Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Jujur yang Membinasakan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Desember 2018 06:00 6:00 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Desember 2018 05:42
Bagikan
Ilustrasi.
Bagikan

“Adakah kejujuran yang buruk?”

Bila pertanyaan di atas dikedepankan kepada khalayak, mungkin secara serempak akan menggelngkan kepala. Atau membantah dengan kalimat tegas; “Tidak ada!”

Respon demikian itu bisa dimaklumi. Sebab,pemahaman umum, jujur perilaku mulia. Bahkan menjadi satu kunci keberhasilan dalam menggapai kesuksesan.

Lebih dari itu, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan al-Bukhari, dijelaskan, bahwa jujur menjadi salah satu karakter pembeda antara orang beriman dengan orang munafik.

Jadi, bagaimana ia kemudian bisa bermetaforfosa menjadi sifat buruk?

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

Baca:Menjaga sikap Jujur 

Dalam buku ‘Untaian Nasehat Imam al-Ghozali’ jilid 2, dituangkan sebuah pertanyaan di ataskepada seorang bijak. Maka, terhadap pertanyaan itu ia menjawab; “(Jujur yang buruk itu adalah) memuji diri sendiri.”

Menarik untuk menyelami pernyataan tersebut. Tentang, mengapa hal itu bisa terjadi?

Karaktermelekat pada orang yang gemar memuji diri sendiri, akan mudah merendahkan orang lain. Karena dengan satu tarikan nafas, ia sedang memposisikan dirinya di atas, dan orang lain di bawahnya. Bahkan, bukan mustahil merasa paling hebat.

Umpama, merasa paling berkuasa, bila memiliki kekuasaan. Merasa paling kaya, bila memiliki harta benda. Merasa paling pandai, bila memiliki kepintaran. Sikap-sikap macam inilah sejatinya yang menjadi penumbuh subur kesombongan dalam diri.

Firman Allah dalam al-Qur’an; “Sekali-sekali tidak! Sungguh manusia itu benar-benar melampaui batas. Apabila melihat dirinya serba cukup.” (al-‘Alaq: 6-7)

Baca:Jujur dalam Sejarah

Potensi yang lebih parah, orang yang gemar memuji diri sendiri, akan melupakan keterlibatan Allah di balik kesuksesan yang digapai. Pikirnya, bahwa segala keberhasilan yang diraih, itu tak lain berkat kehebatan diri menguasai berbagai disiplin ilmu atau pun keterampilan.

Itulah yang terjadi pada dua sosok yang Allah jadikan simbol keangkuhan umat manusia; Fir’aun dan Qarun. Sosok pertama; gemar memuji diri sendiri, karena merasa paling berkuasa di muka bumi.

Dengan segenap kekuasaan yang dipegang, Fir’aun tidak hanya memuji diri sebagai raja hebat, bahkan Tuhan pun dikerdilkan. Pendeglarasian diri sebagai tuhan yang maha tinggi, merupakan puncak pemujian yang pernah dilakukan manusia.

Penobatan diri itu pun Allah abadikan dalam al-Qur’an, sebagai pelajaran bagi manusia setelahnya. Allah berfirman; “Maka Fir’aun berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (al-Naazi’aat: 24)

Lalu bagaimana dengan Qarun? Seperti kata kid zaman now; ‘Sebela-dua belas’ dengan Fir’aun. Artinya sama. Bedanya pada instrumen yang menjadi latar pemujian diri. Kalau Fir’aun dengan kekuasaan. Maka Qarun dengan ilmu yang dikuasi.

Baca: Lebih Cerdas dengan Berkata Jujur 

Ia yang semulanya hidup melarat, kemudian Allah anugerahi harta yang melimpah-ruah melalui perantara ilmu/keterampilan yang dimiliki, menjadikannya sombong dan lalai. Sehingga ketika diingatkan menunaikan kewajiban yang telah ditetapkan Allah ia enggan, dan berseloroh bahwa semua kesuksesan yang dicapai, semata berkat ilmu dan kesungguhan bekerja yang dimiliki.

