Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Analisis

Perangkap Hutang China di Timur Tengah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 September 2018 22:01 10:01 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 September 2018 15:57
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ty Joplin

 

RENCANA China untuk mengarahkan kembali ekonomi dunia ke Beijing saat ini telah resmi mencapai Timur Tengah.

Pada 9 Juli, Presiden China Xi Jinping menjanjikan pinjaman $20 miliar kepada Timur Tengah serta $106 miliar untuk bantuan pembangunan, termasuk $15 juta untuk Palestina.

Janji itu menandai masuknya Belt and Road Initiative China ke wilayah itu, namun para ahli berbeda pendapat mengenai niat atau tujuan China terkait hal tersebut. Sedikit yang diketahui tentang apa yang China inginkan di Timur Tengah, karena negara Komunis itu baru saja menjadi pemain penting di wilayah.

Baca Juga

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Sidang Umum PBB UNGA
Mimpi Buruk Israel: Turki Bangkit Jadi Kekuatan Baru Timur Tengah
Strategi Ibrahim Traoré: Tinggalkan Penjajah Prancis, Dekati Rusia
“Gubernur Konten”,  Antara Pencitraan, dan Polarisasi Digital
Kampanye Digital Masif dari Arab Diluncurkan untuk Menjatuhkan Sinwar dan Hamas
NAS Daily Terima Penghargaan dari Lobi ‘Israel’

Tetapi rekam jejak China dalam dunia pembangunan adalah segalanya, negara-negara yang yang ditetapkan menerima pinjaman atau hutang harus berhati-hati dengan apa yang mereka inginkan. Benar hal itu membantu mendorong proyek infrastruktur, namun manfaat dari pinjaman itu seringkali mengalir kepada China dan perusahaan-perusahaan China, serta memperburuk perpecahan ekonomi dan bahkan dapat memenjarakan ke dalam perangkap hutang.

Penerima pinjaman China seperti Jordania, Yaman, Suriah dan Libanon semuanya “secara signifikan” beresiko terjerumus ke dalam perangkap hutang, menurut sebuah penelitian, yang berarti pinjaman-pinjaman itu lebih banyak menyebabkan keburukan daripada kebaikan.

Beberapa orang telah memperingatkan bahwa China sedang terlibat dalam sebuah proyek neo-kolonial baru tersembunyi berkedok bantuan pembangunan.

Baca: Invasi Ekonomi China di Afrika

Yang Kami Ketahui

Janji finansial Xi Jinping akan menyediakan pinjaman dan sejumlah dana untuk Libanon, Suriah, Yaman, Jordania dan Palestina hanya mendapat sedikit peliputan sementara kesepakatan itu sangat penting.

Bantuan $15 juta kepada Palestina akan datang pada saat warga Palestina semakin merasakan beban penjajahan dengan Israel yang memperketat peraturannya atas ekonomi Palestina. Sementara China berhasil mempertahankan hubungan netral namun produktif baik dengan Israel maupun Palestina dan memilih pendekatan “lepas tangan” terhadap konflik Zionis, dana bantuan itu cukup besar dan dapat menandai awal dari lebih banyak bantuan pembangunan semacam itu di wilayah tersebut.

Jinping juga menyatakan bahwa pinjaman yang dijanjikan akan menyokong “rekonstruksi ekonomi,” dan “kebangkitan kembali industry,” dengan berfokus pada minyak dan gas.

Pinjaman itu menunjukkan akselerasi besar-besaran dalam rencana China untuk Timur Tengah.

Baru-baru ini pada Maret, 2018, para ahli memprediksi bahwa China tidak akan melibatkan Yaman atau Suriah dalam waktu dekat.

Namun Xi Jinping mungkin merasakan kemungkinan untuk berinvestasi di wilayah tersebut, dan telah menyambarnya dengan tepat. Jumlah total pinjaman itu beberapa kali lebih tinggi daripada pinjaman apapun yang pernah diterima negara-negara ini dari China. Jordania awalnya memiliki hutang $200 juta kepada China, sampai saat ini telah mencapai $500 juta.

Pinjaman ini mungkin akan melihat hutang yang meroket hingga miliaran dolar.

Itu tentu saja tidak akan menjadi masalah, namun Pusat Pembangunan Global memperingatkan bahwa Jordania, Suriah, Libanon dan Yaman beresiko secara “signifikan” terbelenggu “hutang,” yang dengan kata lain, negara-negara ini mungkin tidak dapat membayar hutang ke China bahkan meski hutang sederhana dan dapat jatuh ke dalam perangkap hutang yang kejam.

Ini akan memberi China pengaruh signifikan atas mereka sementara memberikan China pilihan untuk secara esensial mengambil proyek-proyek pembangunan untuk keuntungan mereka sendiri.

Ini akan membalikkan setiap potensi keuntungan yang didapat dari proyek-proyek konstruksi yang awalnya didanai dari pinjaman.

