Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Jika Keyakinanmu Diusik, Bergeraklah Wahai Wanita!

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 Januari 2014 13:56 1:56 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 Januari 2014 10:27
Bagikan
Bagikan

Oleh: Nurdiansyah Lakawa

AKHIRNYA lewat pertemuan bersama sang Kepala Sekolah SMAN Denpasar Bali, Anita Whardani, yang hampir tiga tahun memperjuangkan hak menutup aurat di sekolahnya diperbolehkan berjilbab pihak SMA Negeri 2 Denpasar.

Diperbolahkannya Anita berjilbab, boleh jadi karanya banyaknya  kritikan dan desakan dari berbagai pihak, termasuk teguran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhammad Nuh.

Perjuangan panjang Anita akhirnya berbuah manis, meskipun di penghujung  waktu statusya sebagai siswi sekolah menengah.

Namun dari remaja ini  kita dapat banyak mendapat pelajaran. Di usianya yang masih belia sekali, Anita tidak menyerah dengan prinsipnya. Andai ini terjadi dengan adik-adik atau anak-anak kita mungkin belum dapat setangguh dia.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Gadis yang cukup berani ini, menantang kondisi di hadapannya. Di tengah desakan kekuatan: aturan dan struktur tertinggi sekolah yang mengusirnya secara halus. Tapi siapa sangka, dia menantang pakem yang sudah turun temurun di sekolah ini.

Darinya kita belajar tentang bagaimana semestinya, mempertahankan idealisme. Dia tidak bertahan atas identitas semata, atau soal Hak Asasi Manusia (HAM) saja. Kalau hanya soal itu, maka ini soal polesan belaka. Akan tetapi dia berjuang atas dasar idealisme, atas dasar nilai kepercayaan yang dia anut dan pegang kuat, yaitu Islam.

Pelajaran Penting

Yang sering kurang disadari –bahkan—sering menjadi alasan klasik pihak sekolah, alasan pelarangan jilbab hanya masalah sepele saja. Pertama, hanya karena dengan menggunakan jilbab, logo sekolah tidak nampak. Atau biar semua seragam.

Kedua, sedikit pihak sekolah –khusus pengelola sekolah yang bergama non-Muslim—memaksakan kehendak tanpa punya keinginan mencari tahu, tanya sebab-musabab, apalagi menyangkut urusan keyakinan agama seseorang.

Kasus yang menimpa Anita Whardani dari Bali ini cukup nampak, bahwa pihak pengelola sekolah kurang mengerti dan tidak memahami, bahwa menggunakan jilbab oleh Muslimah adalah sesuatu yang wajib.Ssebagaimana termaktub dalam al Qur’an, An Nur ayat 33, ”… Hendaklah mereka menutupkan khumur (kerudung-nya) ke dadanya…”. Inilah keyakinan.

Sayangnya sedikit sekali pengelola sekolah (bahkan terkadang pemilik/pengelola perusahaan) menyadari, atau setidaknya bertanya atau mencari tahu. Padahal dengan pergi ke tokoh buku atau buka internet atau bertanya pada tetangganya yang beragama Islam, pasti akan menemukan jawabannya dan tidak harus memegang peraturan sekolah, seolah-olah peraturan ini tidak bisa diganti. Padahal konstitusi Negara kita saja sudah diamandemen bebebapa kali.

Semua warga beragama juga percaya, yang tidak bisa dirubah hanya Kitab Suci. Bahkan sebagian kitab suci agama-agama tertentu saja berubah-ubah, apalagi peraturan sekolah/perusahaan.

Keyakinan Anita untuk menutup aurat adalah hak dia, ini tidak bisa disama dengan minimnya pengetahuan teman-teman dia yang  tidak menggunakan jilbab meski dia Muslim. Anita mungkin jauh lebih paham dan lebih dalam memahami keyakinannya, sedang yang lain tidak.

Ini sama halnya keyakinan orang beragama lain, seperti Kristen atau Hindu yang melakukan kebaktian di Gereja atau pergi ke Pura. Hak mereka ke Masjid, Gereja dan ke Pura harus dihormati. Persoalan dia menjadi pemeluk Islam tidak rajin ke Masjid atau mengaku sebagai pemeluk Kristen tapi jarang ke Gereja, itu urusan dia. dan diberikan, tidak bisa dihalang-halangi.

Itulah yang ada dalam keyakinan aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) Bali, yang memilih jilbabnya. Inilah idealisme dalam mempertahankan keyakinan.

