Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Korban Aksi Pelecehan Seks Pastor di Gereja Cile Buka Suara

Ahmad
Terakhir diupdate: 14 September 2018 19:45 7:45 pm
Ahmad
Dipublikasikan 14 September 2018 19:45
Bagikan
Fernando Karadima, seorang pastor di Santiago, menjadi predator seksual paling terkenal di Cile
Bagikan

Hidayatullah.com–Di Cile, lebih dari 100 rohaniwan Katolik tengah diselidiki ataa s dugaan kejahatan seksual dan upaya untuk menutupinya. Ini adalah skandal yang menghantui kepemimpinan Paus Fransiskus dan telah menggiring gereja Katolik di Cile terjerembab ke dalam krisis.

Skandal itu dimulai beberapa dasawarsa lalu ketika seorang pria bernama Fernando Karadima, seorang pastor di Santiago, menjadi predator seksual paling terkenal di Cile.

“Ia menawarkan visi tentang panggilan dari Tuhan. Ia menunjukkan kepada Anda sebuah dunia yang sangat indah,” kenang Dr James Hamilton, seorang ahli bedah lambung yang sekarang berusia 50-an tahun.

“Ia selalu mengatakan kepada kami bahwa ia dianugerahi kelebihan khusus – semacam keajaiban – yang bisa ia lihat di setiap anak muda, jika mendapat panggilan dari Tuhan. Ia nyaris bagaikan orang suci,” ujarnya dikutip BBC.

Pada awal 1980-an, Pastor Fernando Karadima menawarkan perlindungan kepada James Hamilton yang kala itu masih remaja. Saat itu, Cile sudah 10 tahun berada di bawah kediktatoran Jendral Augusto Pinochet.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Di masa yang sarat akan pembunuhan dan penghilangan paksa itu, Karadima mendirikan komunitas gereja di kawasan elite Kota Santiago, El Bosque, yang memberikan jaminan keamanan.

“Bagi seorang remaja, tawaran itu bak lebah dan madu – terasa manis kala berada di dunia yang dirundung kesulitan, ketika Anda berjuang dengan keluarga Anda,” kata James Hamilton.

Baca: Paus Fransiskus Mengaku Salah Besar dalam Menangani Skandal Seks Gereja 

Ayah James sudah lama meninggalkan rumah, sehingga James menjadi remaja yang rapuh – sasaran empuk bagi pelaku kekerasan.

Dan, sebagai seorang idealis muda, ia percaya dirinya hanya memiliki dua pilihan:

“Bergabung dengan orang-orang yang berperang melawan Pinochet, sebagian besar lewat jalan kekerasan. Atau, mengikuti jalan yang ditunjukkan Gereja Katolik kepada Anda – jalan orang-orang suci, perdamaian, dan menyuarakan firman Tuhan Yesus. Saya ingin belajar kedokteran, ini adalah jalan yang saya ambil tanpa kekerasan. ”

Namun, meski Gereja Katolik berperan dalam membantu para korban kediktatoran ini, beberapa pastor percaya bahwa Pinochet adalah juru selamat Cile – Karadima adalah salah satunya.

James Hamilton diundang untuk bergabung dengan Catholic Action, sebuah perkumpulan pemuda eksklusif yang bertemu di El Bosque untuk mendengarkan Karadima yang berbicara tentang kepahlawanan, orang-orang suci, serta pentingnya menjadi seseorang rendah hati dan patuh.

James, yang kala itu masih remaja mudah terpengaruh dan merasa seolah-olah telah dipilih.

Lalu pelecehan seksual mulai terjadi.

“Anda tidak mengiranya – itu adalah sesuatu yang benar-benar membingungkan. Tidak mungkin orang suci bisa melakukan semua ini karena penyimpangan seksualnya. Itu tidak mungkin,” kata Hamilton, mengingat kebingungannya saat itu.

“Jelas yang salah adalah saya.”

Dan Karadima, yang berkedok spiritualitas semu, tidak melepas rasa bersalah yang dialami James Hamilton.

“Sesuatu yang sangat mengerikan, adalah setiap kali ia melecehkan saya, ia menyuruh saya menemui pendeta lain untuk membuat pengakuan dosa,” kenang Hamilton.

“Jadi ia membebankan semua rasa bersalah kepada saya. Dan pendeta lain yang mengetahui segalanya, selalu diam ketika saya mengadu tentang perlakuan Karadima. Ia hanya mengatakan kepada saya, ‘Bersabarlah, jangan khawatir.'”