Baca: Sri Lanka Negara Asia Pertama Masuk Perangkap Utang China 

Catatan merugikan China dalam pembangunan

Misteri menyelimuti ambisi khusus China di Timur Tengah, dan ada sedikit konsensus mengenai tujuan menyeluruh program pinjaman China di negara-negara berkembang, namun beberapa contoh mengganggu ada ketika negara-negara tidak dapat membayar kembali hutang mereka.

Pinjaman China kepada negara dengan suku bunga jauh lebih tinggi daripada lembaga perbankan internasional lain. China dapat meminjamkan uang kepada negara dengan suku bunga setinggi 6,3 persen, membuatnya lebih mungkin bagi negara-negara yang berjuang dan berkembang tidak akan mungkin membayar kembali hutang dan gagal membayar hutang mereka.

Banyak analis dan pembuat kebijakan mengutuk proyek-proyek pembangunan China sebagai semacam neo-kolonialisme yang mencakup eksploitasi hutang yang diketahui akan menambatkan ekonomi secara langsung kepada keinginan China.

Mantan Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson menuduh China terlibat dalam “praktik pinjaman predator,” sementara J Xiaovhen menulis di The Diplomat dimana pendapatnya mengatakan,  skema pinjaman itu “mewakili jenis baru neokolonialisme.”

Contoh yang paling sering dikutip ialah pelabuhan di Sri Lanka yang saat ini dikendalikan China.

Pada Desember, 2017, Sri Lanka menyerahkan kontrol efektif atas Pelabuhan Hambantota kepada China karena negara tersebut tidak dapat membayar pinjaman yang diterimanya dari China yang memiliki bunga 6,3 persen.

Baca:  Kemana Keadilan bagi Muslim Uighur di China?

China menandatangani sewa 99 tahun pelabuhan itu, dan memberi negara Komunis itu sebuah pelabuhan baru.

“Ketika sebuah negara menjadi target investasi dan pinjaman  “Belt & Road Initiative” Mr. Xi, itu harus mengingatkan kembali dirinya bahwa pada akhirnya akan berarti ‘Akses Inisiatif Pelabuhan dan Angkatan Laut,’” untuk angkatan lautnya, kata analis China Bonnie Girard dalam sebuah wawancara dengan Al Bawaba.

“Pada akhirnya, inilah yang sedang dibangun China. Kekuatan lembut hari ini adalah kekuatan keras besok… Oleh karena itu, semakin banyak air di sekitarnya yang dimiliki sebuah negara, semakin tertarik China untuk membuat kesepakatan dengan negara itu.’

Namun, ahli lain tidak yakin hal itu merupakan tujuan akhir China.

“Ini bukanlah tentang memperluas jangkauan militer China,” jawab Deborah Bräutigam, professor di Sekolah Studi Internasional Lanjutan Johns Hopkins.

“Di saat yang sama, angkatan laut China semakin berkembang dan seiring pertumbuhannya, China akan meningkatkan diplomasi militer mereka dan menegosiasikan akses angkatan lautnya. Namun mereka tidak harus membangun infrastruktur yang rumit untuk mendapatkan akses angkatan laut.”

Bräutigam juga dengan cepat menunjukkan bahwa tujuan China bukan untuk “memberdayakan negara berkembang namun untuk menggunakan kapasitas konstruksi China sendiri dengan cara yang dapat menghasilkan bisnis bagi perusahaan-perusahaan China.

Belt and Road Initiative China yang ambisius sejauh ini telah melibatkan hampir 80 negara, dan Jinping telah mengklaim inisiatif ini akan sepenuhnya mengubah infrastruktur masing-masing negara, menyederhanakan kemitraan ekonomi dan memfasilitasi pertumbuhan.

Beberapa negara mungkin mengalami peningkatan ekonomi, namun negara lain, terutama negara miskin atau negara yang ekonominya tidak stabil seperti Jordania, Suriah, Yaman dan Libanon mungkin berpikir dua kali sebelum menerima pinjaman multi-miliar dollar yang tidak dapat dibayarkannya.*/Nashirul Haq AR

Penulis adalah Profesor di Haverford, Barak Mendelsohn, penulis kolom di Al Bawaba

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Belt and Road InitiativechinagashutangJalur Suteraminyakneo-kolonialpinjamanTimur Tengah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mahathir Mohamad: LGBT Tidak Diterima di Malaysia
Tulisan selanjutnya Komnas HAM Malaysia Tegas Menolak Perkawinan Sejenis

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Global Sumud FLotilla
Berita

Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Berita
30 Mei 2026 09:51
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Mundurnya 'Israel' dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?
Analisis

Mundurnya ‘Israel’ dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?

5 Januari 2024 07:00
Analisis

Analisa Mantan Intel AS: Hamas Memenangkan Perang di Gaza

24 November 2023 13:00
Invasi Darat Israel ke Gaza
AnalisisArtikel

3 Skenario Invasi Darat Israel Menurut Pakar Keamanan Internasional

1 November 2023 06:10
Analisis

Serangan Pejuang Kemerdekaan Palestina  terhadap ‘Israel’ Makin Menampakkan Kemunafikan Barat

11 Oktober 2023 21:55
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?