Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

5 Strategi Nabi Mengatasi Problem Anak

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 10 Desember 2018 13:16 1:16 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 Desember 2018 13:16
Bagikan
Ilustrasi: Keceriaan anak anak Palestina
Bagikan

SALAH satu problem krusial yang sering dihadapi guru dan orangtua adalah masalah pendidikan peserta atau anak didik. Terlebih, di zaman digital seperti sekarang ini, inovasi dan kreatifitas dalam mendidik siswa atau siswi menjadi keniscayaan jika menginginkan pendidikan yang sukses.

Sekitar 15 abad yang lalu, Rasulullah ﷺ . sudah memberikan teladan baik bagi para guru untuk mengatasi problem pendidikan anak-anak didiknya. Najib Khalid al-‘Amir dalam buku “Tarbiyah Rasulullah” (1996: 32-40) mengungkap strategi beliau dengan cukup lugas dalam mendidik murid.

Pertama, melalui teguran langsung. Suatu ketika, Umar bin Abi Salamah mengisahkan pengalaman masa kecilnya saat menjadi pembantu di rumah Rasulullah ﷺ . Waktu itu, Umar memiliki kebiasaan tidak baik ketika makan, yaitu: mengulurkan tangan ke berbagai penjuru.

Dengan lembut Nabi menegurnya, “Nak! Bacalah basmallah terlebih dahulu! Makanlah dengan tangan kanan dan mulailah dari yang di dekatmu!”  (HR. Bukhari, Muslim)

Dari riwayat itu, mengandung beberapa nilai tarbawi atau pendidikan yang patut diteladani, di antaranya: beliau meluangkan waktu untuk makan bersama anak-anak, sehingga bisa mempererat hubungan batin dengan mereka; sebelum itu menjadi kebiasaan buruk, beliau menegur dengan teguran yang halus sehingga tak menyakiti sang anak.

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

Baca: Akhlak Nabi Muhammad kepada Anak-anak

Selain itu, beliau juga memanggilnya dengan panggilan kasih sayang sehingga Umar bin Salamah merasa nyaman sebelum diberi teguran. Lebih dari itu, beliau tak sekadar menegur tapi juga mengajarkan adab-adab makan yang benar sehingga bisa dicontoh secara langsungsung. Yang tak kalah penting, diksi yang dipakai dalam menegur anak dipilih dengan sangat tepat.

Nasihat yang demikian mengesankan itu begitu tertanam pada jiwa Umar bin Abi Salamah serta menimbulkan kesan mendalam. Sampai-sampai, hingga dewasa pun cara makannya persis seperti yang dinasihatkan Rasulullah kepadanya.

Kedua, sindiran. Bila teguran secara langsung tidak efektif, bisa juga dengan menggunakan sindiran. Saat ada beberapa sahabatnya yang berlebihan ingin mencontoh Rasulullah sehingga melahirkan sikap ekstrim, seperti: shalat malam seperti Nabi dan tak akan tidur, puasa selamanya, tidak akan nikah.

Dalam sebuah forum, beliau menyampaikan sindiran, “Apa keinginan kaum yang menginginkan begini dan begitu? Sesungguhnya aku shalat dan tidur, aku berpuasa dan berbuka, dan aku pun menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak senang dengan sunnahku, berarti dia bukan dari golonganku.” (Shahih Jami’ al-Shagir)

Melalui sindiran itu, wibawah anak didiknya bisa terjaga dan tidak merasa rendah diri atau malu di hadapan teman-teman. Di samping itu, fungsi untuk meluruskan dan menegur anak bisa berjalan dengan baik tanpai menyakiti.

Baca:Begini Interaksi Nabi Bersama Anak dan Cucu

Ketiga, celaan. Kadang-kadang di lapangan pendidikan, teguran dan sindiran ketika tak mampu mengatasi problem anak didirk, maka diperlukan cara lain misalkan mencelanya secara proporsional.

