya tidak begitu peduli dengan identitas keislaman tiba-tiba menjadi terlihat religius dengan pernak-pernik yang notabene merupakan identitas agama. Sarung, peci, kerudung, sambang pesantren atawa sowan tokoh-tokoh organisasi Islam misalnya, seakan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari upaya pencitraan.

Bila umat mau berkaca pada sejarah, umat Islam seringkali –kalau tak boleh dikatakan selalu–  dijadikan sebagai pendorong mobil mogok oleh pihak berkepentingan. Ketika ambisi belum didapat, segala daya diupayakan untuk bersama umat. Saat jabatan belum di tangan, umat Islam diajak dengan begitu persuasif untuk meraih impian. Begitu apa yang diinginkan sudah terpenuhi, umat yang tadinya mendorong mereka, akhirnya ditinggal pergi.

Sejak zaman penjajahan hingga merdeka seperti sekarang, fenomena demikian belum pernah benar-benar hilang dan lekang. Ketika pada zaman kompeni Belanda –atas saran Snouck Hurgronje— para ulama yang cukup menjalankan ibadah secara ritual saja dirangkul, sedangkan merambah ke arah perjuangan politik menuju kemerdekaan, maka akan “dicangkul” (diberangus).

Baca: Agar Politik Islam Menang 

Ajib Rosidi dalam buku “M. Natsir Sebuah Biografi 1” (1990: 85, 86) mengungkap dengan jelas saran Hurgronje bahwa ia mengajurkan pemerintah Belanda untuk membiarkan orang Islam yang beribadah secara ritual dan perlu mengawasi orang-orang yang haji karena bisa memicu persatuan umat Islam seluruh dunia. Ia sangat takut pada Pan-Islamisme. Perang Paderi yang meletus antara tokoh agama dan adat, dimotori oleh Belanda untuk menghalangi persatuan dan perjuangan umat dalam melawan penjajahan.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Penjajah Jepang pun demikian. Saat  mereka terdesak oleh pasukan sekutu, umat didekati dan diiming-imingi kemerdekaan.  Lahirlah BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) adalah salah satu usaha pendekatan mereka. Padahal, sebelum itu perlakuan jepang tidak kalah garangnya dengan penjajah Belanda kepada umat Islam terutama yang berjuang di ranah politik.

Menjelang kemerdekaan sampai kemerdekaan tidak diragukan lagi peran umat Islam begitu besar. Tenaga mereka begitu didukung sepenuhnya karena menghadapi musuh bersama: kolonialisme. Namun, ketika sudah merdeka, tujuh kata dari piagam Jakarta yang sudah disepakati dengan diskusi yang super alot, akhirnya dihapus seketika. Umat hanya diberi janji bahwa enam bulan kemudian setelah terbentu Majelis Pemusyawaratan Rakyat akan digodok kembali dan umat Islam bisa memperjuangkannya kembali . Nyatanya, itu hanya isapan jempol belaka.

Demikian pula Orde Lama. Presiden Soekarno ketika itu untuk mewujudkan ide Nasakom-nya, merangkul kalangan Muslim. Kemudian, ketika kekuasaan sudah di genggaman tangan, ia bertindak sewenang-wenang. Pergerakan umat Islam yang bersebrangan diberangus; partai Masyumi dibubarkan dan banyak sekali tokoh-tokoh politik Islam yang bersebrangan dengannya harus mendekam di tahanan tanpa preses peradilan.

Orde Lama kemudian tumbang kemudian berganti ke Orde Baru. Presiden Soeharto sukses merangkul umat Islam pada saat berusaha melengserkan Orde Lama. Setelah tujuan tercapai, susu dibalas air tuba. Bersama kaum islamfobia rezim berlaku otoriter dan represif terhadap umat. Masalah Tanjung Priok dan sederet kasus lainnya adalah sebagai contoh konkret betapa tiraninya sikap mereka terhadap umat Islam yang bersebrangan.

Baca: GNPF Kecewa, Ulama Cuma Diminta Mendorong Mobil 

Rezim yang dibangun Soeharto selama 32 tahun pada akhirnya jatuh dan digantikan reformasi. Umat Islam mengira aspirasi yang selama ini dikukung dan dibendung oleh Orde Baru bisa disampaikan dalam nuansa era reformasi yang demokratis, namun ternyata kejadian-kejadian di masa lalu kembali terulang. Umat hanya didekati saat butuh, dan ditinggal saat kekuasaan tergenggam kukuh. Isu terorisme yang sangat merugikan umat Islam, lahir di era awal reformasi (tepatnya di masa Presiden Megawati).

Begitulah terjadi saban rezim. Terkhusus pada Pemilu Presiden, kejadian itu terus berlangsung. Perlakuan terhadap umat Islam masih sama: hanya dijadikan pendorong mobil mogok. Pertanyaannya, sampai kapan umat seperti ini? Apa tak kapok jadi pendorong mobil mogok?

Pertanyaan tersebut bukan untuk merongrong pemerintah atau negara, hanya saja, umat Islam berhak untuk menentukan sikapnya dan menyampaikan aspirasinya dalam nuansa yang demokratis; serta bersikap mandiri dan tidak dijadikan sebagai “tambal-butuh” oleh pihak berkepentingan. Bukankah nabi pernah bersabda:

لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ

“Tidak (sepantasnya) seorang mukmin tersengat (ular atau semacamnya) dari lubang yang sama sebanyak dua kali.” (HR. Bukhari).

Semoga ini menjadi pengingat kita.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:islamislamophobiakekuasanMobil MogokOrde BaruOrde LamapartaipemilupencitraanSnouck Hurgronjeulama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Cemas Virus Serius, China Musnahkan 38 Ribu Babi
Tulisan selanjutnya Senin Ini Aksi Damai Tolak Upaya Membangkitkan Lokalisasi Dolly

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Berita
3 Juni 2026 16:00
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?