Di gereja di El Bosque, Karadima dilindungi dengan baik oleh orang-orang di sekitarnya.

Ia mempengaruhi para pembantunya, dan melatih puluhan pemuda untuk menjadi pastor – empat anak didiknya akan menjadi uskup.

Pelecehan yang dilakukan Karadima terhadap James Hamilton tak berhenti selama 20 tahun, bahkan ketika James yang sudah menjadi dokter menikah dan memiliki anak.

Kini sesudah 14 tahun menjalani psikoterapi, tiga kali dalam seminggu, ia memahami dinamika kekerasan ini dengan sangat baik.

Tetapi, saat menjadi seseorang yang lebih muda, ia merasa harus tunduk pada pelaku kekerasan.

Ketika ia pergi makan malam di El Bosque bersama istrinya, Karadima akan memintanya untuk meninggalkan meja dan menemaninya di lantai atas dengan dalih ada keluhan kesehatan yang perlu perhatian.

Beberapa kali saya mencoba menjaga jarak dari Karadima, tetapi setiap kali saya mencoba, ia membuat semacam pengadilan dengan dua atau tiga uskup serta tiga atau empat pastor. Mereka menempatkan saya di sebuah ruangan, dan memberi tahu saya bahwa iblis ada di dalam saya.”

Ini dikenal sebagai “pembenahan persaudaraan” di El Bosque – sebuah mekanisme berdalih pemulihan orang yang kerasukan setan, dan digunakan untuk membawa kembali anggota jemaat Karadima yang tak patuh ke tempat semula.

Pada tahun 2004, James Hamilton akhirnya lepas dari Karadima.

“Saya merasa anak-anak saya dalam bahaya. Terutama putra saya,” katanya.

Karadima terus mengejar sang dokter, dengan mengirim para pendeta dan uskup untuk berbicara kepada keluarga dan karyawannya.

James Hamilton melaporkan Karadima kepada otoritas gereja, dan meski ia tidak mengetahuinya saat itu, ia adalah pria kedua yang mengadukan kasus pelecehan seksual yang dilakukan Karadima dalam dua tahun.

Namun, Gereja Katolik tetap bungkam. Tidak ada penyelidikan resmi selama bertahun-tahun, sampai akhirnya banyak bukti yang menghadang Karadima.

Pada tahun 2009, perkawinan James Hamilton menemui kegagalan dan ia berniat untuk membatalkannya.

Dalam pengajuan pembatalan, James mencantumkan pelecehan seksual yang dilakukan oleh Karadima, sebagai alasan atas hancurnya pernikahan dengan istrinya.

Baca: Seluruh Uskup Chile Ajukan Pengunduran Diri Menyusul Skandal Seks Gereja 

Pihak gereja menekannya – seorang pastor mendatanginya dan memintanya untuk berhenti membuat surat pembatalan pernikahan.

“Mereka meminta saya untuk menandatangani sebuah deklarasi – yang menyebutkan bahwa saya telah cukup umur ketika bertemu Karadima, dan bahwa itu adalah hubungan antara dua pria dewasa.”

James Hamilton menolak. “Saya tidak bisa menandatanganinya karena itu tidak benar,” katanya.

Surat pembatalan pernikahannya pun akhirnya disetujui.

Surat tersebut kemudian bocor ke publik dan pada saat itulah pihak Gereja Katolik menyelidiki Fernando Karadima.

James Hamilton kemudian menghubungi pria-pria lain yang menjadi korban pelecehan yang dilakukan Karadima.

Pada 2010, mereka membuat pernyataan kepada jaksa sipil. Mereka tahu pastor itu tidak akan dipenjara karena kasus pidana Cile punya masa kadaluarsa, tetapi setidaknya mereka tidak ingin apa yang mereka alami ditutupi. Itu menakutkan.

“Media memuat nama-nama kami – kami (dilihat sebagai) yang terburuk. Saya pikir seseorang berupaya membunuh saya – menaruh bom di kolong mobil saya, atau rem mobil saya akan dipotong di daerah pegunungan.

Baca: Paus Fransiskus Akui Gagal Tangani Skandal Seks di Gereja

119 kasus pelecehan seksual

“Hal-hal seperti ini terjadi di Cile di bawah kediktatoran Pinochet. Dan Karadima adalah seorang pendukung Pinochet – ia berteman dengan semua mantan jenderal Pinochet. Ia memiliki kekuatan besar – sampai saat ini.”