Suatu ketika, Rasulullah ﷺ . mencela Abu Dzar al-Ghifari, “Wahai Abu Dzar! Apakah engkau telah mempermalukannya dengan menyebut nama ibunya?  Sesungguhnya pada dirimu masih melekat sifat jahiliyah.” (HR. Bukhari) Celaan itu diarahkan Nabi kepada Abu Dzar karena ia telah memaki seseorang dengan menyebut nama ibunya sehingga membuatnya malu.

Hal itu dilakukan Nabi agar perilaku buruk (caci-maki)itu tidak menjadi kebiasaan. Selain itu, agar tidak timbul rasa takabur dan dengki pada diri Abu Dzar yang berefek merasa lebih baik dari orang lain yang dicerca. Lebih penting dari itu, konflik fisik pun bisa dihindarkan sejak dini antar anak didik.

Keempat, pemutusan hubungan dari jamaah. Jika peneguran secara langsung, sindiran dan celaan belum efektif, maka “pemutusan” (sementara) hubungan dari jamaah bisa dilakukan. Saat Ka’ab bin Malik ra. tidak ikut perang Tabuk, sanksi yang diberikan Rasulullah ﷺ . padanya adalah Nabi melarang para sahabat berbicara dengannya sampai 50 malam dan pemutusan hubungan (HR. Bukhari)

Pada peristiwa itu ada nilai pendidikan penting. Orang yang diputus sementara hubungannya, bisa membuatnya sadar akan kesalahannya. Selain itu, pemutusan hubungan juga menanamkan betapa berartinya jamaah bagi individu. Lebih dari itu, bisa dijadikan sebagai tolak ukur kedisiplinan anak didik kepada guru atau orangtua.

Kelima, pemukulan. Dalam hadits riwayat Abu Dawud dan Hakim ada perintah kepada orangtua agar menyuruh anaknya shalat saat berusia 7 tahun. Ketika sudah berumur 10 tahun tidak shalat, maka diperintahkan ‘memukul’ anak.

Baca:  Tiga Tujuan Utama Pendidikan Islam

Pemukulan di sini bukan membabi buta dan membekas pada anak. Pemukulan di sini adalah proporsional sekadar untuk mengingatkan. Namun, pada kenyataannya sekarang, di tengah iklim pendidikan yang terlalu berlebihan menyikapi HAM, maka tindakan pemukulan oleh orangtua atau guru dianggap sebagai tindakan kriminal.

Akibatnya, ada beberapa guru yang harus meringkuk di jeruji besi akibat hukuman pemukulan yang dilakukan. Padahal, berkaca pada pendidikan di masa lalu yang melahirkan tokoh-tokoh besar, cara-cara pemukulan dalam batas kewajaran adalah bagian dari metode untuk mendisiplinkan murid.

Menyikapi hukuman pemukulan secara berlebihan hingga menafikannya sama sekali, akan menimbulkan dampak negatif pada mental anak. Selain cengeng, mereka akan menjadi anak didik yang rapuh secara mental, susah disiplin dan gampang jatuh semangatnya.

Untuk hukuman semacam ini Nabi bahkan pernah bersabda: “Gantunglah cemeti (cambuk) agar keluarganya tahu. Karena yang demikian adalah pelajaran bagi mereka.” Atau dalam hadits lain, “Dan gantunglah cemeti agar keluarganya tahu.” (HR. Thabrani)

Dari kelima cara itu sifatnya bisa fleksibel sesuai dengan kebutuhan dan bentuk kesalahan yang dilakukan anak. Pada intinya itu adalah di antara langkah untuk membetulkan dan meluruskan anak yang merupakan salah satu arti dari tarbiyah (pendidikan).*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:anakcambukcemetiguruhukumanNabiorangtuaPendidikan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Gadis ‘Kaki Kaleng’ Suriah Akhirnya Hidup seperti Anak Lain
Tulisan selanjutnya Permintaan Izin Kepemilikan Senjata di Jerman Meningkat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Berita
2 Juni 2026 18:00
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?