Allah berfirman dalam al-Qur’an; “Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa, tetapi dia berlaku zhalim terhadap mereka, dan kami telang menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat.  (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya; “Janganlah engkau terlalu bangga. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri.” (al-Qashash: 76)

Terhadap seruan itu, Qarun menjawab; “Dia (Qarun) berkata, “Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku..” (al-Qashah: 78)

Akhir hidup dari ‘dua tokoh’ penggemar memuji diri sendiri ini pun sangat tragis dan hina. Fir’aun ditenggelamkan di laut merah bersama pasukannya. Sedangkan Qarun ditenggelamkan ke perut bumi beserta dengan harta benda yang dimiliki.

Baca:  Surga Tempat Pedagang Jujur

Sikap  Selamat

 Kalau jujur dalam mengakui kebaikan pribadi itu membinasakan, maka bisa disimpulkandengan menggunakan pemahaman kebalikannya (mafhum mukhalafah), bahwa dengan bersikap jujursecara kebalikannya, mengakui kelemahan diri, itu akan membawa keselamatan.

Dan sejatinya itulah hakekat manusia. Penuh kelemahan (dho’if). Mudah melakukan kesalahan (al-khatha’). Serta akrab dengan kelalaian (al-nisyan). Karena itu ia tidak pantas sama sekali menyandang pujian. Apa lagi memuji-muji diri sendiri.

Karena itu, Allah pun mengingatkan dengan tegas, agar kaum muslimin tidak terjerembab dalam kubangan ini. Firman-Nya, “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (an-Najm: 32)

Mengomentari ayat ini, Imam al-Ghazali mengatakan; “Janganlah engkau suka memuji diri sendiri. Ketahuilah, itu akan menurunkan derajatmu di mata manusia dan mendatangkan murka Allah swt terhadapmu.”

Setali tiga uang, mengingat bahaya laten yang mengiringi puja-puji diri ini, Rasulullah saw juga berwasiat dengan tegas, melalui sabdanya;

“Jauhilah olehmu saling memuji, karena itu berarti penyembelihan.” (HR. Ibnu Majah)

Baca:  Jujur: Tips Manjur Menuju Hidup “Makmur” 

Mencari jalanselamat, maka langkah ini pulalah yang ditapaki oleh orang-orang sholih/ah terdahulu. Mereka menjauhi puja-puji diri sendiri. Bahkan tidak menyenangi pujian dari orang lain. Misal, Imam Nawawi. Beliau pernah berujar; “Aku tidak akan memaafkan orang yang menggelariku ‘muhyiddin’(orang yang menghidupkan agama).”

Ini adalah sebuah ungkapan yang menunjukkan akan ketawadu’an beliau, dan kehati-hatian di balik puja-puji yang didapat. Padahal, secara kualitas keilmuan, beliau sangat luar biasa. Mampu mengarang puluhan kitab berkualitas, dalam usia masih muda. Mencerminkan keluasan dan kedalaman ilmu serta wawasan yang miliki.

Berkomentar Abul Abbas bin Faraj, “Syaikh (an-Nawawi) telah berhasil berhasil meraih tiga tingkatan yang mana satu tingkatannya saja orang biasa berusaha untuk meraihnya, tentu akan merasa sulit. Tingkatan pertama adalah ilmu (yang dalam dan luas). Tingkatan kedua adalah zuhud. Dan tingkatan ketiga adalah keberanian dan kepiawaiannya dalam beramar ma’ruf- nahi munkar.”

Sampai di sini, sebagai bahan intropeksi ; Kejujuran yang manakah selama ini lebih mendominasi diri; Yang menyelamatkan, atau justru membinasakan? Wallahu ‘alamu Bish-Shawab.*/Khairul Hibri, Pengasuh STAI Luqman al-Hakim, Surabaya, dan kordinator PENA Jatim

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:amal shalihberkata benarbohongjujur
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya FoZ Akan Gelar Indonesia Zakat Summit 2018
Tulisan selanjutnya Bangsa Bermata Sipit dan Tanda Akhir Zaman

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik

Berita
13 Juli 2026 17:00
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?