Kini, Fernando Karadima berusia 88 tahun. Ia tinggal di sebuah biara dengan sebuah taman luas yang terletak di kawasan mewah Santiago.

Pada tahun 2011 Vatikan menyatakan ia bersalah atas pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur, kadang-kadang dengan kekerasan.

Ia dijatuhi hukuman dengan menyendiri sembari berdoa, dan dilarang berhubungan dengan mantan anggota-anggota paroki, atau melakukan pelayanan publik.

Tapi mengapa pemrosesan kasus ini begitu lama? Apa yang menghambat Uskup Agung Santiago, Kardinal Francisco Javier Errazuriz, dalam melakukan penyelidikan gerejawi terhadap perilaku Karadima, padahal ia sudah menerima laporan pertama tentang pelecehan seksual setidaknya tujuh tahun sebelumnya?

“Sayangnya, saya menilai bahwa tuduhan itu tidak kredibel pada saat itu,” katanya kepada media pada 2010.

Kasus Karadima ini mengguncang Cile. Kekesalan terhadap Gereja Katolik makin membara pada 2015. Kala itu, Paus Fransiskus menunjuk salah satu pemuka gereja, Juan Barros, sebagai uskup – seorang pria yang diduga melindungi Karadima.

Baca: Pendeta Katolik di Jerman Mencabuli Ribuan Anak

Warga Cile sangat berang 

Para pengunjuk rasa menyambut kedatangan Paus ketika ia mengunjungi Cile pada Januari 2018.

Sikap Paus yang menyebut tuduhan terhadap Uskup Barros sebagai “fitnah” menimbulkan kemarahan yang sangat besar.

Setelah ia meninggalkan Santiago, Paus Fransiskus dipaksa untuk menanggapi para pemrotes, dan mengirim dua utusan ke Cile untuk menyelidiki kasus pelecehan seksual ini.

Sejak saat itu krisis parah terjadi di Gereja Katolik. Utusan Vatikan membuat laporan sebanyak 2.300 halaman, dan Paus mengakui, “budaya pelecehan” di Cile. Lima uskup mengundurkan diri – termasuk Juan Barros.

Sementara itu, untuk pertama kalinya di Cile, jaksa sipil menyita dokumen gereja dalam serangkaian penggerebekan.

Kini, aparat Cile sedang menyelidiki 119 kasus pelecehan seksual dan upaya yang ditutup-tutupi oleh gereja. Sejauh ini sudah ada 178 korban yang teridentifikasi, hampir separuhnya adalah anak di bawah umur pada saat tuduhan pelecehan itu terjadi.

Uskup Agung Santiago, Kardinal Ricardo Ezzati, dipanggil oleh jaksa untuk bersaksi.

Meskipun penyelidikan telah diperluas tak hanya pada Fernando Karadima dan orang-orang kepercayaannya, komitmen otoritas Cile untuk memberi keadilan terhadap korban kekerasan seksual malah membuat korban-korban Karadima lainnya terus bermunculan.

Bulan lalu, Romo Francisco Javier Ossa Figueroa memberikan kesaksiannya selama dua jam kepada jaksa tentang apa yang terjadi padanya di El Bosque sejak akhir 1980-an dan seterusnya.

“Sulit untuk menggali semuanya, tetapi saya tahu itu bisa membantu banyak orang. Anda memang harus berani, karena bukan hanya saya sebagai pendeta yang bersaksi – saya, Francisco, orang yang secara pribadi terluka oleh hal ini. Tapi saya merasa beban telah terangkat, dan bahwa saya tidak sendirian. ”

Setelah beberapa pengakuan yang menggegerkan Gereja Katolik di Cile, Romo Francisco dipanggil untuk menemui Paus Fransiskus di Roma untuk membahas pengalamannya tentang pelecehan.

James Hamilton juga diundang ke Vatikan, bersama dengan dua pria lain yang juga telah berkontribusi menjatuhkan Fernando Karadima pada tahun 2011 – Jose Andres Murillo dan Juan Carlos Cruz.

Paus Fransiskus telah mengakui bahwa ia membuat, “kesalahan besar” dalam penilaiannya atas peristiwa di Cile.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Cilegerejakatolikpastorpaus Fransiskuspelecehan sekspendetarohaniwanskandal
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ustadz Wafat Terjatuh Saat Imami Shalat Jumat
Tulisan selanjutnya Iran Merilis Data Baru Program Nuklir

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Berita
30 Mei 2026 13:38
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?