Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Worldview Baru Islam?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 Maret 2019 13:48 1:48 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 13 Maret 2019 10:00
Bagikan
Bagikan

“Status pertama dalam sebuah negara tidak lagi hanya agama (ummat; religious affiliation), melainkan kewarganegaraan (citizenship). Semua pemeluk agama yang berbeda-beda mendapatkan hak dan kewajiban yang sama dalam sebuah negara. Konstitusi bernegara (the idea of constitution) lebih mengemuka dan penting didiskusikan daripada ide negara Islam atau Kristen.” (Dr. Amin Abdullah dalam buku Islam Nusantara: Dari Ushul Fiqh hingga Paham Kebangsaan)

 

Oleh: Muhamad Ridwan

 

PERNYATAAN Prof. Dr. Amin Abdullah ditulis dalam buku Islam Nusantara: Dari Ushul Fiqh hingga Paham Kebangsaan. Dalam fikih kewargaan hasil rumusannya ini dikatakan bahwa perihal formalisasi syari’ah sudah tidak relevan lagi untuk diangkat di zaman modern ini. Dengan begitu, pemahaman kewarganegaraan atau nasionalisme lebih utama dan terpisah daripada agama.

Untuk lebih menjelaskannya lagi, kemudian Ia mengutip pendapat dari Tariq Ramadan bahwa identitas keislaman harus melebur dalam identitas nasional. Menurutnya, istilah yang tepat untuk sebutan fenomena demografis yang baru ini bukan lagi Islam di Indonesia (Islam in Indonesia), tetapi lebih tepat disebut Islam-Indonesia (Indonesian Muslim). Bukan Muslim in Europe, tetapi European Muslim.

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Dalam buku yang memuat tulisan dari Gus Dur, Nurcholis Madjid, Said Aqil Siroj, Azyumardi Azra, Yahya C. Staquf, Abdul Moqsith Ghazali, Husein Muhammad, dan lainnya ini, Amin Abdullah menyeru umat Muslim agar memeluk Worldview (pandangan hidup) yang baru, yakni worldview keagamaan Islam era kontemporer.

Karena, katanya, dalam menghadapi kehidupan kontemporer, masa lalu (al-Turats) tetap diperlukan, namun diperlukan juga pergeseran paradigma (al-Haditsah) alias pemikiran keagamaan Islam baru yang disesuaikan dengan konteks zaman sekarang ini.

Penggantian istilah yang ramai belakangan ini boleh jadi adalah merupakan salah satu langkah untuk menuju worldview yang baru ini. Bukankah menurut Wilhelm Humboldt istilah atau bahasa itu adalah merupakan cerminan, wakil, dan memengaruhi pandangan hidup seseorang atau suatu bangsa?.

Selain fikih kewargaan, ia juga mengemukakan lagi beberapa perubahan dan pembaharuan pada cara pandang Islam. Diantaranya adalah fikih sosial yang melihat peran individu atau kelompok dalam proses bermasyarakat dan bernegara (negara bangsa; nation states) secara universal, general, atau umum.

Baca:  Belajar Worldview Dari Hamid Fahmy Zarkasyi 

Fikih tidak lagi terfokus pada apa yang selama ini dipelajari dan ditekankan dalam ushul fiqh, namun ada pergeseran paradigma dan perluasan ruang lingkup maqashid yang katanya, meminjam istilah dari Jasser Auda, menjangkau general maqashid (HAM, kebebasan beragama, berpendapat, berserikat, keadilan bagi seluruh umat manusia) yang dinilainya “objektif” terlepas dari selubung-selubung bahasa, ideologi, mitos, hukum dan aturan perundang-undangan, bertransformasi dari theocentric kepada anthropocentric ala humanisme-eksistensialisme. Artinya, makna HAM, kebebasan dan keadilan dalam general maqashid tersebut tergantung kepada manusia, bukan kepada Tuhan. Padahal, Islam telah memiliki worldview atau pandangannya sendiri tentang hal-hal tersebut dan kita tidak mendikotomikan antara subjektif dengan objektif.

Lalu perihal wanita, Amin Abdullah mempermasalahkan sistem patriarki dalam ranah sosial-politik dan profesi apa pun, warisan, saksi, perwalian, jilbab, hakim wanita, dan sebagainya hingga soal poligami.

Selain itu, ia juga mengusulkan dialog antaragama yang tujuannya bukan untuk mencari agama mana yang benar, melainkan hanya untuk membicarakan tentang kemanusiaan dan mencari “kebenaran universal”. Soal kemanusiaan, ia merujuk kepada M. Arkoun, Fazlur Rahman, Fethullah Gulen, Tariq Ramadan, dan lainnya. Mereka semua dikenal dengan pemikirannya yang sekuler-liberal.

Hal lain yang ia tekankan adalah soal keterbukaan selebar-lebarnya terhadap ilmu-ilmu modern yang notabene telah dibangun di atas worldview Barat yang bertentangan dengan Islam lalu menggabungkannya dengan persoalan agama, khususnya ijtihad.