Ketiga,  dari kasu ini, bisa kita saksikan, betapa masih banyak diskriminasi di Indonesia tercinta ini.

Diskriminasi seperti ini bisa dilakukan di sekolah umum, bukan sekolah agama. Sekolah yang sejatinya mengajarkan arti toleransi, justru mencederai diri dengan anti-toleransi. Sekarang, ada berapa jumlah sekolah umum di Indonesia? Dan berapa orang jadi korban sebagaimana Anita? Tapi mereka tidak memiliki keberanian.

Sungguh aneh saja, Bali bisa menerima berbagai suku, ras, kulit dan penduduk dunia. Bahkan orang-orang yang berpakaian minim saja diterima masuk pulau itu dan dilayani secara baik. Mengapa ketika ada orang baik-baik (menutup aurat, red) justru dihalang-halangi?

Ada pula diskriminasi tersruktur, sebagaimana kasus pelarangan jilbab di jajaran Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Apa sesungguhnya yang ditakutkan pengelola kepolisian dengan selembar kain? Hingga begitu takut jika ini diterapkan di jajarannya?

Keempat,  kisah Anita, menunjukkan bahwa jilbab yang tidak bisa dibatasi oleh teritorial/wilayah. Jilbab juga bukan identitas kedaerahan. Tidak hanya karena persoalan berada di lingkungan mayoritas agama lain lalu membatasi diri untuk berjilbab.

Pun juga jilbab tidak hanya di kawasan wilayah religius. Logika itu mesti dihujam dalam-dalam pada setiap Muslimah yang menginginkan kebebasan.

Maka dari itu alasan, Wakapolri Oegroseno, saat isu Polwan berjilbab mengemuka, “Kalau mau berjilbab silakan ke Aceh” (karena wilayah Syariah/mayoritas Muslim), merupakan sikap anti keyakinan beragama dan pembatasan secara teritorial. Logika itu tak boleh lagi ada! Sungguh naïf jika orang-orang seperti ini masih mengelola Negara yang penuh ragam ini, menakutkan!

Bagaimanapun, kini, Anita telah mendapat dukungan dari berbagai pihak dan keinginannya tercapai. Perjuangan Anita mestinya  mesti dijadikan motif untuk membangun kesadaran perempuan dalam berjilbab.

Jika hari ini kita masih melihat ada sisa-sisa tekanan kepada Muslimah, maka bergeraklah wahai wanita untuk menunjukkan jati dirimu sebagai Muslimah sejati!

Penulis adalah jurnalis dan Ketua Forum Lingkar Pena Sulawesi Tengah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 2 Korban Tewas Saat Demonstrasi di Universitas Kairo
Tulisan selanjutnya Pasar Muslim Menjadi Perhatian Pebisnis Dunia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Jelang Pemilu ‘Israel’, Trump Dukung Netanyahu Terpilih Kembali

Berita
20 Oktober 2026 21:55
Didanai Beijing, Pentagon Anggap Confucius Institutes Ancaman Bagi Keamanan Negara AS
Kelas SPI: Teguh dengan Konsep Din, Lawan Penyimpangan Literasi
Mesir Tegaskan Siap Bela Arab Saudi di Tengah Meningkatnya Serangan Houthi
Iran Sebut Puluhan Pesawat Maskapai Nasional Hancur dalam Serangan AS-Israel

Terbaru

  • Gereja di Yordania Diserang, Raja Abdullah Janji akan Menuntut Balas
  • Didanai Beijing, Pentagon Anggap Confucius Institutes Ancaman Bagi Keamanan Negara AS
  • Lebih dari 100 Juta Nama Dihapus dari Daftar Pemilih India, Mayoritas Muslim
  • Yunani Sahkan Larangan Media Sosial bagi Anak di bawah 15 tahun
  • Dua Tentara Penjajah ‘Israel’ Tewas dalam Baku Tembak di Tepi Barat
  • Cegah Data Jatuh ke Tangan ‘Israel’, Malaysia Larang ASN Pakai Waze
  • Kelas SPI: Teguh dengan Konsep Din, Lawan Penyimpangan Literasi
  • Jihad Santri di Era Modern
  • Terus Langgar Gencatan Senjata, Serangan ‘Israel’ Bunuh 4 Warga Palestina
  • Sepakati ‘Badr’, Indonesia Perkuat Kerjasama Pertahanan dengan Turki, Qatar dan Pakistan

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?