Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Peneliti Ungkap Data Intoleransi di Daerah Minoritas Muslim

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 Desember 2018 21:20 9:20 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 Desember 2018 21:20
Bagikan
Peneliti Sophie, Heru Susetyo (tengah) pada diskusi publik bertemakan "Politik Identitas dan Intoleransi di Wilayah Muslim sebagai Minoritas" pada Kamis (20/12/2018) di Cikini, Jakarta.
Bagikan

Hidayatullah.com– Pada Oktober-November tahun ini, peneliti Social Policy and Human Right Institute (Sophie) -Heru Susetyo, salah satunya- melakukan studi soal kebebasan beragama dan penodaan agama di Indonesia. Tentang bagaimana pengalaman minoritas Muslim di Indonesia di empat provinsi yakni Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Utara (Sulut), dan Papua.

Heru menjelaskan, laporan studi ini belum sampai pada kesimpulan. Masih 75 %. Analisisnya juga belum rampung. Sehingga presentasinya lebih banyak memaparkan data-data di empat provinsi itu.

Studi ini, terangnya, berangkat dari banyaknya laporan mengenai kebebasan beragama di Indonesia yang menganggap kelompok Muslim mayoritas intoleran dan banyak menekan agama-agama minoritas di daerah-daerah tertentu, serta menekan kelompok minoritas non-Sunni (yaitu Syiah dan Ahmadiyah).

Baca: Lika-liku Ketua Takmir Masjid Pedalaman Minoritas Muslim

“Sebaliknya, laporan-laporan tersebut tidak turut mengupas kondisi sebaliknya, yaitu ketika Muslim Indonesia sebagai minoritas di daerah tertentu di Indonesia yang juga mengalami marjinalisasi ataupun diskriminasi.

Padahal, tidak sedikit kasus-kasus terjadinya marjinalisasi dan diskriminasi terhadap Muslim Indonesia, ketika menjadi minoritas di provinsi atau di kabupaten/ kota tertentu,” ujarnya dalam diskusi publik bertemakan “Politik Identitas dan Intoleransi di Wilayah Muslim sebagai Minoritas” pada Kamis (20/12/2018) di Cikini, Jakarta, gelaran Dompet Dhuafa bekerja sama dengan Sophie.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Di Bali, kata Heru, kadang masih ada larangan penggunaan Jilbab, terutama di sekolah-sekolah. Larangan adzan juga masih ada. Namun tidak terlalu dibesar-besarkan masyarakat Islam di Bali.

Baca: Ditengarai Masih Puluhan Kasus Pelarangan Jilbab Pelajar di Provinsi Bali

Hambatan pembangunan masjid terjadi di kota besar. Di kota Denpasar, hanya ada 28 masjid yang terbangun. Kebebasan berbusana dalam kehidupan sehari-hari tidak ada masalah. Masyarakat dapat menggunakan pakaian Muslim ketika berpergian. Hanya saja dari keterangan para tokoh, masih ada beberapa sekolah maupun perkantoran yang melarang untuk menggunakan jilbab.

“Namun umumnya, masyarakat Muslim Bali tidak memiliki masalah yang cukup serius dalam bersosialisasi,” kata Heru.

Kemudian di NTT. Di sana, tuturnya, umat Islam sangat merasakan hambatan-hambatan terhadap kebebasan mereka dalam melaksanakan peribadatan.

“Penghambatan dalam pembangunan masjid kerap terjadi. Seperti pembangunan Masjid Nur Musafir di Kupang, masjid di Naibonat, Labuan Bajo, Soe, dan Ende,” ungkapnya.

Baca: Kagum Akhlak Muslimah, Gadis NTT Masuk Islam di Malaysia

Selain itu, tambah Heru, tidak ada pemisahan jamuan halal dan haram saat acara-acara warga, ternak hewan haram yang ada di sekitar masyarakat Muslim, pernah terjadi kasus pelarangan penggunaan jilbab di sekolah maupun perkantoran, Muslim NTT sulit dalam mendapatkan produk daging halal, dan lain sebagainya.

Tapi secara umum, kata Heru, tidak ada gesekan berupa perkelahian yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat.

”Seorang imam Hidayatullah (di NTT) mengatakan ‘kenapa Provinsi NTT bisa dikatakan damai? Karena minoritas mengalah sehingga tidak ada masalah. Kami minoritas tahu diri-lah, tidak usah berharap banyak’,” tutur Heru.

Baca: Habib Hanif Alatas dan Habib Bahar Diadang di Bandara Manado

Di Sulawesi Utara, lanjutnya, sulit membangun masjid dan sarana ibadah. Program penyebaran agama lain dilakukan secara masif di sana. Makanan halal juga sulit didapatkan, dan lain sebagainya.

Terakhir di Papua. Heru menuturkan, penyediaan guru untuk pelajaran agama Islam di sekolah negeri baru ada di tingkat Sekolah Menengah Atas. Sedangkan Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Dasar tidak merata.

Rumah ibadah sangat jarang ditemui di fasilitas publik, seperti kantor, sekolah/universitas, instansi pemerintahan. Beberapa kasus penolakan pembangunan rumah ibadah yang masih saja terjadi. Kemudian tingginya biaya pemakaman untuk Muslim. “Biaya mencapai 10-15 juta rupiah,” sebutnya.

Baca: Persekutuan Gereja di Papua Persoalkan Menara Masjid, Adzan, dan Busana Keagamaan

Di sana tanah langka yang mau dipakai untuk memakamkan jenazah Muslim. Proses wakaf tanah untuk pemakaman pun mahal dan dipersulit pemilik tanah.

“Penduduk Muslim di Papua cenderung mengalah dan menjauhkan konflik bila terjadi permasalahan dalam kehidupan beragama.”* Andi

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:BaliHeru Susetyointoleranintoleransikerukunan beragamamanadominoritas MuslimNTTPapuaSocial Policy and Human Right InstituteSophieSulut
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menjelajah Kampung Seratus Rambu [3]
Tulisan selanjutnya Amnesty: Diskriminasi China Terhadap Uighur Tak Bisa Dibantah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Berita
31 Mei 2026 19:39
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Terbaru

  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?