Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Cerita-cerita di Balik Bencana

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 16 Oktober 2018 14:55 2:55 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 16 Oktober 2018 14:55
Bagikan
Tim SAR Gabungan mencari korban longsor karena gempa 7 SR, Ahad (05/08/2018), di Dusun Dompo Indah, Selengan, Kayangan, Lombok Utara, NTB, Sabtu (11/08/2018).
Bagikan

Hidayatullah.com– Banyak cerita di balik kejadian berbagai bencana di Indonesia yang dapat menjadi pelajaran bagi bangsa ini. Di antaranya yang dituturkan Direktur Pemberdayaan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Lilik Kurniawan.

Seperti saat bendungan alam Way Ela di Maluku jebol pada tahun 2013. Bendungan alam ini, kata Lilik, terbentuk setahun sebelumnya, yakni pada tahun 2012. Penelitian-penelitian dan tanggul alami sudah dikerjakan di sana. Seorang gubernur di Maluku bahkan sudah setuju menjadikan dam itu sifatnya permanen agar bisa dipakai untuk perikanan, tempat wisata, dan PLTA. Tapi apa yang terjadi? Karena curah hujan tinggi di daerah hulu, dam alam ini menjadi penuh. Sehingga meluap, dan melewati tanggul itu.

“Sedikit demi sedikit mengikis tanggul. Dan pada 25 Juli tahun 2013, dam itu jebol. Menghancurkan satu desa yang kita sebut Negeri Lima. Ada sekitar 5.000 penduduk di sana. Tiga orang meninggal,” tutur Lilik dalam acara literasi bencana di ruang teater Perpustakaan Nasional, Salemba, Jakarta Pusat, Senin (15/10/2018).

Korban pertama adalah seorang kiai yang mengajarkan anak-anak di sana mengaji tiap hari. Kiai ini mempunyai keyakinan bahwa dimanapun dia hidup, suatu hari akan meninggal juga. Cerita meninggalnya kiai ini mirip kisah Mbah Marijan -juru kunci Gunung Merapi.

Baca: BNPB: Literasi Bencana Kita Masih Minim

Jadi, pada saat sebelumnya BNPB melakukan rencana kontigensi dan melatih simulasi ke mana penduduk sekitar dam harus mengungsi, kiai ini sebenarnnya selalu ikut di situ. Ia selalu mengajak santri-santrinya untuk berlatih kemana mereka harus mengungsi jika akan terjadi bencana.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

“Tapi pada (hari kejadian) saat peringatan dini disampaikan, beliau malah masuk ke rumahnya dan mengunci pintunya. Beliau tidak keluar lagi. Sampai kemudian air itu mengenai rumahnya, dan rumahnya hilang bersama dengan beliau,” tutur Lilik.

Korban kedua, seorang pemuda yang ingin menyaksikan banjir bandang. Saking tingginya rasa ingin tahu si pemuda itu, ia sampai memanjat pohon kelapa untuk melihat banjir bandang. Tapi sialnya, banjir bandang itu menghanyutkan pohon kelapa itu dan dia pun ikut hanyut.

Korban ketiga, seorang bapak yang mencari anaknya. Ceritanya begini, setelah peringatan dini pertama, bapak ini mengungsi ke tempat yang aman. Tapi di tempat pengungsian, ia tidak menjumpai anaknya. Ia mencoba mencari anaknya hingga memutuskan kembali ke rumahnya untuk menemukan anaknya. Siapa tahu masih ada anaknya. Tapi celakanya, pada saat ia masuk ke rumahnya itu, banjir bandang datang menerjang. Dan ia pun meninggal.

Baca: IAGI Dorong Edukasi Bencana Masuk Kurikulum Pendidikan SD

Kejadian tanah longsor di Ponorogo, Jawa Timur, pada 1 April 2017 juga menyimpan banyak cerita. Sebulan sebelum kejadian, tanah itu memang sudah retak. Makin ke sini, retakan itu tambah besar. Lurah di sana sebenarnya sudah mengingatkan warga, jangan tinggal di situ. Karena ada satu desa di bawah bukit itu yang akan longsor.

Tapi peringatan itu dianggap angin lalu oleh warga. Mereka memilih bertahan di situ karena pada hari H, cuacanya cerah. Kalau kemarin-kemarin, hujan turun saban hari. Karena cuacanya cerah, warga di sana memutuskan untuk memanen jahe yang ada di sekitar rumah mereka. Mereka juga mengajak saudara-saudara dari luar desa mereka untuk ikut memanen jahe. Tak dinyana, jam delapan pagi kurang sedikit, terjadilah longsor. Akibatnya lebih dari 50 orang tertimbun di situ.

Ada juga cerita seorang anak yang terselamatkan dari tanah longsor karena beruntung. Jadi, pada saat memanen jahe bersama orangtuanya, karung tempat jahenya sudah penuh, sehingga si anak disuruh mengambil karung baru di rumahnya yang aman dari bencana itu. Pada saat dia kembali ke tempat tadi, orangtuanya sudah tertimbun longsor.

Korban lainnya, seorang bapak yang malamnya ronda di lokasi. Ia tertidur di gardu ronda dan terkena longsor.

“Jadi literasi (bencana) itu tidak hanya sekadar menceritakan kejadian-kejadian yang sifatnya komunitas, tapi juga orang per orang yang menarik untuk kita lihat. Karena sebenarnya itu ada di sekitar kita,” pungkas Lilik.* Andi

Baca: Qurban BMH Bahagiakan Korban Bencana Gempa Lombok

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:banjirbencanaBNPBliterasi bencanamitigasi bencanapenanggulangan bencanatanah longsor
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bencana: Antara Fenomena Alam dan Iman
Tulisan selanjutnya Tak Ingin Ganggu Kesepakatan Turki – Rusia, HTS akan Tetap Pilih Jalan Jihad

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Feature
30 Mei 2026 17:30
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Terbaru

  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?