Dan menurutnya, antara wahyu dan tafsir harus didikotomikan; sifat wahyu itu mutlak, sedangkan tafsir dianggap relatif semuanya. Ia memberikan rujukan kepada Abdul Karim Sorous dengan pembedaan antara wahyu dengan pemahaman atau penafsirannya, Fazlur Rahman dengan teori double movement-nya, Nasr Hamid Abu Zaid dengan “pencarian makna saat ini”-nya, Abdullah Saeed dengan asbabun nuzul qadim dan asbabun nuzul jadid-nya.

Padahal, dalam penafsiran wahyu memang ada hal-hal yang relatif atau terdapat perbedaan, namun ada juga yang disepakati yang nilai kebenarannya mutlak seperti wahyu itu sendiri. Jadi antara wahyu dengan penafsiran tidaklah bersifat dikotomis antara mutlaknya teks dan relatifnya tafsir manusia. Justru keduanya saling berkaitan karena kesepakatan ulama itu adalah ungkapan kebenaran dari wahyu itu sendiri. Jadi, tafsiran mengenai sesuatu dan telah disepakati oleh ulama itu bernilai mutlak dan tidak bisa diubah seenaknya.

Baca:  Islamic Worldview dan Peradaban Islam 

Cukup Worldview Islam

Gagasan tentang “worldview baru” di atas sebenarnya telah lama diantisipasi oleh Syed Muhammad Naquib Al-Attas pada jauh-jauh hari sebelumnya. Ia menerangkan bahwa sebenarnya tidak ada perubahan atau pergeseran paradigma (paradigm shift) pada elemen-elemen pokok dari worldview Islam.

Ciri dari worldview Islam itu adalah otentik, final (tidak ada penambahan maupun pengurangan), merujuk kepada sesuatu yang ultimate (mutakhir), memproyeksikan realitas dan kebenaran, meliputi kewujudan dan kehidupan kita dalam pandangan yg menyeluruh.

Elemen-elemen dasar dalam worldview ini adalah mapan atau permanen. Ia bukanlah paradigma yang menurut Thomas S. Kuhn, selalu mengalami krisis dan berubah. Apabila paradigma tidak berubah,  maka suatu budaya akan menjadi kusam tak menarik. Oleh karena itu, worldview Islam mesti berubah juga, katanya lagi. Inilah yang persis dinyatakan oleh Amin Abdullah dalam buku Islam Nusantara itu.

Namun, kata Syed al-Attas, worldview itu tidak berubah dan tidak tepat apabila disamakan dengan paradigma karena .

Dalam Islam, perubahan dan pembaharuan itu memang ada, tetapi bukan pada worldview pokoknya, melainkan pada aspek-aspek atau tafsiran-tafsirannya serta tingkatan-tingkatan dalam memahaminya (intensification of meaning) yang merupakan ambience (suasana) yang mengelilingi worldview Islam, jelas Dr. Ugi Suharto, salah seorang murid langsung dari Profesor Syed Muhammad Naquib Al-Attas.

Baca:  Pandangan Alam Islam Merespon Pemikiran Kontemporer Barat

Misalnya, semua Muslim itu bertauhid atau mengesakan Allah Swt. Tapi bagaimanakah esanya Allah? Dalam hal ini setiap Muslim level pemahamannya berlainan, tergantung kepada kapasitas keruhanian juga kapasitas akalnya. Makna keesaan Allah biasanya diperbincangkan secara mendalam pada ilmu tauhid. Itulah contoh tajdid atau pembaharuan dan pengembangan dalam Islam, dalam arti bukan pengubahan seperti yang digagas oleh Amin Abdullah, melainkan pendalaman dan penguraian makna-maknanya.

Jadi, worldview yang mendasar dan sebagai sumber serta induknya tidaklah mengalami pembaharuan ataupun pengembangan hingga kiamat. Islam telah sempurna sejak diturunkan:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (Surat al-Maidah: 3).

Oleh karena itu,  kita perlu ubah, perbaiki dan perbaharui worldview kita, tapi kepada worldview yang benar kalau memang sebelumnya berpegang  pada yang salah. Worldview baru era kontemporer itu keliru dan tidak dibutuhkan karena worldview Islam sejak mulanya telah berlaku juga untuk era kontemporer, bahkan hingga akhir zaman.*

Pendidikan: Alumni PAAP Unpad, Alumni Ma’had al-Imarat Bandung, mahasiswa STAIPI Bandung. Instagram: @muhamad.rdwn

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Amin AbdullahIslam kontemporerpandangan hidupSyed Muhammad Naquib al-Attaswahyuworldview
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bimas Islam: Anak-Remaja Penting dalam Pembinaan berbasis Masjid
Tulisan selanjutnya LPPOM Terbuka bagi UMKM untuk Sertifikasi Halal Produk

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Berita
30 Mei 2026 13:05
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?